HAPPY READING
Tiga bulan berlalu begitu cepat dan dalam tiga bulan itu pula Jisoo merasa dirinya akan segera menemui ajalnya. Gadis cantik itu telah kehilangan semangat nya untuk melawan penyakit yang bersarang di tubuh nya. Jisoo beranggapan semua yang ia lakukan sekarang hanyalah membuang waktu dan juga uang sang Mommy.
Jisoo tahu betul biaya pengobatan itu sangat mahal dan pasti itu menjadi beban bagi sang Mommy. Terlebih lagi Irene selalu berada disamping anak sulung nya dan Jisoo takut ketiga adiknya tidak mendapatkan perhatian dari sang Mommy.
"Jika kau ingin mengambil nyawa ku sekarang maka ambil lah Tuhan, aku sudah lelah." gumam Jisoo sambil menatap langit-langit ruang rawat nya.
Sekarang Jisoo hanya bisa berdiam diri diatas brankar karena untuk melakukan aktifitas lainnya gadis cantik itu tidak memiliki tenaga lagi. Kedua mata indah itu menatap jam dinding dan sekitar tiga jam lagi ia akan kembali melakukan kemoterapi.
Ceklek.
Jisoo tersenyum manis saat melihat sang adik datang untuk menemui nya, Jennie datang dengan mendorong kursi roda nya lalu menghampiri sang Eonnie.
"Dimana Mommy?" tanya Jisoo pada sang adik karena tidak mungkin Jennie sendirian datang ke rumah sakit.
"Mommy sedang bicara dengan dokter, hmm apa Eonnie tidak merindukan ku?" tanya Jennie yang berhasil membuat Jisoo terkekeh kecil.
"Pertanyaan macam apa itu? Eonnie sangat merindukan mu, Eonnie rindu kau yang selalu manja pada Eonnie. " jawab Jisoo.
"Cepat lah sembuh Eonnie, aku tidak ingin melihat mu terus merasakan sakit seperti ini." ucap Jennie sambil menatap Jisoo.
"Kalau menunggu sembuh itu pasti akan lama bagaimana jika ikhlas kan
saja Eonnie." ucap Jisoo.PLAAKKK.
Jisoo memegangi bibir nya yang baru saja ditampar oleh sang adik. Tapi tak berselang lama Jisoo merasa bersalah setelah melihat wajah dan adik yang terlihat berusaha menahan tangis nya.
"Jen, Eonnie hanya bercanda." ucap Jisoo sambil berusaha duduk dari posisi tidurnya.
Sedangkan Jennie dengan mata yang sudah memerah terus menatap Jisoo tanpa henti dan tak berselang lama air mata itu jatuh dan membasahi pipi mandu Jennie.
Jennie tertunduk sambil menangis, kehilangan sosok sang Daddy saja sudah bisa membuat kehidupan Jennie berantakan dan apa sekarang. Jennie sangat membenci setiap kata yang baru saja Jisoo ucapakan tadi. Ia tidak akan bisa bertahan jika suatu hari Jisoo pergi meninggalkan nya. Jennie tidak sekuat itu.
"K_kenapa kau bicara seperti itu Eonnie hiks.. kau ingin aku mengiklaskan mu dan setelah itu kau pergi hiks.. kau pergi tanpa memikirkan aku, Mommy dan si kembar hiks.. aku tidak akan bisa mengurus si kembar sendirian Eonnie hiks.." tangis Jennie smabil menutupi wajahnya dengan kedua tangan nya.
"Maaf Jen, Eonnie tidak akan mengatakan hal seperti itu lagi." ucap Jisoo sambil mencoba meraih kedua tangan Jennie yang menutupi wajah cantik nya.
Jennie hanya diam sambil berusaha menghentikan tangisnya nya dan perlahan Jennie menatap sang Eonnie.
"Jika suatu sat kau pergi dariku maka aku akan menyusul mu Eonnie." ucap Jennie.
"Apa yang kau bicarakan hmm? Kau harus tetap hidup." ucap Jisoo.
"Kau pikir aku bisa bertahan hidup saat kau pergi meninggalkan ku." ucap Jennie.
°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•

KAMU SEDANG MEMBACA
Perfect Mom [END]
Fanfic[SEQUEL MIAN EONNIE] [END] Perfect Mom. Menjadi manusia perfect itu tidak mungkin. Karena ke-perfect-an hanya milik Tuhan. Meski begitu, jangan ragukan cinta tulus dan perfect dari seorang mom. Itu nyata adanya.