"Kau mau makan lagi?"
"Bibi aku selesai." Grey mengusap perutnya yang sedikit mengembung. Sudah lama dia tak merasakan masakan rumahan. Memakan masakan Michael membuat rasa rindunya sedikit terobati.
"Kau sangat kurus, ayo tambah lagi."
Grey menatap Gilbert meminta bantuan dengan matanya. Gilbert tersenyum kecil sebelum mengehentikan ibunya yang terus memaksa untuk memasukkan makanan ke piring mereka.
"Sudah cukup bu. Kami memiliki sesuatu untuk di bicarakan."
Michael memasang wajah tak suka, "apalagi yang akan kalian lakukan? Sudah malam, saatnya bersantai."
"Suatu hal yang tidak dapat ditunda."
"Sesuatu?" Michael menatap anaknya penuh selidik.
"Aku tidak bisa memberitahumu." Gilbert menjawab dengan tenang.
Michael mendengus kesal namun tak memaksa lagi, dia tahu bagaiman anaknya ini. Jika benar-benar penting dia tidak akan memaksa keduanya untuk terus menemaninya.
"Yah kalau begitu pergilah."
Gilbert mengajak Grey untuk segera mengikutinya,
Grey yang paham maksud Gilbert segera berdiri, namun kembali berhenti melihat meja makan yang masih penuh dengan makanan merka "tunggu dulu. Biarkan aku membersihkan meja terlebih dahulu."
Michael segera menyilangkan kedua tangannya, "Tidak perlu. Bibi bisa melakukannya sendiri."
"Tidak apa-apa bibi."
Sangat tidak etis baginya jika datang kesini hanya numpang makan tampa membantu untuk masak atau sekedar membersihkan meja.
Melihat bagaimana keras kepalanya menantu masa depannya, Michael segera menyuruh anaknya untuk membawa Grey pergi, "Bocah bawa saja kekasihmu. Nikmati saja waktu kalian berdua."
Gilbert mengangguk, memberi kode agar Grey mengikutinya. Namun sebelum benar-benar menghilang dari hadapan ibunya dia tak lupa memberi peringatan, "Jangan terlalu memaksakan diri. Tinggalkan jika kau tak sanggup."
Disisi lain Grey terlihat pasrah sampai pria itu membawanya kedalam kamarnya.
Tunggu!!
Kamar?!
Ohw bukan, ternyata ini ruang kerjanya.
Grey menghembuskan nafas lega. Tata letak kedua apartemennya ini tidak jauh berbeda. Sepertinya Gilbert juga mengubah salah satu kamar disini sebagai ruang kerjanya.
Grey menatap lautan hitam di sekelilingnya, jika saja tidak ada lampu mungkin ruangan ini akan menjadi lubang hitam sepenuhnya.
Gaya ini sangat cocok untuk gaya pria didepannya ini.
"Kenapa kesini?" Grey bertanya sambil melihat sekeliling dengan penasaran.
"Duduklah dulu." Gilbert memberi isyarat untuk duduk di depan meja kerjanya.
Setelah duduk segera sebuah Leptop diserahkan padanya. Grey melihat leptop tersebut dengan sedikit kagum yang terlihat jelas diwajahnya. Dia pernah melihat jenis leptop ini waktu dia ingin membeli komputernya, tapi melihat harganya dia memilih untuk menunggu dan mengumpulkan uangnya terlebih dahulu.
Jangan memaksakan diri jika kau benar-benar miskin.
Melihat Grey mengelus leptopnya dengan hati-hati, tak ayal senyum kecil segera tercetak di bibirnya, "Disini ada beberapa hal petunjuk terkait Anna."
"Petunjuk lainnya?"
"Ya."
Terlepas dari semua kekagumannya, Grey segera menegakkan punggungnya bersiap memberikan protesannya kepada Gilbert.
KAMU SEDANG MEMBACA
Iam Not Thief
RandomKecelakaan konyol itu membuat ia berada di dunia yang hampir persis sama dengan dunia tempat ia tinggal dulu.
