28-About Filo and Future

218 32 14
                                        

Bengkulu, 2030 ....

Projek besar yang ditunggu-tunggu oleh warga Bengkulu tidak selesai, karena profesor Lee meninggal dan adiknya tidak mampu untuk meneruskan projek mesin waktu itu. Waktu terus berjalan hingga 'tak terasa sudah sebelas tahun projek mesin waktu itu terbengkalai.

"Kamu mau ke mana?" tanya seorang wanita berkepala dua.

Seulas garis tipis muncul di bibir Filo saat melihat wanita itu keluar dari pintu belakang, dengan tangan memegang spatula dan masih mengenakan celemek yang mulai usang.

"Ih, ditanyain malah senyum-senyum sendiri. Mau ke mana, sih? Peony nyariin tahu!"

"Bentar aja, Sya. Kamu lanjut masak aja," ucap Filo.

Iya, dia adalah Sesya. Wanita yang berstatus sebagai istri sah-nya dan jangan lupakan Peony, balita lucu dan tidak kalah cantik dari ibunya.

"Awas aja kalau lama!" ancam Sesya.

"Iya-iya, Sayang. Aku gak lama."

Mendengar ucapan Filo, Sesya langsung masuk kembali ke dalam, sedangkan Filo terus berjalan menyusuri pepohonan pinus di belakang rumah.

Kakinya berhenti di sebuah bangunan besar di tengah-tengah pepohonan pinus. Ia lalu membuka pintu itu dan sebuah mesin  berbentuk bola raksasa langsung menyambutnya.

Bola besi yang ditengahnya ada berbagai jenis tombol dan tempat duduk khusus satu orang. Itulah sang mesin waktu yang dinanti-nantikan oleh warga Bengkulu

Tapi sayangnya, projek itu tidak dilanjutkan oleh siapa-siapa lagi. Namun, diam-diam Filo, darah daging profesor Lee melanjutkan projek itu dan menggunakannya untuk kepentingan sendiri.

Kembali ke masa lalu untuk mengubah takdir, tapi semua berakhir sia-sia. Harusnya aku gak ngelakuin hal bodoh ini. Dasar bodoh!

Lelaki itu mengambil selembar kain putih lalu menutup kembali mesin waktu itu. Seulas garis tipis muncul di bibirnya. Ada banyak hal berubah di masa lalu karena mesin ini, tapi satu yang tidak akan pernah berubah.

"Fi cepaaaatt!" pekik Sesya kuat memanggilnya dari rumah,

Takdir mereka berdua tidak akan pernah berubah, sekuat apa pun Filo berusaha.

***

Filo duduk di teras rumah menikmati senja ditemani secangkir kopi hitam panas dan pisang goreng. Angin sepoi-sepoi yang menerpa wajah membuat potongan memori dahulu menari-nari di kepalanya.

"Ayah dulu ketemu bunda di mana?" Satu pertanyaan ajaib lolos dari mulut Peony, putri kecilnya bersama Sesya. Dia adalah gadis kecil yang menjadi keburuntungan dalam keluarga inti mereka. Sesuai dengan namanya yang diambil dari bunga Peony, bunga dengan lambang keburuntungan.

"Pertemuan, ya?" gumamnya pelan.

Flashback

Sore itu Filo akan melakukan peforma bersama temannya di kafe milik kakak Trishan, menampilkan beberapa judul lagu untuk menghibur penonton hingga cahaya merah terbentang di ufuk barat.

"Makasih semuanya, see you soon, yaa," pamit Filo pada pengunjung kafe sebelum turun dari panggung mini itu.

Satu per satu pengunjung mulai meninggalkan kafe. Menyisakan seorang gadis bersurai coklat di sudut kafe yang ditemani laptop. Jari-jarinya menari-nari di atas keyboard dengan lincah, pandangan yang tidak teralih dari laptop berhasil memancing atensi Filo.

Entah mengapa rasanya seperti ada magnet kuat yang menarik Filo untuk mendekati gadis itu. Perlahan ia melangkah. "Ha-i," sapanya.

Gadis itu mengangkat wajah. Kedua kelereng cokelat itu berhasil menghipnotis Filo hingga tubuhnya terpaku menatap manik indah itu.

"Ada apa?"

Suara gadis itu berhasil mengembalikan kesadarannya. "Oh-itu kafe udah mau tutup."

"Benarkah?" Ia melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya. "Astaga, udah setengah tujuh. Maaf, yaa aku gak ingat waktu gara-gara ngerjain tugas ini."

"It's okay." Ia mengulas senyum tipis melihat panik di sorot wajah gadis itu. "Mau kubantu?"

"Eh?"

"Sini kubantu." Filo membantu membereskan hamburan kertas yang jatuh ke lantai akibat kecerobohan gadis itu lalu memasukkan ke dalam tasnya. "Ah, sudah selesai."

"Terima kasih um ... namamu?"

Filo mengulurkan tangan. "Namaku Filo Renaldo, kamu bisa memanggilku Filo atau Edo, tapi teman-temanku sering memanggilku Edo sih."

"Namaku Sesya." Ia membalas uluran tangan Filo. "Kalau begitu aku akan memanggilmu Filo saja, aku suka nama itu."

"Mau kuantar pulang?" tawar Filo setelah melepas jabatan tangan mereka.

Sesya menggeleng pelan. "Rumahku dekat dari sini."

"Oke. hati-hati, ya."

Sesya mengangguk pelan lalu beranjak pergi dari sana.

"Sesya! Sering-sering ke sini, ya," pekik Filo yang dibalas kekehan kecil dari mulut Sesya.

"Hei, ngapain di luar terus? Ayo masuk!"

Filo menoleh ke samping, mendapati Sesya berdiri di ambang pintu dengan centong di tangannya.

"Aku udah masak buat makan malam, ayo makan!" ajaknya.

"Oke, Sayang."

Aku bodoh, ya, Sya? Sempat berpikir menyerahkan kamu pada Dana supaya kamu bahagia. Padahal keluarga kecil inilah sumber kebahagiaan kamu.

Ah, aku berterima kasih pada semesta telah menggagalkan usahaku. Yah, memang pada dasarnya manusia sepertiku ini tidak akan bisa mengubah takdir. Dari awal kamulah tulang rusukku, pelengkap hidupku dan tidak bisa diganti dengan yang lain.

Terima kasih sudah mencintai, menerimaku dan penyakit ini.

---

Tadaa kurang lebih gini penampakan mesin waktu milik Filo

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Tadaa kurang lebih gini penampakan mesin waktu milik Filo. Anw, kalau mau liat versi nyatanya bisa cek trailer di ig mageia contest, yaa♡

GratiaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang