Selamat Membaca
-------------------------------------------------------
Bab 70. Mencoba Bertanggungjawab
Adakah yang lebih menyakitkan dari berusaha keras membenci padahal kita mencintai dia sepenuh hati, setiap hari?
***
WINA, Desember 2020.
"BULAN ini aku hectic banget, Pa. Lagi persiapan UAS sama kejar tugas-tugas akhir sebelum liburan nanti. Jadi, baru bisa pulang Januari."
"Jangan lupa makan yang teratur. Jaga diri disana, Be. Kamu di negeri orang sendirian."
"Iya, Pa."
Mereka membicarakan banyak hal dan selesai ketika Wina mulai larut malam. Cuaca di luar membuat wajah Mirabeth kebas. Sebenarnya, ini bukan pertama kalinya ia menikmati malam dipenuhi salju. Musim dingin di Wina sudah turun dalam beberapa hari terakhir. Tapi, tetap saja belum terbiasa. Mungkin karena dulu tinggal di belahan bumi beriklim tropis jadi cukup kaget ketika angin dengan suhu 2°C mengukung tubuhnya.
Tungku perapian menyala malu-malu, dari lantai dua puluh apartementnya ia dapat melihat lalu lalang kendaraan di jalanan Rennweg. Menjelang natal, kota lebih berwarna. Pernak-pernik dan pohon natal mulai dipasang di beberapa sudut kota. Terlihat ceria, berbanding terbalik dengan suasana hatinya.
Tahun ini cukup berat baginya. Banyak hal terlewati dengan begitu menyakitkan. Perceraian orangtuanya, permasalahan Lyodra yang membawanya kembali ke ranah Nathan, juga... satu hal yang baru diketahuinya beberapa hari yang lalu.
Lyodra dikeluarkan dari sekolah karena hamil. Begitu kata papanya.
Ia tidak berhenti menyalahkan dirinya sendiri. Menangis dan merutuki karena sudah meninggalkan adiknya itu melewati luka sendiri. Berharap waktu dapat diputar dan ia akan pulang. Tapi, waktu memang tidak pernah bisa diajak kompromi. Mana mau diputar balik untuk memperbaiki keadaan?
"Kamu kangen rumah, Be?"
Mirabeth menoleh, ia tersenyum dan menerima uluran cangkir berisi coklat panas dari Hyunjae. Ia menyeruputnya sedikit kemudian kembali melihat ke arah bawah. Tepat pada ring tream yang bagian atasnya mulai tertutup salju.
"Kalau kamu?"
"Kangen kamu."
Mirabeth lantas menatap Hyunjae yang terlihat menggemaskan ketika tersenyum. Matanya menyipit membentuk garis lengkung.
Hyunjae, lelaki berdarah Korea itu merupakan tetangga apartementnya. Mereka kenal ketika tidak sengaja satu lift waktu itu. Perkenalan singkat yang membuat keduanya terjebak dalam satu hubungan pertemanan yang begitu dekat. Hingga sekarang. Terlebih Hyunjae merupakan alumni MDW, universitas tempat Mirabeth belajar sekarang. Jadi, cukup nyambung ketika mengobrol.
"Desember kali ini lebih dingin dari tahun sebelumnya. Hampir keseluruhan jalanan tertutup salju," kata Hyunjae. Ia merapatkan mantelnya untuk menghalau dingin yang merangsek melalui jendela.
Mirabeth bergumam menanggapi, ia melirik ponselnya yang bergetar dan melihat jelas nama mamanya terpampang disana. Sudah puluhan kali dalam waktu dekat ini mamanya menelfon. Dan ia memilih untuk terus mengabaikan.
"Kenapa nggak diangkat?" tanya Hyunjae.
"Nggak penting."
Hyunjae mengangguk. Ia tidak bertanya lebih karena Mirabeth tidak akan senang membahasnya. Lelaki itu berdiri dan menutup jendela kamar. semakin malam, angin semakin menusuk tulang. Ia tidak mau besok pagi terlewati dengan badan meriang, "sudah malam, Be. Sebaiknya kamu tidur."
KAMU SEDANG MEMBACA
Retrouvailles
Teen FictionSamuel menyimpan terlalu banyak luka. Papanya berselingkuh. Mamanya memilih mengakhiri hidup. Saat dewasa, ia dipaksa tunduk pada tuntutan dan perjodohan yang tak pernah ia inginkan. Lalu datang Lyodra. Siswi baru yang diam-diam menyimpan satu fakta...
