Brian menyandarkan tubuhnya dibawah pohon yang sangat besar. Dia dan seorang gadis yang dia nobatkan sebagai bos ini sekarang berada di tepi Hutan Perbatasan dengan keadaan yang sangat menggemaskan dengan status buronan negara.
Sangat bagus.
Beberapa tahun yang lalu dia tak akan percaya pria baik-baik yang memberi makan kucing di jalan, membantu orang tua menyebrang bahkan tidak pernah mengumpat, akan menjadi orang paling dicari oleh negara.
Sumpah serapah sudah berada di dalam kamus wajibnya sekarang. Mencuri adalah hal yang lumrah. Bahkan tangan yang selalu memberi ini sekarang telah merenggut beberapa nyawa.
Jika ibunya tahu jelas dia akan bangkit dari kubur dan ikut membawanya ke dunia bawah untuk menghapus dosa-dosanya.
"Bos, bagaimana menurutmu?" Brian merosot kebawah, dirinya terlalu lelah untuk terus berdiri karena sudah lebih dua jam mereka berlari didalam hutan.
"Bagaimana apanya?"
Anna gadis cantik yang sedari tadi melihat langit malam balik bertanya tampa mengalihkan pandangannya. Dirinya kembali menghitung bintang dilangit di dalam hati. Kebiasaan yang sedari dulu dia kembangkan jika sudah berada di bawah gelapnya malam.
1, 2, 3... 12...15 16, 17... 51...70..
Terus hitung tak peduli apakah ada bintang yang dia hitung dua atau tiga kali.
"Itu kita pergi.. ya kita harus pergi." Brian tidak tahu harus berkata apa lagi, bosnya jelas-jelas sudah sadar jika mereka akan segera tertangkap tapi tetap saja dia bersikap seolah-olah tidak ada yang terjadi.
"Hehehe kemana kita harus pergi? Kau tidak lupa bukan jika kita sudah menjadi buronan dimana-mana? Satu-satunya tempat untuk kita pergi adalah kembali kota X."
"Tidak!!" Dengan cepat Brian menyanggah. Mereka berdua sama-sama berasal dari kota X, dan dia masih ingat bosnya mengatakan jika tempat itu berbahaya dan dia tidak akan pernah kembali lagi ke kota itu apapun yang terjadi.
"Lalu disini saja, bagiku tak ada bedanya disini ataupun disana."
"Tidak mungkin, terlalu banyak binatang buas disini. Bagaiman dengan pergi ke negara lain?"
"Aku belum puas menjelajahi negara ini sepenuhnya." Balasnya berbohong. Dirinya tak ingin menakuti Brian jika akses mereka sekarang hanya di negara ini saja dan militer sudah bekerja dengan negara lain untuk menangkap dirinya hidup atau mati.
Jika sendiri dia bisa menjamin bahwa dia bisa keluar hidup-hidup, tapi sekarang dia tidak sendiri. Ada Brian yang sudah dia anggap saudara, lalu ada senyuman anak-anak panti asuhan nya yang harus tetap dia jaga.
Maka dari itu dia memilih bertahan dan tidak ingin mengambil resiko sekecil apapun yang akan mencelakai mereka.
Biarlah hidup berjalan seperti ini, tetap menjaga lingkungan kecilnya seperti Maleficent yang melindungi rumahnya dengan pohon berduri.
"Tapi bos aku selalu merasa ada sesuatu yang buruk yang akan terjadi nanti."
"Kau mulai meremehkanku?"
"Tidak, bukan itu maksudku." Brian dengan panik menjelaskan. Mana mungkin dia berani meremehkan Anna.
"Aku bercanda," Anna tersenyum geli melihat wajah panik Brian, dia tahu pria yang lebih muda darinya ini sangat mengkhawatirkannya.
Mendengar nada lembut dan menenangkan dari bosnya Brian tidak tahan lagi dan memilih diam. Bagaimanapun dia akan tetap berada di samping Anna apapun yang terjadi.
Setelah lama dalam keheningan, Anna tiba-tiba saja mengerutkan keningnya, dia menatap sekeliling dengan waspada ketika merasakan ada yang mengawasi mereka dari kegelapan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Iam Not Thief
AcakKecelakaan konyol itu membuat ia berada di dunia yang hampir persis sama dengan dunia tempat ia tinggal dulu.
