Melihat mata Tee yang membulat karena terkejut sama sekali tidak membuatku heran. Selama ini Tee selalu menerima pernyataan cinta dari wanita, pasti pernyataan cinta dari seorang pria adalah hal baru untuknya.
Tapi kalau berpikir seperti itu, aku juga seharusnya terkejut dengan diriku sendiri. Selama ini aku selalu berpikir bahwa aku hanya menyukai perempuan, tapi kehadiran Tee dalam hidupku membuatku mempertanyakan hal itu. Walau penampilan fisik Tee bukan alasan utama mengapa aku bisa jatuh cinta padanya, tapi dengan mata hitam besar dan bersinar, bulu mata lentik yang berkibas seraya ia mengerjapkan mata, alisnya tebal yang membingkai wajahnya, serta bibir pinknya yang melengkung indah walau ia merenggut, kurasa tidak akan ada seorang pun yang bisa menolaknya. Ia sangat indah.
"K-kau jatuh cinta padaku?", tanyanya tergagap. Rasa gugup yang sebelumnya menyelubungi ku kini berganti dengan perasaan lega karena ia tidak kelihatan jijik atau marah dengan apa yang baru saja kukatakan. Tee hanya terlihat kebingungan.
"Iya aku jatuh cinta padamu" ulang ku, semakin sering aku mengucapkannya semakin bertambah pula perasaan cinta yang kumiliki untuknya, "Aku suka bagaimana kau selalu memikirkan orang lain, walau terkadang kau menaruh kepentingan orang lain di atas kepentinganmu, dan aku kurang suka hal itu, tapi aku tahu kau benar-benar tulus dan baik. Aku suka bagaimana kau mengatakan apa yang kau pikirkan dengan tenang walau sedang marah. Aku juga suka masakan buatanmu, Tom Yum mu sangat lezat dan bayangan akan dirimu yang berada di dapurku memasak makanan untuk kita berdua membuatku merasa sangat bahagia. "
Tee terdiam lama sekali setelah mendengar kata-kataku, ketika akhirnya ia membuka mulutnya yang terkatup dengan rapat, nada suara yang begitu dingin meluncur keluar, "Bukannya Phi mencintai Sawana?"
Seharusnya aku tak heran kalau hal pertama yang ada di pikirannya saat aku menyatakan cinta adalah hubungan yang ada di antara diriku dan Sawana. Aku tahu banyak orang salah paham akan hubungan kami, tapi kenyataannya tidak seperti itu.
"Seperti yang kukatakan hari ini di hadapan wartawan, Sawana adalah sahabatku, ia seperti adik laki-laki yang tak kumiliki. Jadi mana mungkin aku bisa menjalin hubungan dengan adikku sendiri ?"
"Tapi Phi sangat perhatian pada Sawana, Phi bahkan tidak begitu suka kan saat aku mengajak Sawana ke taman bermain?" cecarnya lagi, ia kelihatan tidak puas dengan jawabanku.
Aku menganggukan kepala, mengakui kebenaran kata-katanya, "Hmm... kurasa itu karena instingku sebagai Phi yang ingin melindungi adiknya, tapi belakangan ini aku berpikir jangan-jangan alasan sebenarnya aku tidak suka kalian bertemu adalah aku tidak ingin Tee jatuh cinta pada Sawa atau Sawa jatuh cinta pada Tee"
"T-tapi . . . bukankah aku tipe orang yang tidak Phi sukai?" kata Tee, ia benar-benar kelihatan panik sekarang.
Aku mungkin bisa memaklumi pertanyaan yang Tee ajukan sebelumnya, tapi untuk pertanyaan kali ini aku tidak bisa menahan diri untuk tidak menaikan sebelah alisku, aku tidak mengerti mengapa Tee bisa berpikir seperti itu. Bukankah setelah kecelakaan aku selalu bersikap baik padanya? Apa dia mulai mengingat bagaimana aku suka bersikap dingin padanya sebelum kecelakaan? Tapi itu kan karena ia terus berusaha mendekati Sawana dan aku belum menyadari perasaanku.
"Phi tidak mengerti kenapa Tee bisa berpikir seperti itu, apa ini karena Tee merasa Phi jarang menunjukkan perhatian Phi pada Tee?" tanyaku balik, aku merasa sedikit menyesal karena Tee sampai terpikirkan hal seperti itu.
Sejak menyadari perasaanku pada Tee di pulau Fata, aku berusaha menunjukkan perhatianku pada Tee. Aku selalu mencari cara agar kami bisa menghabiskan banyak waktu bersama dengan berbelanja, mengobrol saat makan, bahkan sedikit mendesaknya untuk menonton bersama di ruang keluarga. Semua itu kulakukan selain agar ia menyadari bahwa aku ingin sekali menghabiskan banyak waktu bersamanya, juga agar ia merasa nyaman dengan kehadiranku di sampingnya.

KAMU SEDANG MEMBACA
Give Me Back My Life As Beam!!!
FanfictionDisclaimer: - This story is work of fiction. The story does not depict how the actors/actress live their lives nor does it reflect their personality in real life; - Any similarities of the story to real persons, places, and events is purely coincide...