Ruangan putih dengan cahaya matahari yang mengintip dari jendela, gorden putih yang berkibar ditiup semilir angin, dan wangi desinfektan yang begitu kental menguar di udara. Semuanya terasa sangat familiar.
Kalau pun ada yang berbeda, adalah tidak adanya rasa sakit di seluruh tubuh, tumpukan buket bunga yang dulu menyambutnya, serta kehangatan yang tengah menyelubungi tangan kanan Beam.
"Kau sudah sadar? Syukurlah . . .", perlahan-lahan Beam mengerjapkan matanya, berusaha melihat lebih jelas pemilik suara yang hangat itu.
Ternyata bukan hanya tangan dan suaranya yang hangat, namun sinar mata dan senyuman pria itu juga memancarkan kehangatan yang sama, kehangatan yang penuh dengan cinta.
Dan seketika Beam tersentak. Ia kenal mata ini, retina coklat yang selalu menatap balik ke arahnya seolah-olah Beam adalah hal terbaik yang ada di hidupnya. Forth selalu memandangnya dengan mata ini.
"Kenapa? Apa ada yang sakit?"
Beam masih terdiam, tubuhnya sama sekali tidak sakit namun ia sedang menunggu sesuatu, "Kumohon sebut sekali saja namaku . . . Beam" harap Beam dalam hati. Jauh di dalam lubuk hatinya ia percaya bahwa segala hal absurd yang ia lewati hanya mimpi buruk belaka. Mana mungkin ia berpindah ke dunia lain dan hidup sebagai seorang penyanyi. Benarkan? semua hanya mimpi, kan?
Pria yang di samping Beam mengeratkan genggaman tangannya dan menatap ke arah Beam dengan cemas, "Apa mau Phi panggilkan dokter, Tee?"
Hati Beam serasa luluh lantak mendengarnya. Nama itu bukan hanya meneguhkan bahwa semua yang Beam alami adalah kenyataan, namun juga bagaikan sebuah kunci yang membuka kotak ingatan milik Thanapon Jarujitranon.
Ini adalah hadiah yang Beam minta dari tiga gadis itu, memberikannya ingatan Tee namun tidak menghilangkan ingatannya sebagai Beam. Dan setelah menyaksikam semua ingatan Tee yang bagaikan film panjang dalam kepalanya, ia tidak bisa menahan buliran air mata yang berjatuhan dari kelopak matanya. Menerima ingatan Tee bukan hanya membuat Beam memahami kesedihan dan ketakutan yang Tee alami karena rasa cintanya pada Tae, tapi juga membuat Beam seakan-akan kehilangan jati dirinya sebagai Baramee Vongviphan.
Sekarang ia memiliki rupa dan ingatan sebagai Tee, masih pantaskah menyebut dirinya sebagai Beam?
Melihat air mata Beam yang semakin deras, Tae mengeratkan genggaman tangannya, ia benar-benar ingin memeluk pria di hadapannya namun takut pelukannya hanya membuat keadaan semakin buruk, "Tenanglah Tee, Phi ada di sini. Phi sudah panggilkan dokternya, mereka akan sampai sebentar lagi. P'Tae tidak akan kemana-mana dan akan selalu di samping Tee".
Bukannya menenangkan, kata-kata Tae malah membuat Beam terisak lebih keras karena menyadari bahwa sekarang tidak ada lagi Forth di sampingnya, yang ada hanya Tae.
Ketika dokter berlarian mengecek keadaan Beam dan tak menemukan apapun yang salah, mereka menyatakan bahwa Beam mungkin merasa terkejut karena kecelakaan beruntun yang telah menimpanya.
"Jangan tinggalkan dia sendirian, Khun Thanapon hanya memerlukan seseorang disampingnya sampai ia merasa tenang" ujar dokter kepada Tae seraya berjalan keluar kamar.
Setelah mengantar dokter ke luar kamar, Tae kembali duduk di samping Beam dan menggenggam tangan Beam yang tengah memandang lurus ke depan dengan tatapan kosong.
Seraya memperhatikan wajah Beam yang terlihat begitu lemas, Tae mengingat-ingat kejadian yang ia alami malam sebelumnya. Dua jam setelah mereka berpisah, seseorang dari rumah sakit meneleponnya dan mengabarkan kalau Tee mengalami kecelakaan.
Tae ingat bagaimana saat itu ia pontang-panting berlari menuju mobilnya dan melajukannya dengan kecepatan penuh ke rumah sakit. Jantungnya berpacu dengan sangat cepat, dan keringat dingin mengucur di dahinya saat membayangkan hal yang mungkin terjadi pada Tee.

KAMU SEDANG MEMBACA
Give Me Back My Life As Beam!!!
FanfictionDisclaimer: - This story is work of fiction. The story does not depict how the actors/actress live their lives nor does it reflect their personality in real life; - Any similarities of the story to real persons, places, and events is purely coincide...