BAB 1

556 26 0
                                        

         Jae Kyung sedang berolahraga di gym. Dia memakai headphone untuk mendengarkan lagu sambil berolahraga. Dia memakai T-shirt kedodoran dan celana jeans pendek. Jae Kyung adalah seorang yeoja tomboy. Dengan potongan rambut model laki-lakinya itu, tidak heran beberapa wanita melirik ke arahnya, menyangka bahwa dirinya adalah namja.

      Jae Kyung selesai berolahraga. Dia mengusap keringatnya dengan handuk. “Oppa, ini  minuman untukmu. Kau pasti lelah,” ucap seorang gadis sambil menyodorkan minuman. “Gomawo,” ucap Jae Kyung. Senyuman Jae Kyung yang manis dan keren itu langsung terlihat saat dia mengambil botol minumannya dari tangan gadis itu. Gadis itu langsung meleleh melihat pesona yang terpancar dalam wajah Jae Kyung. Jae Kyung sudah terbiasa dengan panggilan ‘oppa’ nya, bahkan dia sudah menganggap dirinya adalah namja.

        “Oppa, apa kau seorang aktor?” tanya gadis itu dengan genit. “Tidak.” “Apa kau seorang penyanyi?” Jae Kyung berpikir sejenak sebelum akhirnya menggeleng. “Lalu kenapa kau begitu tampan?” goda gadis itu. Jae Kyung tersenyum hendak menjawab, namun tiba-tiba ponselnya berbunyi. Jae Kyung mengangkatnya. “Ne, aboji? Ah, Ne. Aku akan kesana sekarang juga,” jawab Jae Kyung segera. Dia buru-buru pergi dari tempat itu.

--

        Jae Kyung sudah sampai di kantor ayahnya. Dia memakai kemeja putih dilengkapi dengan jas formal dan celana panjang berwarna hitam. Sangat tidak kentara kalau dia adalah yeoja. “Apa kau sudah membuat janji dengan presdir terlebih dahulu?” tanya sekertaris ayahnya itu. Ayahnya adalah presdir sebuah perusahaan perfilman yang bernama SM Entertainment, namun dia menyembunyikan status anaknya pada semua orang sehingga saat ini dia adalah ‘orang luar’ bagi ayahnya.

“Ne. Katakan padanya, bahwa aku, Lee Jim Kang telah datang,” ucap Jae Kyung. Lee Jim Kang adalah nama laki-laki yang ia gunakan untuk menutupi identitasnya yang sesungguhnya. “Oh, Lee Jim Kang-ssi.. Silahkan masuk! Presdir sudah menunggu anda.” Jae Kyung segera masuk ke dalam ruangan presdir.

       “Aku datang, presdir,” ucap Jae Kyung sambil membungkuk. Presdir menatap Jae Kyung dengan tajam.  “Kau terlambat lima menit.” Jae Kyung membungkuk. “Maafkan aku,” sesal Jae Kyung. “Tapi, kenapa presdir memanggilku kesini?” tanya Jae Kyung dengan bingung.

        Presdir mendesah dengan berat. “Kurasa sudah waktunya kau untuk menjalankan tugasmu dengan baik,” jelasnya. “Jadi, aku akan masuk entertainment ini? Itu berarti, aku bisa membantu aboji?” Jae Kyung senang sekali. “Jim Kang, jaga sikapmu saat berada di depan presdir!” tegur presdir dengan serius. Jae Kyung langsung bersikap formal lagi. “Maafkan aku.” Dia menundukkan kepalanya.

       “Kau harus ikut audisi! Aku tidak akan membantumu untuk masuk dengan mudah.” Jae Kyung kecewa dengan penjelasan ayahnya itu. Padahal sebelumnya dia begitu senang bisa berguna untuk ayahnya. “Bagaimana jika aku tereliminasi?” tanya Jae Kyung frustasi. “Jim Kang, jaga bicaramu!” Presdir menatap tajam ke arah Jae Kyung. Jae Kyung tersadar akan posisinya sekarang.

“Baiklah, aku akan berusaha dengan keras, presdir,” ucap Jae Kyung akhirnya. “Kau boleh pergi! Siapkan dirimu untuk audisi besok!”

        “Besok?”

         Jae Kyung kesal karena terlalu mendadak. Dia bahkan tidak mempunyai persiapan sama sekali. “Ya, besok pukul satu siang kau harus sudah berkumpul di tempat ini!” perintah presdir. “Baiklah presdir, aku mengerti.” Jae Kyung memberi hormat terlebih dahulu sebelum akhirnya keluar dengan langkah gontai.

        Jae Kyung sedih sekali. Selama ini dia hanya bertemu dengan ayahnya itu hampir satu bulan sekali. Dia sangat rindu melihat wajah ayahnya itu, namun kenyataannya, dia tetap tidak bisa berbicara dengan ayahnya dengan leluasa.

A DollTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang