Bab 21

4.2K 608 189
                                    

HAPPY READING

Kini keempat wanita cantik itu duduk tepat di depan salah satu ruangan, sudah terhitung empat jam lebih mereka duduk dan tak mengeluarkan suara sedikit pun.

"Apa yang kalian lakukan disini?" tanya seseorang.

"Bukan urusan mu jalang." ucap Rose sambil menatap tajam Sooyoung.

Sooyoung hanya tersenyum licik lalu memeluk lengan Suho dengan sangat erat, seolah-olah memanas-manasi Irene dan ketiga anaknya. Irene, Jennie dan Rose tidak peduli dengan apa yang Suho dan Sooyoung lakukan tapi Lisa??

Mata indah itu terus menatap Suho yang sama sekali tidak melirik anak bungsunya. Jujur, Lisa sangat merindukan pelukan hangat dan sikap Suho yang selalu memanjakannya dulu tapi sekarang Daddy yang selalu memanjakannya dulu lebih memilih wanita lain.

"Dad, bisakah kita menghabiskan waktu bersama? Aku sangat merindukan Daddy, Daddy juga merindukan Lisa kan??" tanya Lisa lalu mencoba untuk memegang lengan Suho.

Tapi Sooyoung langsung menjauhkan Lisa dari lengan Suho.

"Mana mungkin Suho merindukan anaknya karena sebentar lagi dia akan memiliki anak dari ku dan akan melupakan diri mu." ucap Sooyoung.

Lisa hanya tersenyum mendengar ucapan Sooyoung, Lisa berharap Suho membantah apa yang Sooyoung katakan tapi Daddy nya itu hanya diam.

Perlahan Lisa menjauh dari Suho dan memilih mendekati Rose lalu menangis di pelukan kembaran nya itu. Irene dan Jennie pun terkejut saat Lisa menangis karena biasanya Lisa tidak akan peduli dengan perkataan siapa pun.

"Lebih baik kalian pergi." ucap Irene.

Suho pun langsung membawa Sooyoung pergi tapi langkah kaki mereka terhenti saat mendengar perkataan Jennie.

"Anak mu itu belum tentu bisa lahir jadi jangan terlalu menyombongkan diri." ucap Jennie lalu menatap tajam Sooyoung dan juga Suho.

Suho dengan emosi yang sudah memuncak setelah mendengar ucapan Jennie pun langsung melangkahkan kakinya mendekati Jennie tapi langkah kaki itu terhalang oleh Rose yang menghadang langkah Suho.

"Setelah Jisoo Eonnie dan Lisa, sekarang kau juga ingin menyakiti Jennie Eonnie ku?? Tidak semudah itu tuan Kim." ucap Rose.

"Eonnie mu itu sudah keterlaluan!! Berani sekali kau bicara seperti itu pada pada calon adik mu!!" marah Suho.

"CUKUP!! AKU AKAN TETAP MENJADI BUNGSU KELUARGA KIM!! TIDAK AKAN ADA YANG PERNAH MENGGANTIKAN KU TERMASUK ANAK YANG DIKANDUNG JALANG SIALAN ITU!!" teriak Lisa yang sudah meneteskan air matanya.

"Perkataan Lisa benar, adik ku akan menjadi bungsu keluarga Kim. Dan kau jalang, seharusnya kau sadar. Sampai kapan pun, kau tidak akan pernah bisa lebih dari Mommy ku. Lihat dirimu lalu lihat Mommy ku. Dan kau tuan Suho, kau adalah pria terbodah. Rela melepaskan berlian demi mendapatkan kerikil yang tidak memiliki harga sedikit pun." tegas Rose.

"Suho lebih baik kita pergi." ucap Sooyoung lalu membawa Suho agar menjauh dari anak-anak nya itu.

Setelah Suho dan Sooyoung pergi, Rose mendekati Lisa lalu kembali memeluk nya. Kali ini Rose memeluk tubuh adik kembar nya dengan sangat erat.

"Tenanglah Li, kau akan tetap menjadi adik ku satu-satunya." bisik Rose tepat di telinga Lisa.

Lisa hanya mengangguk kepala dan menikmati pelukan hangat dan elusan lembut tangan Rose. Sedangkan Irene dan Jennie tersenyum melihat sikap Rose, Rose yang selalu manja sekarang sudah berubah menjadi Rose yang selalu ada untuk saudari nya.

"Mom." panggil seseorang dengan nada suara yang cukup lemah.

"Duduk dulu sayang." ucap Irene lalu membantu Jisoo yang baru saja keluar dari ruangan itu.

"Eonnie baik-baik saja kan?" tanya Jennie sambil menggenggam tangan Jisoo yang terlihat semakin kurus itu.

"Demi dirimu, Eonnie akan selalu baik-baik saja." ucap Jisoo lalu tersenyum manis pada Jennie.

"Kita ke ruangan sekarang yaa." ucap Irene yang bangkit dari duduknya.

"Tunggu Mom, Jisoo ingin ke taman." ucap Jisoo.

"Baiklah dan ketiga anak Mommy ini lebih baik tunggu diruangan Eonnie saja yaa." ucap Irene lalu diangguki oleh ketiga anaknya.

Setelah Jennie, Rose dan Lisa pergi, Jisoo merentangkan kedua tangannya pada Irene. Irene tersenyum lalu menggendong tubuh putri sulungnya. Saat menggendong tubuh Jisoo, Irene tidak kesusahan karena berat tubuh anaknya itu sangat ringan.

"Mom, Jisoo kesakitan menahan ini semua." lirih Jisoo lalu meletakan kepalanya pada bahu Irene.

Sedangkan Irene berhenti melangkah kakinya setelah mendengar perkataan anaknya itu, hati Irene terasa diremas setelah mendengar perkataan Jisoo. Apa mungkin putri sulung nya itu sudah menyerah??

"Kita temui dok.."

"Tidak, Jisoo ingin dengan Mommy saja." tolak Jisoo.

Irene hanya mengangguk sambil mengusap pucuk kepala anaknya dan terus melangkah kakinya menuju taman rumah sakit. Setibanya di taman, Irene memilih duduk di salah satu bangku besi dan Jisoo masih enggan untuk lepas dari gendongan Irene.

"Tadi ada Daddy ya Mom atau hanya perasaan Jisoo saja." tanya Jisoo.

"Y-ya tadi memang ada Daddy tapi sekarang dia sudah pergi." jawab Irene.

Setelah Irene menjawab pertanyaan Jisoo itu tidak ada lagi yang mengeluarkan suara. Irene terus mengusap punggung sang anak sedangkan Jisoo masih nyaman meletakkan kepala nya pada pundak sang Mommy.

"Jisoo tidak kuat lagi Mom." lirih Jisoo.

"Apa yang kamu katakan sayang? Kamu harus bertahan demi Mommy dan juga adik-adikmu. Dan Mommy yakin kamu bisa sembuh." ucap Irene lalu menatap wajah Jisoo yang terlihat pucat itu.

"Jisoo sudah mencoba untuk bertahan Mom tapi kali ini Jisoo benar-benar tidak kuat lagi, rasanya sangat sakit Mom hiks.." tangis Jisoo.

Air matanya itu perlahan keluar dan sekarang tangisan Jisoo terdengar sangat memilukan sedangkan Irene ikut meneteskan air matanya setelah mendengar perkataan anak sulung nya itu.

Apa kali ini Irene egois? Anaknya sudah beberapa kali mengatakan hal yang sama entah itu sakit, tidak kuat lagi, bahkan mengiklaskan tapi Irene bersikeras dengan keyakinan nya bahwa Jisoo akan sembuh.

Jisoo sudah cukup menahan rasa sakit selama ini, entah itu sakit setelah kemoterapi ataupun dampak yang ia rasakan tapi sebisa mungkin gadis cantik itu menyembunikan rasa sakit nya. Tapi kali ini Jisoo benar-benar tidak kuat lagi, ia terus bertahan dan terus merasakan sakit yang teramat sangat.

"Maaf sayang tapi Mommy tidak sanggup kehilangan kamu hiks.." tangis Irene.

"Baiklah Mom, Jisoo akan terus bertahan sampai Mommy bisa ikhlas dan setelah itu Jisoo bisa beristirahat dengan tenang." bisik Jisoo tepat di telinga sang Mommy.

Irene menggigit bibir bawahnya agar air mata tak terus mengalir, apa sesakit itu rasa sakit yang dialami anak sulungnya.

*

*

*

*
Makasih ya udah bantuin author balas komentar🤣🤣🤣

Berhubung cerita sebelumnya happy ending jadi cerita kali ini🌚🌚🌚

Perfect Mom [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang