Bab 52. Beberapa Hal Yang Perlu Diceritakan

77.4K 7.8K 1K
                                        

Hai, apa kalian masih menunggu cerita ini??

Kalau iya, coba absen disini.

Btw, Selamat Membaca ya..

Jangan lupa vote dan komentar 😊

---------------------------------------------------

Bab 52. Beberapa Hal Yang Perlu Diceritakan

Untuk siapapun yang pernah menjadi bagian dari ceritaku, terimakasih telah menemani sampai sejauh yang waktu mau. Karena memang benar, nggak semua cerita berakhir menjadi satu. Jadi, sampai jumpa kapan-kapan, ya.

***

"KAK Nuca mau bawa aku kemana?" tanya Lyodra begitu sadar Nuca membawanya ke arah jalan yang berbeda. Rute untuk ke apartemennya jelas bukan jalan yang sekarang dilewatinya bersama Nuca. Lelaki itu membawanya putar arah usai mengantar Tiara.

"Keliling Jakarta mungkin. Atau lo mau ke suatu tempat? Gue turutin, asal kita punya lebih banyak waktu untuk membicarakan banyak hal," kata Nuca.

Jadi.. ceritanya begini. Sepulang sekolah tadi Nuca mengajaknya untuk bareng. Sebenarnya, Lyodra sudah menolak karena risih dan tidak enak hati ke Tiara. Tapi, Nuca memaksa jadi ia mengalah dan ikut.

Jika dulu Lyodra begitu ambisius dan ingin merebut Nuca dari gadis itu, sekarang ia cukup sadar diri dan membiarkan semuanya berjalan semestinya.

Nuca orang yang baik dan pantas mendapatkan seseorang yang jauh lebih baik dibanding dirinya.

Dan Tiara jelas memenuhi itu semua.

"Aku mau pulang," jawab Lyodra singkat.

Nuca menghentikan mobilnya karena lampu merah. Kesempatan itu ia gunakan untuk menatap Lyodra karena gadis itu sudah duduk tepat di sampingnya. Di tempat Tiara tadi.

"Kenapa?"

"Bukannya tujuan Kak Nuca nganterin aku pulang? sekarang aku mau itu."

"Lo nggak mau makan dulu? kita bisa mampir di kafe atau rumah makan terdekat."

Lyodra tersenyum, "aku bisa makan di rumah."

"Lo sedang mencoba untuk menghindari gue?"

"Kalau aku menghindar, mungkin sekarang aku nggak akan pulang bareng Kak Nuca, tapi nyatanya now i'm with you," jawab Lyodra.

"Terus kenapa lo selalu nolak tawaran gue?"

Lyodra mengerutkan alisnya, "Ah ya? aku nggak merasa begitu," kata Lyodra. "Bukannya selagi wajar aku menerima setiap hal yang Kak Nuca tawarkan. Aku bahkan menerima ketika Kak Nuca ngajak pulang bareng seperti sekarang, meskipun aku sempat menolak tadi. Waktu itu aku juga nggak menolak untuk datang ketika Kak Nuca undang aku ke ulangtahun Sinka, bahkan aku juga dengan gamblang menceritakan semua rahasia aku ke Kak Nuca. Apa itu masih kurang?"

Bunyi klakson beberapa mobil di belakang membuat Nuca tersadar dan kembali melajukan mobilnya. Jalanan Jakarta sore ini tidak begitu padat seperti biasanya, meskipun hiruk pikuk tidak mereda. Setidaknya, senja kali ini akan disambut oleh sedikit lengangnya kota.

"Gue cuma mau memperbaiki hubungan kita dan menebus semua kesalahan gue ke lo, gue--"

"Kak Nuca nggak salah, aku yang salah karena aku yang pergi dan nggak pernah cerita alasannya dulu," sela Lyodra sebelum Nuca menyelesaikan ucapannya.

RetrouvaillesTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang