24-Reconcilement

148 29 12
                                        

Hari demi hari berlalu, kesehatan Sesya semakin membaik dan akhirnya bisa kembali bersekolah seperti biasa. Di hari pertama sekolah, ia mendapat banyak kejutan. Salah satu kejutan besarnya adalah perihal Biru yang telah merajut kasih dengan Cindy.

Kini Sesya paham kenapa Biru semakin hari semakin akrab dengan gadis itu dan seringkali membuat Jicko naik darah. Pasalnya lelaki pecinta tempoyak ini secara terang-terangan menunjukkan bahwa ia tidak suka dengan Cindy, sebab ia pernah membuat Sesya menangis.

"Mau ke mana?" tanya Jicko.

"Biasa, ke perpustakaan," jawab Sesya berbohong. Nanti Jicko malah mengekorinya kalau ia jujur mau menghabiskan jam istirahat di atap sekolah.

"Pustaka mulu. Gak mau ke kantin? Temenin aku gitu," pinta Jicko.

"Males, lagian 'kan ada Biru sama Cindy di kantin."

Jicko berdecak. "Mendingan main game aja aku. Dah, pergi sana," usirnya kesal.

Seperti hari-hari biasa, setiap bel istirahat berbunyi Sesya selalu pergi menuju atap sekolah. Menghabiskan bekal makan siangnya di sana, sendiri. Sudah tidak ada lagi sosok Filo yang menemaninya satu jam penuh di atas sana.

Sesya menghela napas, ia merasa aneh pada dirinya sendiri. Di saat yang bersamaan ia merasa kesal sekaligus kepada sosok lelaki bermata sipit itu. Ia merindukan suara berat yang memanggilnya 'mama'.

Dalam kehidupan, pasti ada yang datang, menetap lalu pergi lagi. Sudah hukum alam. Namun, mengapa kamu gak berpamitan denganku dulu, Fi?

"Hai, Sya." Terdengar suara yang memanggilnya. Bolehkah ia berharap bahwa pemilik suara itu adalah Filo?

Sesya segera menoleh ke belakang, lalu mengulum senyum tipis untuk menutupi rasa kecewa di air wajahnya. Ia tahu betul bahwa itu adalah suara Dana. Sudah berapa kali ia dikerjai oleh semesta.

"Hai, Kak Dana. Udah siap tryout?"

Dana mendaratkan bokong di sebelah Sesya. "Udah, Sya. Kamu sendirian aja di sini?"

"Iya, Kak. Kayak biasa. Kak Dana udah makan? Mau kue?" tawar Sesya.

"Buatan ibumu?"

Sesya mengangguk. "Kalau Kakak mau, ambil aja."

"Makasih, Sya." Dana mengambil sepotong kue cokelat itu dari dalam kotak bekal milik Sesya lalu menggigitnya setengah. "Selalu enak kue buatan ibumu," pujinya.

Sesya hanya tersenyum tipis menanggapinya. Otaknya terlalu kalut untuk berbincang-bincang dengan lelaki yang pernah menjadi pujaannya itu. Lelaki yang katanya akan menjadi pendamping di masa depan. Namun, apa? Ia hanya dipermainkan oleh Filo.

"Hei, kamu kok diam aja? Biasa banyak cerita," tanya Dana menyadari keanehan pada diri Sesya.

"Gak papa kok, Kak."

Dana menghela napas. "Aku penasaran, kenapa perempuan selalu jawab gak papa kalau ditanya ada masalah apa."

Sesya hanya diam, ia sendiri pun tidak tau harus memberi jawaban apa untuk menjawab pertanyaan Dana itu.

"Untuk memperlihatkan kalau mereka sebenarnya baik-baik aja?" Dana lalu menghela napas sambil mengusap-usap kepala Sesya. "Sya, kamu udah aku anggap seperti adikku sendiri. Kalau kamu punya masalah, kamu boleh cerita ke aku. Masalah bukan untuk dipendam, tapi untuk diselesaikan dan kalau kamu gak punya solusi so you can ask to me, Sya."

Sejenak hati Sesya merasa damai menerima perlakuan manis Dana. Tidak, lupakan tentang perasaan cinta antara laki-laki dan wanita. Namun, ia bisa merasakan kasih sayang layaknya seorang kakak kepada adiknya.

GratiaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang