Bab 79. Tentang Hari Ini

80.1K 7.9K 2.3K
                                        

Now playing : Stevan Pasaribu - Belum Siap Kehilangan

Baca sambil dengerin lagunya coba.

Oh iya, gimana perasaan kalian baca chapter kemarin? hihi

Seru kan?

Selamat Membaca

-----------------------------------------------------------

Bab 79. Tentang Hari Ini

"Aku benci perpisahan. Sebab, usai sebuah perpisahan, akan ada jarak dan rindu yang sulit untuk dijinakkan."

***

LYODRA pikir ia hanya terjebak dalam sebuah mimpi mengerikan. Seperti yang biasa terjadi di setiap malam ulang tahunnya. Lalu, ia akan bangun dalam keadaan baik-baik saja. Tidak ada hal buruk yang terjadi. Matahari masih terbit dari timur, angin masih terasa sejuk, dan kue ulang tahun berada di atas nakas dengan lilin yang sudah padam. Tapi kenyataan membuatnya kembali terlempar disini. Duduk bersimpuh di sudut paling belakang ruang tamu Samuel.

Pandangannya beralih pada punggung orang-orang di depannya. Mereka menyumbang tangis, berdesak-desakan demi melihat wajah Samuel untuk yang terakhir kalinya.

Di samping tubuh Samuel, Arsenio terpekur dengan perasaan hancur. Lelaki itu tidak pernah beranjak sedikitpun untuk meninggalkan Samuel. Selalu di sampingnya sejak dari rumah sakit pagi tadi. Pandangannya kosong, tidak ada lagi isakan tangis. Berbanding terbalik dengan orang-orang di sekitarnya. Dengan Samira ataupun Shora -nenek Samuel- yang masih histeris enggan menerima kenyataan bahwa Samuel telah pergi. Benar-benar pergi dalam konteks akhir hidup.

Lyodra mengusap perutnya perlahan. Membayangkan suatu saat nanti anaknya hidup tanpa sosok ayah, bahkan melihat wajahnya pun belum pernah membuat hatinya sakit. Ia sudah berhenti menangis sejak beberapa jam yang lalu. Tenaganya terkuras habis dan ia ingin cepat keluar dari labirin gelap yang menjebaknya saat ini lalu menjadi seseorang yang baik-baik saja. Seolah tidak terjadi apa-apa.

Namun disisi lain, ia masih ingin di sini. Ia ingin waktu berhenti cukup lama hingga ia puas memandangi wajah Samuel agar saat usianya bertambah suatu saat nanti, ia tidak akan pernah lupa.

Ia masih ingin memeluk Samuel sebelum mereka berpisah dalam waktu yang lama. Ia masih menginginkan banyak hal. Bahkan, kalau Tuhan mengijinkan, ia ingin lelaki itu kembali membuka mata.

Karena, semuanya begitu tiba-tiba, sangat cepat dan ia belum siap akan apapun.

Usapan pada bahunya serta pelukan dari Adipati dan Rheia seolah tak terasa. Ia hanya melihat mereka, mendengar samar ketika orang-orang itu menyuruhnya tabah dan sabar. Seolah-seolah, sedih ini memang harus cepat disudahi sebelum benar-benar menggerus seluruh kekuatan hati.

"Sabar ya sayang, sebentar lagi. Sebentar lagi semuanya akan kembali baik-baik saja, sebentar lagi kamu akan menang dari duka, lukanya akan sembuh setelah ini," begitu kata Adipati.

Papanya mungkin bermaksud baik untuk memenangkannya. Tapi, ia tidak mengerti bahwa sesuatu yang hilang akan menyisakan sebuah luka yang begitu besar. Dan sialnya, sakitnya tidak bisa cepat hilang secepat kehilangan itu sendiri.

Lyodra memilih tidak menanggapi. Ia hanya menatap lurus ke depan. Ke tempat Samuel berada. Ia tidak memiliki akses dan hak lebih untuk lebih dekat dengan lelaki itu sekarang, jadi ia hanya melihat dari kejauhan. Ia sadar diri, ia bukan siapa-siapa.

RetrouvaillesTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang