Samuel menyimpan terlalu banyak luka.
Papanya berselingkuh. Mamanya memilih mengakhiri hidup. Saat dewasa, ia dipaksa tunduk pada tuntutan dan perjodohan yang tak pernah ia inginkan.
Lalu datang Lyodra. Siswi baru yang diam-diam menyimpan satu fakta...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Kalau aku terbang tanpa kamu, untuk apa? bukankah kita punya misi untuk melihat bumi dari sisi yang berbeda dengan cara... bersama?
***
SALAH satu hal yang paling Samuel takutkan adalah jika suatu saat nanti keluarganya mulai menerima hubungan papanya dan mama Lyodra. Memang tidak menutup kemungkinan hal itu terjadi apalagi papanya begitu berpengaruh untuk saat ini.
Bisnisnya berkembang pesat. Dan itu sangat menguntungkan jika nantinya bekerja sama atau menyuntikkan dana untuk Hastapersada Group —perusahaan kakeknya yang pamornya mulai dibawah Abimana Group.
Tapi, siapa sangka ketakutannya itu menjadi kenyataan. Sangat tiba-tiba dan ia belum siap. Bagaimana tidak, saat ini Arsenio yang hampir tidak pernah muncul di acara keluarga terlihat berada di antara mereka. Bersama Rheia —mama Lyodra yang duduk dan asik mengobrol dengan keluarga besarnya. Juga keluarga Aurbee.
Samuel yang barusaja masuk menghentikan langkahnya, gerakan refleks yang membuat orang-orang di ruangan makan menoleh ke arahnya. Lalu, hening.
"Sam, baru datang kamu. Sini duduk," pinta Shora seolah tidak ada yang salah. Ia merasa dikhianati sekarang.
Dulu, ia pikir kakek neneknya tidak akan pernah berpihak pada papanya setelah perselingkuhan yang menewaskan mamanya saat itu. Tapi, kalau soal bisnis dan uang, memang tidak ada lawannya.
Samuel maju dan memberikan kotak kecil untuk neneknya. Tanpa melihat orang-orang disana yang mulai memperhatikannya, "happy birthday," ucapnya singkat. Hal itu membuat neneknya tersenyum dan menerima kado kecil itu.
Shora sudah akan berdiri dan memeluk Samuel tapi lelaki itu lebih duduk berbalik dan melangkah.
"Nggak sopan kamu, Sam. Berhenti!!" perintah Abimanyu membuat suasana mendadak dingin. Samuel berhenti kemudian menghadap kakeknya itu.