Samuel menyimpan terlalu banyak luka.
Papanya berselingkuh. Mamanya memilih mengakhiri hidup. Saat dewasa, ia dipaksa tunduk pada tuntutan dan perjodohan yang tak pernah ia inginkan.
Lalu datang Lyodra. Siswi baru yang diam-diam menyimpan satu fakta...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Pada akhirnya kita benar-benar saling. Saling pergi dan memilih menepi. Untuk mengistirahatkan masing-masing hati. Semesta mengajarkan kita untuk tidak terlalu memaksa kan? Jadi, ayo istirahat.
***
"LO kurusan ya, Ly," celetuk Ziva. Gadis itu mengunyah lasagnanya dengan fokus tetap ke arah Lyodra. Menelisik temannya itu dengan serius. Dari atas sampai bawah.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Namanya juga abis sakit, Ziv. Lo ada-ada aja. Udah diem, habisin tuh makanan," jawab Keisha sambil memutar matanya jengah. Sejak tadi, Ziva tidak berhenti mengoceh. Memang menghidupkan suasana sih, tapi lama-lama obroalannya tambah ngaco. Tambah kemana-mana.
Ziva mendengus. Ia menyendok lasagnanya lagi lalu menyenderkan tubuhnya ke sofa, setengah tiduran. "Tapi, seriusan, selain tambah kurus, Lyodra tambah shining kalau dilihat-lihat. Tambah bersih. Gue suka gaya rambut lo yang sekarang, Ly. Lebih kelihatan lebih muda, terus kelihatan fresh gitu loh. Apalagi lo copot behel ya?!"
Astagfirullah.
Keisha hanya geleng-geleng kepala mendengar ocehan temannya itu. Ziva detail sekali kalau disuruh mengomentari. Bukannya berhenti ketika ia menginterupsinya tadi, Ziva malah meneruskan.
"Nggak apa-apa lo tambah oke gini. Kali aja Kak Nuca sadar dan berpaling dari Kak Tiara ke lo, meksipun kecil kem-adohhh!!" pekik Ziva. Tangannya refleks mengusap kepalanya yang barusaja ditimpuk bantal sofa oleh Keisha. "Lo apaan sih," ujarnya sambil menatap sebal ke arah Keisha.
"Bisa nggak lo mingkem aja, diem gitu nggak usah banyak ngomong."
Ziva mendengus. "Iri bilang, bos."
"Terserah."
Lyodra hanya geleng-geleng kepala melihat perseteruan kedua temannya. Tapi, ia senang dan lega. Lega, karena, ternyata Keisha dan Ziva masih mau peduli padanya. Setidaknya, ia masih punya teman ketika di sekolah nanti.