Aku masih bisa berdiri dengan banyak hal yang sudah kupijak sampai saat ini.
Sejauh ini banyak hal yang menuntunku untuk berusaha tetap kuat, bukan hanya tantang rasa sakit tapi kamu mengajarkan ku tentang apa yang harus aku cari di dalam hidup ku.
Kamu tau?
bintang tak bisa bersinar tanpa ada nya Matahari, semuanya akan redup.
Gelap
Hening..
Aku yang telah kehilangan Matahari harus merangkak mencari cahayaku kembali.
Perih..
Banyak tujuan hidupku yang perlahan pergi.
Satu persatu..
Menitipkan secuil senyum untuk ku simpan sebagai penopang tubuh ku agar tetap bisa berdiri.
aku menyayangimu..
sangat menyayangimu.
"Hei, Hari bahagia ko ngelamun?"
Mataku yang sejak tadi menunduk akhirnya harus melihat pantulan diri yang terlihat tersenyum dalam sebuah cermin.
Aku melihat diriku sendiri, jauh banyak berubah dari ku yang dulu, entah ini bisa dikatakan pertumbuhan dewasa atau apapun itu aku tak tau.
Aku tersenyum pada Sahabatku, aku rasa dia mengerti dengan apa yang sedang aku pikirkan.
Bahkan tak terasa sudah satu jam aku memutar memori masa lalu ku yang selalu aku rindukan di setiap detiknya.
"lo bahagia?"
Aku menoleh pada Ziva, gadis ini tak banyak berubah, ia sungguh imut untuk wanita seumuran nya.
Aku mengangguk mantap, jelas saja aku sangat bahagia saat ini.
Ziva melihat pada buku berwarna biru yang sejak tadi aku genggam, buku karya ku yang menceritakan tentang aku dan dia, sang Melodi terindah yang aku punya dalam hidupku.
"Melodi Terakhir"
Ziva membaca judul dari buku ku, ia tersenyum dan sedikit meraba setiap tulisan nya.
"Yang lo kasih saat itu bukan melodi terakhir untuk Lyodra Ti, adek lo itu ada di sini"
Ziva menunjuk pada dadaku.
"Dia selalu ada di hati lo, lo bisa bernyanyi sepuasnya untuk dia, gue yakin dia selalu ada disetiap langkah lo Ti"
Ziva memeluk ku, dia yang selalu ada sampai aku bisa bangkit dari keterpurukan ku beberapa tahun yang lalu.
Pintu kamarku terbuka, aku menoleh pada Lelakiku, cinta pertama ku di dunia ini. walaupun rambutnya sudah mulai memutih tapi wajahnya selalu terlihat tampan bagiku.
"Anak Ayah cantik sekali"
Aku menghampirinya, sedikit menepuk debu di jasnya lalu memeluk Ayah dengan sangat erat, Hari ini ia akan melepasku pada lelaki yang lain.
"Ayahku selalu tampan"
Terdengar gelak tawa Ayah karena mendengar perkataan ku, ia menangkupkan telapak tangan nya di kedua pipiku, ia tersenyum hangat padaku.
"Bahkan sampai saat ini dimata Ayah kamu adalah putri kecil Ayah Nak"
Aku menghapus air matanya, tak ingin terlihat sedih walaupun aku pun sama beratnya saat harus terlepas dari Ayah dan memulai hidup baruku dengan lelaki yang dengan jantannya memintaku pada Ayah.
"Ayo tuan putri"
Aku tersenyum dan menggandeng tangan Ayah yang akan mengantarku menuju teman hidupku nanti.
Aku melihat semua mata tertuju padaku saat aku menuruni tangga dan dari sini aku jelas melihat lelaki berpakaian serba putih yang kini tengah berkaca-kaca saat melihatku.
Aku sedikit masih tak percaya jika sekarang aku akan menikah.
"Saya terima nikah dan kawinnya Tiara Andini Sastrawijaya binti Adrian Sastrawijaya dengan maskawin tersebut dibayar tunai!"
Sah..
Semua bersorak lalu larut dalam doa yang mereka panjatkan untuk ku dan suamiku.
Aku sempat mencuri pandang pada Ayah yang saat ini menangis, ingin ku peluk kembali tubuhnya saat ini.
Aku merasa tangan ku di genggam.
Anrez putra Adelio, suamiku
Dia menatapku penuh kasih sayang, lelaki hebat yang langsung direstui oleh ayahku.
Aku menghela nafas lega, pandanganku lurus menatap bayangan samar seseorang yang sangat aku rindukan, aku tau mungkin itu hanya halusinasiku atau ia memang datang karena merindukan ku.
Dia yang tersenyum itu perlahan terlihat memudar, tangisku tak bisa terbendung, aku sangat merindukan nya.
Ly.. terimakasih, aku sudah bahagia saat ini...
~Selesai~
KAMU SEDANG MEMBACA
Melodi Terakhir
Fanfiction"kalau gue bisa, gue justru ingin ngembaliin semuanya supaya lo pergi dari hidup gue" ~Tiara~ "itu adalah harta terbesar yang gue punya saat ini, salah kalau gue cuma mau jaga apa yang saat ini gue punya?" ~Lyodra~
