23-Purple Hyancinth

139 31 18
                                        

Hari ini adalah hari kamis, berarti sudah tiga hari Sesya tidak masuk ke sekolah. Bahkan ia tidak keluar kamar sama sekali, karena flu yang tidak kunjung sembuh. Sejak kecil ia tidak memiliki daya tahan tubuh kuat, kena hujan sedikit saja bisa sakit. Bedanya, biasa ia hanya sakit sehari, berbeda dengan kali ini hingga tiga hari.

Ada terlalu banyak hal yang membuat Sesya kepikiran dan akhirnya menumpuk, menjadi beban di kepala. Potongan puzzle yang berhambur 'tak beraturan kini mulai tersusun. Namun, menyisakan beberapa bagian lubang.

Hanya Filo yang mampu mengisi bagian yang berlubang itu, tapi di mana Filo? Tidak ada yang tahu di mana rimbanya.

Tiba-tiba terdengar suara derit pintu terbuka, Hanna masuk ke dalam dengan nampan berisi makan siang dan tablet obat penurun demam. "Anak bunda mikirin apa, sih? Dari kemarin kerjaannya melamun terus."

Sesya menggeleng pelan. "Gak mikirin apa-apa kok, Bun."

"Kalau ada sesuatu yang mengganjal coba cerita sama bunda. Kamu lagi sakit, Sayang, gak boleh banyak pikiran," ucap Hanna lalu mendaratkan bokong di samping Sesya.

Terdiam sejenak sambil menatap langit-langit kamarnya. Ia lalu menarik napas panjang dan mengembuskan secara perlahan. "Bunda, Sesya boleh tanya sesuatu gak?"

"Tanya aja, tapi kamu sambil makan, ya? Bunda suapin."

"Iya, Bun." Sesya memainkan jari-jemarinya. "Bunda, kalau misalkan ada laki-laki seumuran Bunda datang dari masa depan terus ngaku jadi anak Bunda, apa yang akan Bunda lakuin? Posisi Bunda waktu itu masih SMA, sama kayak Sesya."

Hanna menyuapkan sesendok nasi beserta lauk ke mulut Sesya. "Kalau bunda, bunda akan cari tahu dulu apa benar dia dari masa depan atau bukan. Mungkin aja dia cuma anak iseng yang mau ngerjain bunda 'kan? Zaman sekarang kita gak boleh langsung percaya dengan orang asing."

"Kalau dia beneran dari masa depan dan ada buktinya, Bun?"

"Itu berarti dia jujur dan beneran anak bunda dari masa depan."

"Lalu misakan Bunda ketemu dengan orang yang mirip sekali dengan anak bunda itu gimana?" tanya Sesya lagi, membuat dahi Hanna mengerut saat mendengarnya.

"Maksud kamu gimana, Sya? Pertanyaanmu aneh sekali."

Sesya mengerucutkan bibirnya. "Maksud Sesya tuh gimana kalau Bunda ketemu dengan orang yang mirip kali dengan anak Bunda itu, bukan sekedar mirip tapi mereka itu adalah orang yang sama. Bedanya anak Bunda itu adalah versi tuanya orang itu, Bun."

Dahi Hanna mengerut, ia sedang mencoba mencerna pertanyaan Sesya yang aneh dan membingungkan. "Duh Bunda bingung, Sya. Pertanyaanmu aneh-aneh, gak bisa ganti pertanyaan?"

"Ih, mana bisa, Bun." Sesya mengerucutkan bibirnya.

Hanna menghela napas. "Kalau menurut bunda laki-laki yang ngaku jadi anak bunda itu bohong."

"Bohong?" Kini ganti Sesya yang bingung.

"Iya, Sayang. Artinya dia bukan anak bunda, buktinya dia sudah hidup di tahun yang sama dengan bunda."

Dia bukan anakku. Kata-kata itu membuat tubuh Sesya membeku. Kilasan memori bersama Filo terputar kembali. Jadi, selama ini ia telah dibohongi oleh laki-laki itu. Ah, bodoh sekali.

Namun, jika Filo bukan anaknya lalu ... siapa dia? Kenapa ia datang ke kehidupan Sesya? Mengaku sebagai anaknya, bahkan membantu Sesya mendekati Dana. Semesta memang penuh kejutan. Tidak ada habisnya.

***

Tok! Tok! Tok!

Daun pintu kamar Sesya dibuka lebar lalu Hanna masuk ke dalam dengan membawa sebuah buket bunga hyancinth bewarna ungu. Wanita berusia empat puluh tahun itu berjalan masuk dan meletakkan bunga itu di atas nakas.

"Ini ada bunga untuk kamu, Sya," ucap Hanna sambil memeriksa suhu tubuh Sesya dengan menempelkan punggung tangan ke dahi Sesya. "Udah turun panas kamu. Besok udah bisa sekolah."

"Tapi bunga itu dari siapa, Bun?" tanya Sesya dengan dahi mengerut.

Hanna mengangkat bahu. "Bunda gak tahu, gak ada nama pengirimnya. Tadi kurirnya juga gak tahu dari siapa. Jangan-jangan dari Dana," godanya lalu menyentil pelan pucuk hidung Sesya.

"Ih bundaa," rengek Sesya, tapi mana mungkin Dana yang mengirimnya. Lelaki itu jelas-jelas memberi tahu bahwa ada hati yang sedang dijaga.

Hanna terkekeh geli. "Itu ada suratnya juga, coba kamu baca. Mungkin di dalamnya ada ditulis nama si pengirim."

Sesya manggut-manggut paham. "Bunda keluar boleh? Sesya malu."

"Astaga! Anak gadis bunda udah besar, ya. Ya udah, bunda keluar dulu, ya, mau masak juga di dapur. Jam empat sore nanti jangan lupa minum obat, oke?"

"Oke, Bunda!" Sesya mengacungkan dua jempol, membuat Hanna terkekeh lalu wanita itu melangkah ke luar.

Sesya langsung mengambil buket bunga itu, mendekatkan hidung untuk menghirup aroma manis dari hyancinth. Senyumnya langsung mengembang saat aroma bunga itu masuk ke dalam indera pembau. Baru kali ini ia diberi hadiah sebuket bunga hyancinth.

Atensi Sesya beralih ke secarik kertas bewarna biru langit yang terselip di sela-sela bunga. Tanpa menunggu lama, ia langsung membuka dan membaca goresan pena dia atasnya.

Selamat ulang tahun Sesya Ornella ....

Hm, mungkin belum, ya? Aku sengaja kirim lebih cepat, karena aku takut tidak ada lagi di sini untuk memberimu hadiah. Sorry, aku gak bisa ada di sampingmu saat kamu ulang tahun nanti.

Eh, aku tidak memanggilmu mama :v apa kamu penasaran? Baiklah, nanti aku akan memberimu jawaban. Tunggu saja.

Tangan Sesya mengepal kuat. Tiap bait yang dituliskan Filo membuat hati Sesya pedih seakan dihunus oleh benda tajam. Lelaki itu bahkan tidak berpamitan dulu padanya sebelum kembali ke masa depan.

Bukankah aku sudah bilang jangan lupa pamit jika mau pergi, Fi Sesya menarik napas panjang sebelum melanjutakan lagi membaca surat itu.

Anyway, I just wanna say happy birthday and wisth you all the best. Do you know? You're the stronger woman I've met and please don't be sar though Im not beside you ....

Sya, aku tahu ada banyak pertanyaan di kepalamu tentang aku. Am I right? Honestly aku berharap aku punya keberanian untuk menjawabnya langsung, tapi sayang aku cuma pengecut. Aku gak punya keberanian untuk melakukannya.

Sya, kalau kamu penasaran, aku udah menyimpan jawabannya di rumahku. Find the key and you'll know anything about me.

For the last, thanks sudah percaya pada penipu sepertiku dan let me call you mama for the last time. Hm, aku sayang juga padamu, Ma.

Your son (?)

Filo Renaldo

Bulir bening yang tertahan di pelupuk mata Sesya akhirnya tumpah, mengalir di kedua pipi lalu jatuh membasahi surat itu. Sesya menekuk kedua lutut lalu menyembunyikan wajah di sana.

Kamu curang, Fi.

---

Bukan cuma sekedar bunga

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Bukan cuma sekedar bunga. Ada maksud tersendiri kenapa Filo ngirimin ini. Wanna know? Ask to google💐
•••

GratiaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang