07 - trip - ada cara lain untuk menyembuhkan selain obat.
Langit berlari menghampiri Darin ketika si gadis kesulitan membawa koper bersama ransel jeans yang disampirkan sebelah bahu si gadis. Darin menolak dijemput olehnya. Gadis itu ingin bertemu di stasiun saja. Langit merasa tidak berguna sebagai laki-laki jika Darin sudah berkehendak. Hingga-hingga sebelum pagi menjelang, perdebatan antara Langit bersama Darin dihabiskan selama tiga jam.
Keras kepala dan pemaksa bila disatukan memang rumit.
"Pagi buta tadi sudah nawarin mau jemput, tapi ditolak, sekarang susah sendiri kan bawa koper segede ini," omel Langit menarik koper, sementara yang terkena omelan diam saja tak mau mengambil pusing.
Langit membalikan tubuh menunggu gadis kura-kura berjalan lamban di belakang. "Ayo cantik, nanti ketinggalan kereta," katanya, sembari menuju loket melakukan pengecekan tiket.
°°°
"Mau?" Darin menawarkan kepada Langit, usai mengeluarkan kotak makan berukuran mini, berisi roti lapis yang hanya diisi sosis dan salada, juga sekotak susu.
"Sudah izin sama orang rumah seminggu di Jakarta?" Langit berkata sambil mengambil potongan roti lapis dari Darin.
Darin tersenyum tipis. "I'm past my teenage years Kal, ever since i got my ID and became a citizen of this country. I don't need to ask for permission. Jadi izin atau tidak, aku tetap bisa ke mana aja," jawab Darin santai sedang menusuk sedotan ke dalam kemasan susu. Netra Darin beralih memandang kaca mendengar dari speaker di setiap gerbong pemberitahuan kereta akan segera berangkat.
Langit sedikit lupa bila perempuan di sampingnya memiliki keturunan Eropa. Didikan mereka jelas berbeda. Walau Langit sendiri semenjak lulus SMA sudah tidak ada izin perizinan untuk melakukan sesuatu atau berpergian ke tempat ia tuju.
"Berarti ngga kasih tau bokap?"
Kepala si gadis bersicepat menoleh tatapan dilayangkan kepadanya terlihat ragu dan curiga. Langit jadi gugup juga takut. Maka buru-buru ia berbicara sebelum disela oleh si gadis. "Pasti belum kasih tau, ya?" Tanyanya sengaja memberi nada ejek. "Bandel dari dulu ternyata, keras kepala lagi. Jangan-jangan waktu sekolah langganan ruang BK?" Kemudian Langit agak lega saat Darin tampak santai kembali dengan meminum susu kemasan.
"Jangan salah, murid teladan dulu aku, murid kesayangan guru." Bolehkah Darin menyombongkan diri.
"Halah, ngga perlu bohong bilang anak teladan." Langit membalas. Menggoda dengan mengajak debat adalah keahliannya.
"Do I look like a bad girl, huh? Cantik begini. Kalau kamu baru kelihatan anak nakal, cover mirip murid yang rajin tawuran." Over pede tidak mengapa Darin tunjukan ke Langit. Darin pula memamerkan senyum kemudian kembali menyedot minuman pagi harinya.
Langit segera menampik. "Don't judge a book by it's a cover."
"Oke, calm down." Darin tertawa kecil meski tidak lucu sama sekali mendapati Langit menampakan kesal. Darin tidak menyangka telah membuat lelaki di sebelahnya merengut. "Padahal bercanda."
"I'm also kidding," balas Langit.
Butuh waktu berjam-jam untuk tiba di stasiun Pasar Senen. Udara disekeliling bercampur canda tawa dari suara yang sedang diusahakan Langit untuk dikecilkan. Langit tidak mau menjadi penumpang yang menganggu kenyamanan orang lain. Yang bayar tiket tidak hanya Langit, mana mungkin Langit egois akan bahagianya mengajak Darin berlibur dengan suara tawa besarnya.
Usai tiga puluh menit waktu telah menyeret lelah, Langit bersama Darin memainkan game melalui smartphone Langit. Sahut bersahut Langit lemparkan rasa gemas melihat cara bermain Darin yang menurutnya masih payah. Tampak kagok-kagok jarinya tetapi begitu berani melawan musuh yang bagi Langit akan susah dilawan oleh pemain amatir macam si gadis.

KAMU SEDANG MEMBACA
Cerita Satu Minggu Jakarta
Teen FictionRomansa metropolitan// Langit tidak selalu menampakan cerahnya, terkadang langit memunculkan awan mendung menemani manusia penuh harap. Seperti Langit Sangkala, ia menunjukan kalau laki-laki tidak selalu kuat, sebagai laki-laki juga bisa rapuh, juga...