Epilog

263 15 0
                                    

Bagaimana aku harus menggambarkan perasaanku saat ini? Ini bukanlah kali pertama pernikahanku. Aku pernah merasakan duduk di pelaminan sebagai pengantin. Aku juga pernah merasakan yang namanya resepsi pernikahan. Kendati begitu, rasa bahagia, terharu, dan sedih bercampur menjadi satu. Aku kembali merasakan perasaan itu meskipun ini pernikahanku yang kedua kalinya setelah enam tahun lamanya aku berpisah dengan pak Ramdan.

Aku mencium punggung tangan lelaki yang kini telah sah menjadi suamiku. Kami saling bertatapan satu sama lain usai aku mencium punggung tangannya. Lelaki itu tersenyum bahagia. Melihatnya tersenyum, aku ikut tersenyum.

Jujur, aku masih tidak menyangka bahwa aku akan menikah dengan Radit, lelaki yang sebelumnya pernah aku tolak lamarannya. Lelaki yang ternyata sangat sabar menanti diriku. Ternyata benar, jika Allah telah berkehendak untuk menjadikan kami saling berjodoh, bagaimanapun jalan yang membuat kami awalnya berpisah, mencari jalannya masing-masing, maka akan dipertemukan lagi dan dipersatukan dalam suatu hubungan yang halal yaitu pernikahan.

Kami saling menandatangani buku nikah masing-masing dan bergantian. Selesai menandatangani buku nikah. Kami berfoto-foto. Acara akad dan resepsi pernikahan diberi jarak satu minggu. Akad kami diadakan secara sederhana di KUA. Yang menyaksikan pernikahan kami pun hanya kerabat dekat saja.

"Ibu senang kalian jadi suami istri. Radit anak yang baik. Semoga kamu dan Radit berbahagia. Jadi keluarga yang samawa. Walaupun sebenarnya ada sedikit harapan, kamu bisa kembali bersama dengan Ramdan. Kamu tetap anak ibu. Ibu ingin kamu bahagia," kata ibunya pak Ramdan sembari memelukku.

Aku membalas pelukannya. "Terima kasih karena sudah memperlakukan Rahma dengan baik dan telah dianggap sebagai anak sendiri," kataku.

Ibu pak Ramdan menguraikan pelukannya. Dia menatapku sambil tersenyum. Dia mengusap pipiku dengan lembut. Kini giliran orang tua dari Radit. Ibunya Radit memelukku. Sedangkan ayahnya memeluk Radit setelah ibunya pak Ramdan memeluk Radit.

"Terima kasih nak, karena sudah menjadi pendamping anak ibu. Semoga kalian berbahagia selalu. Jadi keluarga yang sakinah, mawadah, warrahmah," ucapnya sambil menguraikan pelukannya dan tersenyum.

"Aku yang seharusnya berterima kasih karena ibu dan ayah telah menerima aku sebagai dari bagian keluarga dan anak kalian," kataku dengan tulus.

Ibunya Radit yang telah menjadi ibu mertuaku, mengusap pipiku dengan lembut.

Sekarang giliran umi dan abi yang memeluk diriku. Aku menangis di dalam pelukan umi. Tangis bahagia yang aku tumpahkan di sana. Abi mengusap kepalaku dengan lembut. Beliau ikut meneteskan air mata.

"Semoga kamu dan Radit selalu bahagia. Jadi keluarga yang sakinah, mawadah, warrahmah. Abi dan umi akan selalu ada untuk kamu, Rahma. Kapan pun itu, pintu rumah selalu terbuka untuk kamu," kata abi. Aku mengangguk.

Umi menguraikan pelukannya dan membantuku mengusap air mataku yang membasahi kedua pipiku. "Tuh kan, make up kamu jadi luntur," katanya. Aku tertawa kecil.

"Radit. Saya titipkan anak saya ke kamu. Saya percaya kamu bisa membahagiakannya," ucap abi pada Radit.

"Tolong jaga Rahma baik-baik, nak. Sekarang Rahma tanggung jawab kamu. Jangan pernah buat dia nangis, ya?" kata umi.

"Baik abi, umi. Insya Allah, saya akan menjaga Rahma dengan baik dan akan membuatnya bahagia," kata Radit. Abi menepuk bahu Radit dan memeluknya sebentar.

Giliran Yumna pun tiba. Yumna langsung memelukku dengan erat. Aku membalas pelukannya. Yumna pun melepaskan pelukannya. "Akhirnya, Rahma. Semoga kalian bahagia selalu. Jangan lagi ada kesedihan atau tangisan, ya, Rahma," katanya. Lalu dia melihat ke arah Radit. "Awas lo kalau sampai bikin Rahma nangis. Bakalan abis lo sama kak Zaki," katanya.

Aku tertawa mendengarnya. Kak Zaki yang sedang menggendong bayinya pun ikut tertawa mendengar celoteh istrinya. Radit menimpalinya dengan tertawa kecil.

"Jaga Rahma dengan baik, ya, Dit. Lo tau sendiri kalau dia itu sok kuat, aslinya mah cengeng. Jangan Lo sakiti dia. Jangan jadi seperti laki-laki yang pernah datang ke kehidupannya," kata kak Zaki pada Radit.

"Iya, kak. Insya Allah. Saya akan berusaha selalu membahagiakannya," jawab Radit.

Aku tidak melihat keberadaan pak Ramdan. Padahal, tadi dia ikut menyaksikan ijab Qabul yang dilakukan oleh Radit. Tapi, setelah acara ijab Qabul selesai, dia sudah tidak berada di tempat. Hanya ada kedua anaknya saja yang kini datang menghampiriku dan Radit.

"Tante Rahma, om Radit. Semoga kalian bahagia selalu, ya. Aku ikut senang tante Rahma jadi istrinya om Radit," ucap Alfi.

"Ara juga ikut seneng walaupun Ara kepinginnya Tante Rahma menikah sama ayah. Jadi ibu kita," kata Ara. Aku hanya bisa tersenyum.

"Makasih, ya, Alfi, Ara," kata Radit. Ternyata dia juga bingung harus bagaimana menanggapi keduanya.

"Kak Rahma," panggil Fidzah. "Aku seneng kak Rahma sama kak Radit. Kak Radit orang yang paling baik. Kak Radit selalu traktir aku makanan," katanya.

"Oh, ya?" kataku sambil tersenyum. Dia mengangguk. Radit mencubit kedua pipi Fidzah dengan gemas. Aku tersenyum melihatnya.

Dalam hatiku, aku merasa beruntung bisa bersanding dengan laki-laki seperti Radit. Terima kasih, Dit, karena sudah memiliki sebagai istri dan menjadikan aku wanita yang istimewa dalam kehidupan kamu. Padahal aku masih memiliki banyak kekurangan dalam segala hal.

Bersanding Denganmu 2 ✔Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang