11-Dark Side of Arel

158 35 3
                                        

Bengkulu siang ini sangat panas. Matahari bersinar sangat terik, membuat Sesya menunduk dalam, di belakang punggung Jicko untuk melindungi kepalanya dari terik matahari yang membara, padahal ia memakai helm milik Jicko.

Setelah jam sekolah berakhir, mereka berdua tidak langsung pulang ke rumah masing-masing. Sesya bersama Jicko pergi ke apartemen milik Biru terlebih dulu, untuk melanjutkan tugas kelompok yang belum selesai mereka kerjakan kemarin.

Setelah sepuluh menit, akhirnya mereka berdua tiba. Sesya melepas helm lalu mengibas-ngibaskan tangan di depan wajah. “Panas kali, astaga!”

“Udah, jangan ngeluh! Ntar kita ngadem di depan kulkas Biru,” sahut Jicko sambil memasukkan kunci motor ke dalam ransel. “Bisa jalan gak? Kalau gak bisa biar aku gendong.”

“Gak apa, udah baikan kok.” Luka di lutut Sesya mulai membaik setelah semalam diobati oleh Hanna. Kini ia sudah bisa berjalan dengan baik tanpa membutuhkan bantuan orang lain lagi, ya walaupun harus tertatih-tatih.

“Yakin? Kalau kamu gak mau aku gendong, biar aku panggil Biru buat gendong kamu,” usul Jicko sambil menaik-turunkan kedua alisnya.

“Ngomong apa tadi?”

Reflek Sesya dan Jicko membalikkan tubuh ke belakang, mendapati Biru berdiri di belakang mereka. Lengkap dengan seragam sekolah dan ransel cokelatnya dan di sebuah bungkus plastik hitam di tangan kanannya.

“Eh, kok ada di sini kau?”

Biru tidak menjawab pertanyaan Jicko, melainkan hanya mengangkat kantung plastik yang dibawanya.

“Apaan tuh?”

“Es krim, panas ‘kan?”

“Tau aja kau!” Jicko merebut plastik di tangan Biru lalu melihat isi plastik yang penuh dengan es krim berbagai rasa. “Baru gajian nampaknya, udah tunggu apa lagi? Yuklah masuk, selak cair ni es krim.”

Biru memutar bola mata malas melihat tingkah Jicko, sedangkan Sesya hanya terkekeh geli. Lalu ia menatap Biru cukup lama, membuat sang objek tersadar dan membalas tatapan Sesya.

“Kenapa?” tanya Biru.

Sesya menggeleng pelan. “ Um, aku mau tanya sesuatu. Apa boleh? Selagi gak ada Jicko di sini,” tanyanya sembari memainkan anak-anak jari.

"Tentang?"

“Hm … tetanggamu, E-edo.”

Biru mengerutkan dahi. “Edo? Kamu kenal dengannya?”

“Enggak, aku gak kenal dengannya,” jawab Sesya sambil menggeleng. “Aku cuma penasaran dengan tetanggamu itu, katamu dia mirip kali dengan an-Filo.”

Biru manggut-manggut paham. “Kamu mau bertemu dengannya, ‘kan? Tapi dia gak ada di apartemen sekarang.”

“Benarkah?” tanya Sesya dengan raut wajah kecewa.

"Dia pulang ke apartemen nanti jam sepuluh malam,” jawab Biru membuat Sesya semakin kecewa. “Tapi kalau kamu mau, besok pagi aku bisa atur janji dengannya supaya kalian bisa bertemu.”

“Benarkah?” tanya Sesya berbinar-binar.

Biru mengangguk pelan. “Karena kamu keliatan penasaran kali dengannya.”

“Makasih banyak, Bi. Ntar kamu aku traktir siomay deh,” ucap Sesya yang dibalas dengan senyuman tipis oleh Biru.

Tidak sabar rasanya bertemu dengan tetangga Biru yang bernama Edo, sosok lelaki yang katanya sangat mirip dengan Filo. Dan Sesya mau membuktikan sendiri perkataan Biru.

GratiaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang