Samuel menyimpan terlalu banyak luka.
Papanya berselingkuh. Mamanya memilih mengakhiri hidup. Saat dewasa, ia dipaksa tunduk pada tuntutan dan perjodohan yang tak pernah ia inginkan.
Lalu datang Lyodra. Siswi baru yang diam-diam menyimpan satu fakta...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Kita tidak pernah tahu, setelah hujan apakah akan muncul pelangi, atau justru.. badai. Kita hanya perlu sepakat untuk bersiap menghadapinya bersama.
***
TALE as old as time
Song as old as rhyme
Beauty and the Beast
Off to the cupboard
With you now, chip
It's past your bedtime
Goodnight, love"
Lyodra sebisa mungkin untuk tidak mengantuk dan memejamkan mata. Ini sudah jam setengah dua belas malam dan ia masih mengusap pelan kepala Samuel agar lelaki itu tertidur pulas. Lagu Beauty and The Beast yang terdengar dari televisi tadi kini telah berganti iklan karena film besutan Disyney itu sudah berakhir.
Ia menguap sekali lagi. Sudut matanya sampai berair.
"Sam.." Lyodra menepuk pelan pipi Samuel, bermaksud memastikan apakah lelaki itu benar-benar tertidur atau tidak. Melihat tidak ada respon, dengan hati-hati ia memindahkan kepala Samuel ke bantal sofa setelah ia menggeser sedikit duduknya.
Lyodra meringis, kakinya jelas sakit karena terlalu lama menjadi bantalan Samuel tadi. Ia mendiamkan diri sejenak sebelum akhirnya berdiri dan menyelimuti lelaki itu. Setelah itu, ia berkemas dan memakai jaketnya.
Meskipun sudah larut sekali, ia memilih pulang malam ini juga karena takut Mirabeth kembali pagi nanti. Ia tidak ingin kakaknya itu curiga dan bertanya macam-macam kalau ia tidak pulang sekarang. Jadi, sebelum Mirabeth sampai rumah, akan lebih aman jika ia duluan yang sampai.
Sekali lagi, ia melihat layar ponselnya. Sudah hampir jam dua belas ternyata. Ia buru-buru ke arah pintu dan memasang sepatu lalu keluar dari unit apartement Samuel.
Sepanjang perjalanan menuju bawah, suasana sepi dan dingin karena habis hujan. Ia merapatkan jaketnya dan memasukkan tangannya ke saku untuk menghalau hawa dingin tersebut.
Begitu keluar dari area apartement, ia langsung berjalan ke arah halte. Beruntunglah grab beroperasi 24 jam jadi ia tidak perlu khawatir meskipun butuh waktu yang cukup lama untuk mendapatkan driver.
Sambil menunggu pesannya mendapat driver, Lyodra mengusap-ngusap tanganya untuk menghangatkan tubuhnya juga mengalihkan.. rasa tidak tenang yang menyerangnya sejak tadi.