Hari ini lagi-lagi hujan turun. Sama seperti jumat malam lalu, hujan yang turun hari ini pun tidak terlalu deras, berguntur atau berpetir. Bagi sebagian orang yang menyukai hujan yang tenang, suasana ini sangat sempurna untuk duduk di pinggir jendela sambil menyeruput teh atau coklat panas sambil memperhatikan bulir-bulir air yang berjatuhan dari langit, namun bagi yang tidak suka hujan karena mungkin punya rencana di luar ruangan, mau tak mau harus berdiam diri sambil memikirkan hal menyenangkan yang bisa mereka lakukan kalau hujan tidak turun.
Biasanya Tae ada di golongan yang pertama. Ia sangat suka hujan. Saat hujan turun pasti akan terasa menyejukan karena air akan membasuh udara polusi yang memenuhi kota, suara serta wangi hujan juga membuat Tae merasa tenang dan membantunya tidur dengan lebih mudah.
Tapi hari ini adalah pengecualian. Sejak tadi ia mengerutkan kening dan berharap agar hujan segera berhenti dan digantikan matahari yang bersinar dengan cerah, Tae merasa hujan yang membawa suasana sendu membuat raut wajah Tee, yang selama beberapa hari ini terlihat gundah, menjadi semakin getir. Tae berpikir mungkin kalau cuaca bersinar dengan cerah, paling tidak bisa sedikit menaikan mood Tee dan membuat kerutan yang ada di dahi pria itu berkurang.
"Tee, bagaimana kalau kita pulang dulu saja. Walau ingatan Tee telah kembali, tapi mama merasa lebih baik Tee beristirahat di rumah kita"
Kata-kata mama Tee membuat perhatian Tae teralihkan dari hujan di luar jendela ke arah pemandangan Tee yang tengah dikelilingi oleh keluarganya. Sejak keluarga Jarujitranon sampai pagi ini dan melihat sendiri bagaimana Tee telah mendapatkan kembali ingatannya, mereka terlihat sangat bahagia. Adik dan Kakaknya bersorak kegirangan sambil memeluk Tee, dan bahkan kepala keluarga Jarujitranon yang biasanya berwajah tenang, sampai tak bisa mengendalikan emosi dan menitikan air mata, tapi tidak dengan Mama Tee.
Wanita yang bagikan poros keluarga Jarujitranon itu langsung menyadari ada hal lain yang terjadi pada putranya. Ia bisa melihat perbedaan pada sorot mata dan senyuman yang Tee sunggingkan saat mengakui bahwa ingatannya telah kembali. Maka sejak tadi, sesuai perkiraan Tae kemarin, mama Tee terus saja membujuk putranya untuk pulang ke rumah mereka.
"Tapi ma, Tee benar-benar sudah sehat lagipula mama tahukan minggu ini ada banyak promosi yang masih harus Tee dan P'Tae lakukan. Tee janji akan pulang saat masa promosi berakhir" jawab Tee yang dibalas helaan nafas oleh Mamanya. Sejak tadi Tee terus saja menolak tawarannya dengan kata-kata itu.
Mama Tee masih merasa tidak puas dengan keadaan yang sekarang harus mereka jalani. Kalau bisa ia ingin sekali tinggal bersama Tee untuk sementara, namun dengan pandangan yang beralih ke arah putra bungsu dan suaminya, Mama Tee tahu bahwa sama seperti sebelumnya ia tidak punya banyak pilihan. Selain tak tega meninggalkan putra bungsunya yang masih bersekolah, di rumah mereka ada nenek Tee yang harus terus menerus di pantau. Walau ia berada di samping Tee, pikirannya pasti merasa tidak tenang.
"Kalau mama merasa khawatir, mama tinggal saja beberapa hari bersama N'Tee. Aku yang akan mengurus keadaan rumah selama mama pergi, bagaimana?" tawar putri tertuanya. Setelah memikirkan kata-kata putrinya, mama Tee pun mengangguk. Insting keibuannya seakan memaksa harus tinggal bersama Tee walau hanya beberapa hari.
Tae yang dari tadi berdiri di ambang pintu bersama Janean sedikit lega mendengar keputusan itu. Sama seperti mama Tee, kedua orang itu juga semakin khawatir dengan kondisi Tee yang terlihat semakin buruk. Apalagi sejak pembicaraan Tae dengan Tee semalam, ia merasa tatapan Tee semakin kosong dan senyum tipis yang pria itu sunggingkan terlihat bagaikan robot.
Dalam hati, Tae merasa sangat bersalah melihat keadaan Tee. Ia curiga kekosongan di mata Tee yang semakin parah terjadi akibat kata-katanya semalam. "Apa Tee tahu makna kalimat itu? Apa ia benar-benar tidak suka pada perasaan cinta yang kurasakan padanya sampai-sampai pancaran matanya sekosong ini?" pikir Tae ketakutan. Apalagi sejak tadi malam Tee selalu mengalihkan pandangan tiap kali mereka tak tak sengaja saling bertatapan. Tee yang seakan tak mau melihat Tae membuat kecurigaan dan ketakutan pria itu semakin besar.

KAMU SEDANG MEMBACA
Give Me Back My Life As Beam!!!
FanfictionDisclaimer: - This story is work of fiction. The story does not depict how the actors/actress live their lives nor does it reflect their personality in real life; - Any similarities of the story to real persons, places, and events is purely coincide...