Selamat Membaca
-----------------------------------------------
Bab 69. Bulan Desember di Batavia
Mustahil tidak ada perasaan cinta ketika dua orang dibiarkan bersama dalam kurun waktu yang cukup lama.
***
SEPERTI sebelum-sebelumnya, awal Desember kali ini disambut hujan. Terhitung sejak dini hari dan guyurannya masih enggan berhenti hingga menjelang pagi, menciptakan genangan air yang mulai memenuhi beberapa titik jalanan.
Menjelang akhir tahun, langit memang selalu sendu lalu tumpah ruah membahasi bumi. Memangnya, apa yang diharapkan ketika bulan penghujan seperti sekarang? menyambut natal dan tahun baru bukankah memang selalu begitu? hujan, hujan, dan... hujan.
"Sambal buburnya mau dipisah, mas?"
Lamunan Samuel buyar, ia menarik pandangannya dari jalanan lantas menoleh pada tukang bubur di depannya, "ya, pak?"
"Sambal buburnya mau dipisah?" ulang tukang bubur tadi.
Samuel mengangguk, "iya dipisah aja."
Lelaki itu menunggu sambil menikmati aroma petrichor yang memenangkan, seperti panggilan semesta untuk rehat dulu dari rutinitas. Tapi, bukankah Batavia selalu sama. Selalu sibuk tanpa jeda. Sekalipun banjir selepas hujan melanda.
"Nih mas pesanannya. Totalnya 40.000 aja."
Samuel langsung mengeluarkan satu lembar uang dari dompetnya, "kembaliannya ambil aja," katanya sembari merapatkan jaket.
"Nggak nunggu reda aja, mas? masih deres," ucap pak tukang bubur melihat Samuel berjalan keluar.
"Nggak, pak. Makasih ya," ucap Samuel melanjutkan langkahnya.
Detik berikutnya, lelaki itu sudah beranjak menembus hujan. Rinainya tidak terlalu deras, tapi cukup membuatnya basah kuyup hingga sampai di rumah sakit nanti. Ia menambah kecepatan motornya, menyelinap diantara kendaraan lain agar segera sampai.
Well, setelah pergolakan batin yang tidak bisa membuatnya tidur semalaman, lelaki itu memutuskan untuk menjenguk Lyodra. Ia tidak lagi mempedulikan gengsinya, yang ada di kepalanya saat ini adalah tentang bagaimana keadaan gadis itu sekarang.
Jika kalian bertanya bagaimana perasaannya, ia sangat khawatir sekarang. Bagaimana tidak, Lyodra telah menjadi bagian dirinya selama beberapa waktu. Cukup lama. Jadi sangat tidak logis jika ia merasa biasa saja ketika terjadi apa-apa pada gadis itu.
Sekalipun, setiap moment yang mereka ciptakan selama ini terkesan buruk tapi... bukankah mustahil tidak ada perasaan apa-apa ketika dua orang dibiarkan bersama dalam kurun waktu yang cukup lama?
Yeah, menurut Samuel mustahil karena ia merasakan apa-apa sekarang.
Setelah sepuluh menit hujan-hujanan, Samuel sampai di pelataran rumah sakit. Ia sedikit menggigil karena kedinginan. Setengah berlari lelaki itu menuju lobi agar tidak semakin basah kuyup.
"Sam?"
Samuel berhenti berjalan ketika sebuah suara yang sedikit familiar tertangkap telinganya. Lalu ia menoleh.
"Mau jenguk Lyodra, ya?" Samuel mengangkat sebelah alisnya saat mendapati Ruby didepannya. Kemudian ia memilih tersenyum lalu mengangguk.
Ruby membalas senyumnya. "kebetulan banget tante mau pulang dulu. Kamu jagain Lyodra ya," ucap Ruby bersemangat.
KAMU SEDANG MEMBACA
Retrouvailles
Teen FictionSamuel menyimpan terlalu banyak luka. Papanya berselingkuh. Mamanya memilih mengakhiri hidup. Saat dewasa, ia dipaksa tunduk pada tuntutan dan perjodohan yang tak pernah ia inginkan. Lalu datang Lyodra. Siswi baru yang diam-diam menyimpan satu fakta...
