Samuel menyimpan terlalu banyak luka.
Papanya berselingkuh. Mamanya memilih mengakhiri hidup. Saat dewasa, ia dipaksa tunduk pada tuntutan dan perjodohan yang tak pernah ia inginkan.
Lalu datang Lyodra. Siswi baru yang diam-diam menyimpan satu fakta...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Memangnya ada ya yang bisa diulang dan diperbaiki?
***
SETELAH pengakuannya, Samuel berubah. Lelaki itu menjauh. Lyodra pikir itu hanya berlaku sehari dua hari, ternyata tidak. Samuel tidak pernah ke apartementnya lagi. Sekedar menjemputnya berangkat sekolah seperti biasa. Padahal, setiap pagi Lyodra tetap masak untuk sarapan mereka berdua, menunggu lelaki itu di sofa ruang depan, bermenit-menit.
Namun, akhirnya masih sama seperti yang kemarin-kemarin.
Samuel tidak pernah datang.
Saat dirasa tidak memungkinkan lagi untuk menunggu, Lyodra bergegas menyiapkan bekal sekolah lalu turun ke bawah untuk pesan Grab ke sekolah. Sebenarnya, ia bisa saja menghampiri Samuel ke unit apartementnya. Tapi, untuk apa?
Untuk meminta kejelasan?
Bukankah semuanya sudah jelas di awal, bahwa apa yang dilakukan Samuel hanya untuk balas dendam. Sekarang, lelaki itu berhasil. Membuatnya hancur dan ini.. kekalahan pertamanya.
Jujur, ia merasa ada yang hilang ketika lelaki itu pergi.
Sekalipun Samuel jahat.
Sebab benar yang dikatakannya pada mamanya kemarin, tentang Samuel yang selalu ada untuknya disaat semua orang memilih untuk pergi. Setidaknya, lelaki itu tidak membuatnya merasa sendiri disini. Di Jakarta.
Samuel selalu ada. Ada dengan caranya sendiri. Meskipun tanpa lelaki itu sadari.
Kalau saja lelaki itu tidak menjauh dan melanjutkan misinya untuk membuat Lyodra jatuh cinta. Gadis itu sangsi akan berhasil menahan perasaannya, apalagi perlakuan Samuel yang akhir-akhir ini berubah, sedikit baik.
Lyodra memejamkan matanya. Kepingan memori tadi berputar terus seperti film rusak. Kepalanya penuh dengan banyak hal. Ia mengeratkan pegangan tangannya pada kotak bekal yang dibawanya.
Angin pagi kali ini cukup menyejukkan pikiran, Lyodra dapat merasakannya ketika turun dan membayar tarif Grab tadi. Lalu lalang kendaraan tidak begitu padat, terbilang sepi karena hanya jalur satu arah. Beberapa murid mulai mempercepat langkahnya karena sebentar lagi bel masuk berbunyi. Hal itu refleks membuat Lyodra ikutan melakukan hal sama.