Malam melangkahkan kakinya keluar kelas diikuti Juna yang tiba-tiba saja memeluk lehernya dari arah belakang.
"Al, lo deket sama Clarissa anak cheers itu?" Tanya Juna penasaran. Pertanyaan tiba-tiba Juna itu membuat Malam menoleh tanpa minat kepadanya. Tentang Clarissa, dia adalah cewek yang sempat mendatangi Malam sewaktu pementasan demo ekskul kemarin, kedatangan Clarissa menuju ke arah Malam langsung mendapat lirikan lebih dari orang-orang yang berada di sekitar sana, alasannya tentu saja karena mereka berdua adalah jajaran orang-orang terkenal di Airlangga.
"Kenapa? Gebetan lo?" Tanya balik Malam sarkastik. Apapun yang berada di kepala Juna saat ini, dengan pertanyaan yang Malam lontarkan seketika membuat Juna tersenyum misterius.
"Iya, dia gebetan gue." Balas Juna sambil memasang senyum lebar, yang tidak dapat dipungkiri langsung membuat Malam mual.
"Tenang, nggak usah cemburu. Dia kemarin ngomong sama gue karena dia kapten cheers, dia nanya-nanya tentang jadwal performnya doang." Ujar Malam sibuk menjelaskan.
"Owh, gitu ya hehe." Juna masih saja tersenyum lebar membuat Malam menaikkan salah satu alisnya. Rangkulan sok akrab Juna terlepas saat mereka berdua sudah sampai di depan loker masing-masing.
Hari ini jadwal kelas Malam ada olahraga yang diampu oleh pak Danu. Beliau memerintahkan anak murid di kelas IPA 1 semua untuk olahraga di lapangan, maka dari itu Malam dan seluruh teman-temannya menuju ke loker untuk mengambil baju olahraganya.
"Wuisss, ati-ati buka lokernya broh, jangan kaya kemarin ntar lo kena hujan cyoklaatt dari para penggemar." Kata Dodit lebay di sebelah Juna yang melirik kecil ke arahnya. Malam yang mendengar penuturan Dodit seketika membalikkan badan kemudian tersenyum miring.
"Lo mau? Ambil aja." Malam menjawab santai, membuat Dodit menegakkan tubuh. Bersiap menimpa limpahan coklat untuk ia bagi-bagikan kepada para penggemarnya. Untuk tepe-tepe tanpa modal tentu saja.
"Beneran nih?" Dodit menatap berbinar ke arah Malam.
"Dasar fakir." Gerutu Juna yang asyik menggosip di belakang dengan Bima yang tengah menyenderkan tubuh di salah satu bilik loker tanpa mendengarkan ocehan Juna tadi.
"Duh, makasih my night night." Kata Dodit sambil tersenyum sumringah.
"Emang seharusnya barang bawaan gue tetap di tas aja." Gerutu Malam. Sebenarnya dia bukannya tidak suka, tidak menghargai atau apapun itu. Malam tidak pernah sekalipun membuang barang-barang dari penggemarnya karena ia menghargai mereka. Kadang juga, Malam membawa pulang sebagian coklat untuk ia bagikan ke anak-anak yang berada di komplek rumahnya, tetapi jika terus-terusan di temukan coklat di loker Malam, ia malah mulai sebal sendiri.
Karena yang pertama, Malam benar-benar kerepotan ketika harus mengurusi coklat yang terkadang jatuh ketika Malam membuka lokernya, atau yang kedua kalau saja Malam lupa membuka lokernya beberapa hari, maka akan banyak di temukan coklat lumer yang membuat seisi lokernya di kerubungi semut, beruntungnya setelah banyak orang yang mengetahui insiden loker Malam yang penuh semut itu, para penggemarnya menjadi beralih memberikan hal lain ke lokernya. Seperti surat cinta atau bunga. Hal yang membuat Malam lagi-lagi kesal adalah karena ia benci dengan bunga!
"Al, ini beneran gue boleh ngambil kan?"
"Iya." Jawaban singkat Malam membuat Dodit langsung memberikan hormat untuk mematuhi persetujuannya. Dengan langkah di buat-buat, Dodit mendekati loker Malam kemudian membukanya pelan. Hal yang membuat Dodit tercengang adalah, ketika ia menemukan suatu kejanggalan dalamnya.
"Loh?" Ucap Dodit membuat Juna dan Bima menoleh penasaran ke arahnya.
"Kenapa?" Tanya Juna penasaran sambil langkahnya ia dekatkan ke arah Dodit yang sedang memasang wajah terkejut di depan loker Malam.
KAMU SEDANG MEMBACA
Senja dan Malam
Fiksyen Remaja"Gue manusia, bukan siklus harian. Kalau lo bilang Malam sama Senja itu berdampingan, lo salah. Karena Malam akan muncul saat Senja udah nggak nampilin dirinya lagi. Dan Malam sama Senja itu diciptakan, agar hanya salah satu yang akan terlihat dan b...
