Selamat Membaca.
--------------------------------------------------------
Bab 78. Merangkai Akhir
Semua hal indah akan terasa menyakitkan jika sudah menjadi kenangan.
***
"LY.."
"Lyodra, bangun!" Adipati mengguncang pelan tubuh Lyodra. Berharap anaknya itu cepat bangun.
"Lyodra.."
Butuh tiga kali panggilan untuk Lyodra akhirnya menggeliat. Sinar matahari yang merangsek masuk dari celah korden membuatnya membuka mata.
Dua detik kemudian, kamar terang benderang karena papanya membuka penuh korden kamar. Sinar matahari tumpah di tempat tidurnya. Ah, ternyata petang telah pergi, berganti pagi yang sedikit sunyi.
"Tumben papa bangunin aku," kata Lyodra. Ia bangun sambil mengucek-ucek matanya. Begitu melihat papa duduk di tempat tidur dan menatapnya serius, ia tahu akan ada sesuatu yang ingin disampaikan.
"Cuci muka terus ganti baju ya. Hari ini kita pergi," kata Adipati.
"Mau kemana, Pa? Emang papa off hari ini?"
Adipati bergumam sebagai jawaban. Ia mengusap pelan kepala Lyodra lalu tersenyum kecil.
"Hari ini kita mau ke rumah sakit. Tadi mama kamu telfon."
Mata Lyodra membulat. Rasa kantuknya menguap seketika, "mama sakit?! sakit apa? perasaan kemarin lusa masih baik-baik aja," cecar Lyodra.
Melihat respon Lyodra yang langsung panik, Adipati langsung bingung harus bagaimana.
Pagi tadi ia memang mendapat telfon dari Rheia. Perempuan itu memberi kabar bahwa Samuel kecelakaan. Kondisinya parah. Sangat parah. Jelas ia kaget dan mau tidak mau harus memberitahu Lyodra soal ini.
Tapi, di sisi lain ia harus memperhitungkan psikis dan keadaan fisik Lyodra apalagi anaknya itu sedang hamil. Jika ia memilih cara paling aman, dengan tidak memberitahukan pada Lyodra terlebih dulu, Lyodra pasti marah, kecewa dan mungkin akan lebih mem—
"Pa!!" tegur Lyodra karena Adipati hanya diam.
Adipati berdeham. Ia menghembuskan napas pelan kemudian menatap lurus ke arah Lyodra.
"Sekarang kamu mandi atau cuci muka dulu nanti papa jelasin di perjalanan oke," katanya. Ia memilih untuk menghindar sambil memikirkan cara yang pas untuk menyampaikan kabar Samuel pada Lyodra.
"Pa! jangan bikin aku kepikiran! mama sakitnya nggak parah kan? buktinya masih bisa telfon papa!! jadi bilang aja sakit apa, jangan nunggu nanti-nanti!" selak Lyodra. Ia terlanjur penasaran karena papanya seperti berat untuk mengatakan apa yang sebenarnya terjadi.
Adipati menyerah. "Bukan. Bukan mama kamu yang sakit."
"Terus?"
"Tenangin diri kamu dulu Lyodra. Ingat kamu hamil. Kendalikan emosi kamu dulu."
"Iya, Pa. Kenapa? Siapa yang sakit?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Retrouvailles
Teen FictionSamuel menyimpan terlalu banyak luka. Papanya berselingkuh. Mamanya memilih mengakhiri hidup. Saat dewasa, ia dipaksa tunduk pada tuntutan dan perjodohan yang tak pernah ia inginkan. Lalu datang Lyodra. Siswi baru yang diam-diam menyimpan satu fakta...
