14-A Cold Night

131 34 5
                                        

Siang itu, Sesya kembali menghabiskan waktu di atap sekolah bersama Filo. Ya, sekarang ia memang sudah memiliki teman, Jicko dan Biru. Namun, ia tidak tahan dengan suasana kelas. Tatapan-tatapan sinis tanpa sebab yang dilempar kepadanya membuat ia merasa risih dan memilih untuk menghindari tatapan-tatapan itu.

Lagipula udara segar di atap sekolah jauh lebih menyehatkan ketimbang udara pengap di dalam kelas.

“Teman-teman Mama gak pernah tanyain Mama ke mana pas istirahat?” tanya Filo sambil menikmati bekal yang dibawa oleh Sesya.

“Pernah sih sekali ditanyain sama Jicko, tapi aku jawab aja aku di perpustakaan, jadi dia gak banyak ngomong lagi deh,” jawab Sesya diakhiri kekehan kecil.

Seperti kata Biru, Jicko itu alergi dengan perpustakaan dan seisinya. Baginya perpustakaan adalah neraka dunia. Berlebihan memang tapi begitulah adanya. Namun, bagi Biru, perpustakaan adalah tempat terbaik untuk melarikan diri dari Jicko.

Sedangkan bagi Sesya, perpustakaan adalah awal dari munculnya warna-warna baru dalam skenario di masa putih-abu-abu ini.

“Terus kenapa Mama gak beneran ke perpustakaan aja?”

“Ngapain?”

“Apa lagi memangnya kalau bukan pendekatan dengan ayah.”

Sesya mengerucutkan bibirnya. “Maunya sih gitu, tapi kak Dana ‘kan harus belajar keras karena udah kelas dua belas. Nanti kalau aku ke perpustakaan malah buat dia terganggu.”

“Belajar sama-sama aja. Ide modus yang keren ‘kan,” usul Filo yang segera dihadiahi sebuah bogem mentah di kepalanya. “Kenapa aku dipukul, Ma?”

“Lagian kalau ngomong suka aneh-aneh sih.” Sesya memajukan bibir bawanya lalu tidak lama ia menatap Filo intents, membuat sang objek merasa risih.

“Kenapa Mama lihatin aku begitu? Aku makannya berantakan, ya?”

Sesya lantas menggeleng. “Kemarin aku ngomongin hal yang seru dengan kak Dana. Mau tahu gak?”

“Kalau aku bilang mau, Mama mau cerita gak?” Filo malah melempar balik pertanyaan kepada Sesya.

“Ya maulah, kalau gak mau ngapain aku tawarin.”

Filo mendengus. “Mana tahu kayak kejadian kemarin. Nawarin buat gabung ke kencan kalian berdua tapi gak mau kalau aku ikutan gabung,” ucapnya masih kesal dengan kejadian kemarin lusa.

“Eh masih diingat aja. Yaudah, aku minta maaf.” Sesya mengulurkan tangannya dan langsung disambut oleh Filo. “Nah, gitu dong.”

“Kalau aku gak maafin nanti Mama malah ngutuk aku jadi batu lagi.”

Sesya tertawa renyah mendengar ucapan Filo. “Kamu ini ada-ada aja. Sekarang aku certain, ya?”

“Silakan, Nyonya Sesya.”

Sesya terkekeh geli mendengar panggilan Filo. “Kemarin kami bahas tentang time traveller, dari penjelasan kak Dana aku baru tahu kalau kamu itu pergi ke sini melalui wormhole tapi … di mana lubang itu, Fi?” tanya Sesya bingung.

Namun, Filo malah tertawa keras, menertawakan pertanyaan Sesya yang begitu polos.

“Namanya memang wormhole, Ma, tapi bentuknya bukan beneran lubang.”

“Terus gimana?”

“Bentuknya itu seperti lift dengan menekan tombol-tombol yang ada di dalam itu baru bisa terjadi perjalanan lintas waktu.”

Ah, dasar Sesya bodoh! Bisa-bisanya ia mengira bahwa mesin waktu yang sering dibicarakan oleh Filo itu berbentuk lubang hitam seperti namanya.

“Terus mesinnya ada di mana sekarang?”

Pertanyaan Sesya membuat Filo terhenyak untuk beberapa saat. Lelaki itu tampak kebingungan saat akan menjawab pertanyaan yang diajukan Sesya.

“Kamu kenapa, Fi?”

“Eng-gak papa, Ma. Im okay.”

“Kalau oke ya dijawab dong. Aku ‘kan mau tahu kamu simpannya di mana. Barangkali aku bisa pakai dan jalan-jalan ke masa depan,” ucap Sesya antusias.

Lelaki itu mengulum senyum tipis seraya menggelengkan kepalanya pelan. “Buat apa ke masa depan kalau aku ada di sini, Ma?”
 


***


Bulir bening jatuh dari langit, membasahi Bengkulu dengan derasnya. Sesekali petir dating menyambar. Angin berembus cukup kencang, udara dingin masuk tanpa permisi melalui celah kosen jendela kamar Sesya.

Selimut tebal saja tidak cukup untuk melindungi tubuh si pemilik kamar dari dinginnya angin malam, membuatnya tidak bisa tertidur.

Berbeda dengan Filo yang sudah terlelap masuk ke dalam dunia mimpi. Tubuh jangkungnya berbaring di atas sofa panjang di kamar Sesya.

Jangan tanya kenapa dia ada di sana. Tentu saja ini berkat hasil paksaan Sesya dengan alasan takut sendiri sebab kedua orang tuanya ada perjalanan ke luar kota. Padahal sebelum datangnya Filo ia sudah terbiasa ditinggal sendiri di rumah.

Dalam cahaya remang-remang, Sesya menulusuri tiap inci rupa Filo dengan kedua maniknya. Mata sipit dengan double eyelid samar , hidung sedikit mancung dan bibir tipis bertengger sempurna di wajahnya yang berbentuk square.

“Ada yang salah sama mukaku?” tanya Filo menangkap basah Sesya yang fokus menatap dirinya.

“Hah? Iya-iya eh enggak, enggak ada, Fi,” jawab Sesya gelagapan.

Filo terkekeh geli. “Mama kenapa belum tidur?”

“Aku gak bisa tidur. Kamu sendiri kenapa bangun? Perasaan tadi nyenyak banget tidurnya.”

“Dingin, Ma.”

“Eh? Mau aku ambilin selimut tambahan?” tawar Sesya.

Namun, Filo menggelengkan kepalanya. “Im’ okay.”

Lalu mereka berdua sama-sama terdiam dan suasana kembali hening untuk sejenak. Hanya terdengar suara hujan yang jatuh ke atas genting dan sambaran petir yang saling sahut-menyahut.

“Butuh cerita pengantar tidur biar Mama tidur. Aku bisa bercerita untuk Mama,” tawar Filo.

Sesya langsung tertawa mendengar tawaran Filo. “Emangnya kamu pikir aku ini anak kecil apa. Harusnya itu aku yang bacain dongeng ke kamu, ‘kan yang anak itu kamu bukan aku.”

“Lalu aku harus gimana biar Mama bisa tidur? Mama gak mungkin bergadang, besok masih sekolah dan aku gak mau disalahin lagi kalau Mama telat.”

“Masih diingat aja.” Sesya menyengir lebar. “Kali ini aku gak bakal nyalahin kamu kok.”

“Tidur, Ma.”

“Ih, gak bisa, Fi. Gimana kalau kita cerita-cerita aja?”

Filo memiringkan posisi tubuhnya ke arah Sesya. “Mau cerita apa?”

“Hm … apa, ya?” Sesya mengerutkan dahinya. “Oh ini kenapa kamu temui aku? Bukan kak Dana aja?”

“Karena aku sayang Mama,” jawabnya cepat nan singkat.

“Eh? Jawaban macam apa itu?” Sesya tidak terima.

Filo menarik selimut erat kemudian memejamkan mata. “Udah larut malam, Ma. Tidur sekarang supaya besok gak kesiangan. Aku juga mau tidur.”

Sesya menurut perkataan Filo, karena besok pagi adalah kelasnya Sari, guru paling killer seantero Mageia High School. Namun, tetap saja sulit rasanya untuk memejamkan mata.

“Filo,” panggil Sesya pelan, berharap Filo masih bangun dan menemani ia hingga tertidur. Namun, tidak ada jawaban lagi. Sepertinya lelaki itu sudah kembali terlelap kembali ke dalam dunia mimpinya.

Sesya menghela napas berat sambil memandangi langit-langit kamar. “Makin ke sini perasaanku makin goyah. Dan kalau nanti ternyata aku malah jatuh cinta padamu bagaimana?”


---

Percakapan yang indah, ya, antara ibu dan anak:"

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Percakapan yang indah, ya, antara ibu dan anak:"

GratiaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang