16 - Formulir organisasi

27 0 0
                                        

Awan mendung nan pekat mengiringi langkah Senja yang baru saja turun dari bus. Ia langsung mengeratkan kedua tangan ke pegangan tas di kanan dan kirinya, dengan langkan kakinya yang mulai ia percepat untuk kembali karena jarak dari rumah dan pemberhentian bus tadi memang tak terlalu jauh.

"Padahal tadi cerah, kok tiba-tiba aja mendung?" Cicit Senja lirih tanpa mau memandang lagi langit yang mulai menghitam. Ia hanya berjalan dengan  pandangan matanya yang terfokus pada jalanan.

Hanya butuh waktu tiga menit, kini ia sudah sampai di pekarangan rumah. Senja seketika menghembuskan nafas lega karena ia sudah sampai di rumah sebelum hujan turun, atau mungkin Senja bahkan berharap bahwa tidak akan ada hujan lebat yang menyeramkan.

"Assalamu'alaikum."

Senja membuka pintu rumah, menundukkan tubuh agar mempermudahnya menguraikan tali yang terikat di sepatu, kemudian meletakkannya di rak yang berada di pinggir pintu dengan rapi.

"Wa'alaikumsalam." Balasan baru Senja peroleh ketika ia mulai memasuki ruang keluarga, ia menoleh ke arah sesosok laki-laki yang sangat ia kenal, tengah duduk santai di atas lantai berkarpet sambil kepalanya ia senderkan ke sofa di belakangnya, dengan tangan kanannya yang sibuk memasukkan keripik kentang ke mulut.

"Baru pulang lo?" Tanya Kresna tanpa mengalihkan tatapan dari siaran TV yang tengah ia tonton.

"Biasanya juga pulang jam segini." Balas Senja sambil melangkahkan kaki untuk mendekati abangnya itu.

"Oh iya, lupa." Jawab Kresna sambil berganti posisi, ia memutar tubuh atasnya untuk tiduran di atas karpet, dengan kedua kakinya yang menaiki sofa di belakangnya.

Senja meletakkan tasnya di sebelah kaki Kresna, kemudian duduk bersebelahan dengan tubuh Kresna yang entah sedang berakrobat dengan posisi apa.

Senja mendesah pelan, kemudian ia menoel kecil kaki Kresna di sebelahnya. "Bang."

"Iya, jemurannya udah gue angkat semua." Balas Kresna tanpa menoleh, masih berfokus pada tayangan TV yang tengah ia tonton.

"Ih! Bukan."

"Apaan?"

"Bang, jadi tadi—–."

"BWAHAHAHA ANJROT CELANANYA DI PLOROTIN—–ADAWWWW!!!!" Kresna berteriak nyaring dengan kaki yang langsung terjatuh dari posisi di atas sofa saat Senja menarik dua helai bulu kakinya dengan keras.

Dengan segera, Kresna langsung mengusap-usap bekas tarikan rambut di kulit kakinya karena terasa perih, Senja yang melihat tingkah Kresna hanya bisa menaikkan bibir atasnya sebal sambil jarinya langsung membuang bukti rambut kaki Kresna.

"Lo apa-apaan si!" Kesal Kresna dengan kepalanya yang ia tolehkan ke arah Senja.

"Lagian, di ajak ngomong malah ribut sendiri." Balas Senja membela diri, Kresna berganti menaikkan bibir atasnya ke arah samping, memandang Senja dengan tatapan sebal.

"Lo kira nggak sakit apa bulu kakinya di tarik?"

"Nggak tau deh, kan aku nggak punya." Senja mengendikkan bahunya acuh, membuat Kresna merotasikan bola matanya kemudian kembali menyender di sisi depan sofa.

"Kenapa? Mau curhat lagi lo?" Kresna melirik ke arah Senja, kentara sekali kalau wajah Senja kelihatan murung, ia pasti Ingin mencurahkan apa yang ia rasa kepada Kresna.

Senja langsung mengangguk ketika ia mendengar penuturan Kresna, yang tentu saja benar adanya.

"Daun salam lagi?"

"Kak Alaaaammm abaaanggg."

"Ya itulah, emang kenapa lagi dia?" Senja menggembungkan salah satu pipinya ketika mengingat apa yang terjadi tadi.

Senja dan MalamCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang