27. Bertengkar

39 5 0
                                        

Tema:

Tema:

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

*
*
*

Di tempat tunggu loket di bagian depan sebelah kanan kantor ada dua orang kurir, seorang penjaga loket, dan seorang petugas atau pengurus barang sedang menikmati libur pada hari Minggu yang spesial.

Hari ini kantor mereka berulang tahun! Resepsionis didekorasi dengan konfeti, kertas berwarna, dan balon-balon berbagai warna yang semuanya dari hologram jadi petugas kebersihan tidak perlu direpotkan.

Winter memakan kudapan--kukis cokelat dan manisan--yang disiapkan oleh para koki asrama. Rasanya yang manis membuat Winter bahagia.

"Mm, emyakmya," puji Winter dengan mulut penuh.

"Kau ... makan kukis segenggam atau apa?" tanya Sien yang lewat di sebelah Winter bersama pacarnya. Mereka masing-masing membawa piring kertas berisi kue krim berbagai rasa dan kue mangkuk.

Winter menengok ke arah dua orang tersebut lalu tertawa, remah-remah kukisnya mencelat ke kemeja santai Sien dan meja. Pria tersebut segera menyapu kemejanya dengan ekspresi wajah kesal.

Lydia mengambil piring kertas di tangan Sien supaya kuenya tidak mencium tanah sebelum dimakan. "Kue krim ini adalah yang terakhir jadi jangan sampai kau jatuhkan," gumamnya.

"Ah, hati-hati, dong!"--Sang pria sibuk membersihkan pakaiannya--"Duh, masuk saku pula."

Winter mengangkat kedua tangannya. "Maab, agu hidak hengada!"

"Habiskan dahulu makananmu!"

Kedua orang tadi akhirnya duduk di depan Winter dan menunggu wanita itu menelan kunyahannya yang seperti gunung. Sien lalu menengok ke sebelah kanan depan karena sudut matanya menemukan rambut acak-acakan yang dikenalinya.

Pemilik rambut acak-acakan itu wajahnya terhalang buku dan duduk membelakangi seseorang berambut pirang yang tampak bergetar.

Sien bertanya, "Kenapa Kariel dan Oliver duduk membelakangi satu sama lain?"

Winter menengok sebentar sebelum kembali melihat Sien, menjawab, "Mereka bertengkar."

Kedua mata biru Sien menyipit. "Terus, kenapa mereka berpegangan tangan?"

"Mereka sedih saat bertengkar," balas Winter santai.

"Hah?" Sien tidak mempercayai pengelihatan dan pendengarannya. Namun, sedetik kemudian ia langsung percaya mengingat perilaku Kariel kepada Oliver.

"Oh."

Kariel adalah ayah yang overprotective.

"Kenapa? Kaget?" tanya Winter. Ia memasukkan kukis lain ke dalam mulut.

Sien menggeleng. "Tidak, aku penasaran apa yang membuat mereka bisa bertengkar. Kariel bahkan tidak bisa membentak Oliver."

Hati Sien sedikit perih melihat dua ayah-anak di sana, Oliver yang bergetar seperti itu pasti sedang menahan air mata lalu Kariel menenangkannya sambil menggenggam tangan Oliver.

"Dia bilang Oliver tidak menuruti nasihatnya, ya seperti itulah, coba kau lihat."

Sien mengangguk kecil, ia bangkit dari kursi kemudian melangkah menuju dua orang di kanan depannya. Setelah sampai ia melihat Oliver menggosok kedua matanya dengan lengan baju.

"Eh, kau menangis!?" kata Sien panik.

Ia mundur selangkah kemudian mengintip Kariel dari sela atas.

"Kenapa kau juga menangis!?" kata Sien tambah panik.

Kariel menangis tanpa suara dan getaran, tetapi Sien dapat mendengar napas pria tersebut lebih cepat seperti hidungnya terhalang sesuatu.

Sien mengembuskan napas keras-keras, belum pernah Sien melihat mereka seperti ini jadi Sien mengusap pucuk kepala keduanya dengan lembut.

"Kalian ini kenapa, sih?"

******

Layanan Antar MalamCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang