Selamat Membaca
nb : tandai typo
--------------------------------------------------------
Bab 68. Dia yang Pergi
***
SEPANJANG menyusuri koridor sekolah -yang cukup dipadati murid-murid sore ini, Samuel mendengar bisikan-bisikan tidak mengenakkan. Ia mengepalkan tangannya, menahan emosinya agar tidak meledak. Ia memasang telinga, mendengar seberapa banyak pemanis yang dibubuhkan di setiap ocehan menyebalkan itu.
"Kan bener kata gue, kalau Lyodra tuh udah sering dipake Sam." Samuel hafal, itu suara Della. Salah satu siswi yang sering bersama Mahalini. Bisa dibilang, dayangnya.
"Tuh cewek pake pelet apaan coba. Sekelas Samuel bisa takluk sama cewek modelan dia," kalimat seperti pertanyaan itu berasal dari Kanina. Gadis berperawakan mungil dengan mata sipit.
"Jaman sekarang mah nggak perlu pake pelet kali. Tinggal sodorin badan mah lanjut aja," timpal Mahalini.
Kemudian kelima siswi itu tergelak. Setelahnya, salah satu dari mereka, yang rambutnya dikucir kuda berkata.
"Anjir emang. Ngomongin tuh cewek nggak ada habisnya. Dari yang bikin heboh setelah ngejar-ngejar Nuca, terus kecelakaan Brisiana dan terakhir kemarin, pas foto-foto telanjang dia tersebar."
"Nah kan. Padahal tampangnya polos, dalemnya look like bitch. Murahan."
Samuel tidak terima, ia menghampiri gerombolan cewek itu. Mungkin mereka tidak menyadari kedatangan Samuel karena duduk lesehan di pinggiran lapangan dan membelakangi lorong koridor. Samuel menendang botol air kemasan milik salah satu diantara mereka, membuat seorang gadis yang rambutnya digerai mengumpat karena mengenai lengannya. Gadis itu menoleh, ingin marah namun matanya melebar saat melihat Samuel di belakangnya. Salah satu orang yang terselip di gosip mereka pagi ini.
"Asik banget ya ngomongin orang," sindir Samuel.
Saat teman-teman gadis itu menoleh ke belakang semua, Samuel yang kini tersenyum sinis sembari memasukkan tangannya ke saku celana, mulai berkata kembali.
"Sekali lagi gue denger kalian jelek-jelekin Lyodra, gue nggak bakal segan-segan buat hengkangin kalian dari sekolah ini."
Mereka memilih diam. Membantah Samuel sama dengan bunuh diri. Lelaki itu memiliki banyak cara untuk memenuhi keinginannya. Termasuk untuk mengeluarkan mereka dari sekolah ini.
"Dan lo, Lini. Nggak usah ngata-ngatain Lyodra murahan. Ngaca. Lo dibayar gocap aja mau."
Wajah Mahalini memerah. Malu sekaligus marah. Tapi ia tidak membantah. Tidak berkata apapun membuat Samuel tersenyum penuh kemenangan.
"Lo itu udah dibolak-balik sama banyak cowok. Sampe kendor. Gue aja nyesel pernah pacaran sama lo dulu."
Usai mengucapkan kalimat penghinaan penuh fakta itu, Samuel berbalik, meninggalkan kelima siswi yang mulai saling diam. Ia tidak tahu kenapa bisa semarah itu. Semua di luar kendali. Apapun tentang Lyodra seolah sudah menjadi bagian dari dirinya.
Entahlah, ia bingung. Pikirannya penuh. Hari ini sudah cukup menguras tenaganya. Mulai dari ujian hari terakhir yang diisi kimia dan matematika. Juga ulangan susulan karena sempat bolos kemarin-kemarin. Sejarah, tujuannya hanya satu. Pulang.
Sesampainya di parkiran, ia menaikkan alisnya ketika mendapati Liam bersama Violet. Tidak seperti biasa, temannya itu berani terang-terangan bersama gadis aneh itu di area sekolah.
KAMU SEDANG MEMBACA
Retrouvailles
Fiksi RemajaSamuel menyimpan terlalu banyak luka. Papanya berselingkuh. Mamanya memilih mengakhiri hidup. Saat dewasa, ia dipaksa tunduk pada tuntutan dan perjodohan yang tak pernah ia inginkan. Lalu datang Lyodra. Siswi baru yang diam-diam menyimpan satu fakta...
