Sesya hanyalah seorang murid Mageìa High School biasa yang memiliki kisah hidup monoton. Tak ada yang menarik dari hidupnya hingga sosok lelaki mendatanginya dan mengaku sebagai anaknya dari masa depan.
Benarkah lelaki itu adalah anaknya dari masa d...
Siang itu matahari bersinar terik di Bengkulu. Sepulang sekolah Sesya pulang bersama Jicko, tapi tak langsung ke rumah. Mereka mampir lebih dulu ke apartemen milik Biru untuk mengerjakan tugas kelompok yang diberikan kemarin.
Apartemen Biru tidak besar, tergolong kecil. Namun, itu satu-satunya tempat yang nyaman bagi mereka sekolah Sesya tak langsung pulang ke rumah. Ia harus mampir ke apartement milik Biru terlebih dahulu untuk mengerjakan tugas kelompok.
Apartement Biru adalah satu-satunya tempat yang nyaman untuk mengerjakan tugas. Kalau di rumah Jicko, ada adik kembar yang akan menganggu mereka nanti. Sedangkan rumah Sesya, masih ada Filo dan ia bingung harus memberi penjelasan apa pada mereka tentang Filo.
Kalau ia jujur, bisa-bisa ia akan dianggap gila oleh Biru dan Jicko. Siapa juga yang akan percaya kalau sosok seperti Filo adalah anak dari gadis SMA sepertinya.
“AH, AKU LAPAR!” pekik Jicko di depan kipas angin, mengagetkan Sesya dan Biru yang tengah fokus mengerjakan tugas masing-masing.
“Berisik woi!” Biru melempar bantalan sofa ke arah Jicko dan tepat mengenai wajahnya.
“Heh! Kalau wajah tampanku rusak gimana, hah? Mau tanggung biaya oplas?” protes Jicko kesal lalu melempar balik bantal itu pada biru. Namun, sayangnya Biru lebih gesit dan berhasil menangkap bantal itu sebelum mengenai wajahnya.
“Lagian siapa suruh berisik. Bukannya ngerjain tugas malah teriak-teriak gak jelas,” omel Biru.
Jicko memainkan mulut, meniru ucapan Biru dengan raut wajah meledek. “Aku laparlah, ada makanan gak? Tadi pagi aku kesiangan jadi gak sempat makan pagi, mana mamakku masak tempoyak lagi.”
“Mie instant ada, kalau mau masak sendiri sana,” usir Biru.
“Ha gitulah peka. Makasih, ya, Biru yang ganteng,” ucap Jicko sembari mendekatkan wajah pada Biru. Pura-pura hendak mencium pipi Biru. Namun, dengan cepat lelaki itu menepis wajah Jicko menjauh darinya.
“Najis! Pergi jauh-jauh sana!”
Sesya tertawa lepas menyaksikan pertengkaran antara Biru dan Jicko. Entah sudah berapa lama ia tidak merasakan fase pertemanan seperti ini.
“Najis-najis, kau kira aku binatang haram. Eh, Sya, mau dimasakin juga gak nih? Berhubung aku lagi berbaik hati ditraktir mie sama si Biru,” tawar Jicko.
Sesya menggeleng. “Enggak deh, Jick,” tolaknya.
“Bener nih? Ntar nyesal, masakan aku kayak masakan abang-abang di warung loh.”
Sesya terkekeh dan menggeleng lagi. “Enggak deh Jick, masih kenyang. Lagian gak fokus ngerjain tugas sambil makan.”
“Yaudah, kalau gitu aku masak buat sendiri aja. Bye, selamat stres ngerjain tugas buk Sari,” pamit Jicko lalu berlalu menuju dapur Biru yang terletak di belakang dinding pembatas.
Apartemen Biru terlihat cukup rapi. Sesya menilik ke tiap sisi, memperhatikan isi perabotan yang tersusun rapi. Tidak seperti lelaki lain, Biru benar-benar menjaga tempat tinggalnya dengan baik.
“Omong-omong, Bi, kamu tinggal sendiri di sini?” tanya Sesya.
“Iya,” jawab Biru singkat tanpa mengalihkan mata dari layar laptop.
“Orang tuamu ke mana?” tanya Sesya lagi saat melihat foto keluarga Biru yang terpasang di dinding.
“Mereka pindah-pindah, jadi aku pilih tinggal sendiri aja. Lagian aku udah besar dan harus latihan mandiri.”
BIru menghentikan aktivitasnya lalu menatap Sesya dengan dahi mengerut. “Apa kau mau menawarkan diri untuk tinggal di sini?”
“HAH?” Sontak Sesya menggelengkan kepala cepat. “YA KALI BI! Eh maaf-maaf, suaraku besar banget, ya?”
Biru mengedikkan bahu. “Jadi, maksudmu apa?”
Sesya menggigit bibir bawahnya. Maksud hati ingin menitipkan Filo untuk tinggal sementara waktu di tempat Biru, tapi ia jadi ragu. Pasalnya ia dan Biru belum akrab, selain itu sifat Biru yang dingin membuatnya harus pikir-pikir lagi.
Tidak kunjung mendapat jawaban, Biru menjentikkan jari tepat di wajah Sesya, membuat gadis itu terlonjak kaget. “Ditanyain malah ngelamun.”
Sesya menyengir canggung. “Hehe maaf, Bi.”
"Kau belum jawab pertanyaanku."
“Hm, sebenarnya aku mau menitipkan sepupuku di sini untuk sementara waktu, karena orang tuaku masih di luar kota dan aku takut kalau kami tinggal berdua nanti tetanggaku berpikir aneh. Apalagi kami seumuran, Bi, dan dia itu laki-laki.”
Maaf aku berbohong, Bi.
“Dia boleh tinggal di sini.”
Bola mata Sesya membulat lebar mendengarnya. “Seriusan, Bi? Eh, maksudku kalau kau merasa keberatan, kau bisa menolak kok. Jangan memaksakan diri.”
“Beneran gak masalah, suruh aja dia tinggal di sini. Lagipula hanya sementara waktu ‘kan.”
Seulas garis muncul di bibir Sesya lebar. “Makasih banyak, Bi. Hm, aku juga belum bilang ke dia sih, tapi nanti aku akan bilang ke dia.”
“Oke, gak masalah.” Biru kembali melanjutkan kembali mengerjakan tugas yang sempat tertunda karena Sesya.
Ah, semoga aja Filo mau tinggal di sini.
***
Jarum jam menunjukkan pukul setengah delapan. Sesya dan Filo baru saja menyelesaikan makan malam dengan menu sederhana buatan Filo dan sekarang mereka tengah mencuci piring bersama. Awalnya Sesya mau mencuci sendiri, tapi Filo memaksa untuk membantu.
Tentu saja Sesya menerima dengan senang hati. Selama ada Filo di rumah, semua pekerjaan rumah jadi lebih cepat selesai. Ia jadi merasa beruntung, karena Filo datang dari masa depan untuk menemuinya, bukan Dana.
Sesya senyum-senyum sendiri sambil melirik Filo yang tengah membilas gelas. “Makasih, ya, Fi.”
Filo menoleh sambil mengernyitkan alis. “Buat?”
“Semuanya.” Sesya menyengir lebar. “Kalau gak ada kamu di rumah, aku yakin seisi rumah ni kayak kapal pecah terus pas bunda pulang aku bakal dimarahin.”
“Makanya Mama belajar beres-beres sama belajar masak, masa kalah sama anak sendiri,” ledek Filo.
“Eh, aku bisa kok beres-beres cuma malas aja. Kalau urusan masak sih nanti aja pas udah nikah sama kak Dana,” ujar Sesya sambil menghayal kehidupan rumah tangganya nanti bersama Dana.
Filo hanya tersenyum tipis menanggapi perkataan Sesya. Ia juga mempercepat pekerjaannya membilas gelas-gelas.
“Ohiya, Fi, ada yang mau aku omongin sama kamu.”
“Ngomong aja, Ma.”
“Bentar lagi orang tuaku bakalan balik pulang ke sini, Fi. Kalau kamu tinggal sementara waktu sama temenku, mau gak?” tanya Sesya berhati-hati.
Filo menghentikan aktivitasnya lalh menarrap Sesya. “Teman? Mama punya teman di sekolah?” tanyanya terlihat sedikir terkejut.
“Punya dong. Namanya Biru, kebetulan dia tinggal sendiri di apartemen dekat sekolah. Jadi, aku bisa sering-sering ke sana buat ketemu kamu nanti,” ucap Sesya riang.
“Bukannya kalau aku balik tinggal di atap sekolah itu lebih baik? Mama gak perlu susah-susah ke apartemen Biru untuk ketemu aku, kita bahkan bisa lebih sering ketemu kalau aku tinggal di atap sekolah.”
Seketika raut wajah Sesya langsung berubah, senyum di wajahnya menghilang. “Kamu nolak, Fi?”
Filo mengangguk. “Aku gak suka tinggal sama orang asing, Ma. Lebih baik aku tinggal sendiri di atap sekolah.”
“Atap sekolah bukan tempat tinggal, Fi. Kamu bakal kehujanan, kedinginan, kepanasan, kamu bisa sakit kalau tinggal di sana,” ucap Sesya mulai tersulut emosi.
“Ma, tenang aja. Aku gak akan sakit, karena ... atap sekolah gak seburuk itu kok.”
Sesya memasang raut wajah memelas, tetap berusaha keras untuk memaksa Filo agar tinggal bersama Biru. “Fi, gimana kalau aku kenalin dulu kamu sama Biru?”
Namun, Filo malah menyunggingkan senyum tipis lalu melepaskan tangan Sesya dari tangannya. "Im sorry but I cant, aku gak perlu kenalan lagi dengannya.”
Ia maju beberapa langkap ke depan kemudian mengusap kepala Sesya. “Dont worry, atap sekolah gak seburuk itu, its like a home for me,” ucapnya sambil tersenyum lalu berlalu menuju kamar.
---
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Butuh Filo buat orang mageran kayak aku dan Sesya :" ---