"Nanti, ketika Jim Kang membuka pintunya, kita langsung berteriak, Selamat datang. Oke?" usul Sungmin. Semua mengangguk-anggukkan kepala mereka. Mereka sedang merancangkan pesta penyambutan untuk Jae Kyung.
"Aku butuh satu orang untuk membawakan kuenya," ucap Sungmin. Ryeowook mengangkat tangannya. "Biar aku saja yang membawakannya," ucap Kyuhyun tiba-tiba. Semua mata menatap ke arah Kyuhyun.
"Tadi.. kau bilang apa?" tanya Yesung, tak percaya dengan pendengarannya sendiri. "Aish.. biar aku saja yang bawa kuenya," ulang Kyuhyun kesal. "Benar kau bisa melakukannya?" tanya Leeteuk tak yakin. Kyuhyun menghela nafasnya. "Aku hanya perlu membawanya saja kan? Setelah kalian mengejutkannya, aku muncul dari belakang," ucap Kyuhyun. Sungmin menganggukkan kepalanya ragu.
"Kau sungguh tidak apa-apa?" tanya Eunhyuk bingung. "Apa?" "Bukankah kau tidak menyetujui diadakannya pesta ini?" tanya Shindong, menyambung pertanyaan Eunhyuk. Kyuhyun menghela nafasnya lagi. "Lalu aku harus apa? Bagaimanapun juga, Jim Kang sudah menjadi anggota kita kan?" tanya Kyuhyun. "Iya sih.." Donghae mengangguk-anggukkan kepalanya. "Baiklah, kalau begitu, ayo kita lakukan!" seru Leeteuk.
--
"Ayo, tiup lilinnya!" suruh Kyuhyun. Kyuhyun berusaha terlihat setulus mungkin. Aku harus pastikan ia masuk dalam jebakkan ini. Ia melihat Jae Kyung tersenyum dan meniup lilinnya. Ketika semuanya sedang sibuk bersorak dan bertepuk tangan. Kyuhyun mengambil lilin-lilin itu menyingkirkannya.
"Nah.. sekarang.." Kyuhyun tersenyum evil. Kena kau! Ia melayangkan kue tart yang dipegangnya itu ke wajah Jae Kyung. Kyuhyun menekannya kuat-kuat dan melepaskannya.
Wajah Jae Kyung penuh dengan cream. Kyuhyun langsung tertawa terbahak-bahak. "Kau pikir kami akan menerimamu? Haha.. Jangan bermimpi! Kau masih terlalu jauh untuk masuk ke dalam keluarga kami!" tawa Kyuhyun.
--
Jae Kyung mencuci wajahnya. Ia melihat pantulan dirinya di cermin. "Kau pikir kami akan menerimamu? Haha.. Jangan bermimpi! Kau masih terlalu jauh untuk masuk ke dalam keluarga kami!" Jae Kyung tersenyum lirih. Ternyata aku memang tidak bisa.. Ia menghela nafasnya dan keluar dari kamar mandi.
"Jim Kang-ah, apa kau baik-baik saja?" tanya Ryeowook khawatir. Yesung, Sungmin, Leeteuk dan Donghae mengerumuni Jae Kyung. "Kami benar-benar minta maaf. Kami tidak tahu kalau Kyuhyun akan bertindak sejauh itu," jelas Yesung. "Uri ga, jinjja mianhae," ucap Sungmin. Jae Kyung menatap mereka. Jangan terlalu berharap! Kau akan sakit jika kau terlalu mengharapkan sesuatu.
"Mianhae, nan.. honja hago sipho," ucap Jae Kyung. Jae Kyung berjalan meninggalkan mereka. Ia menuju ke halaman depan dormnya. Di sana ada tempat duduk. Ia duduk di situ sambil menatap bintang. Tak terasa hari sudah mulai gelap. Jae Kyung mendesah pelan. Aku pikir aku akan bisa mempunyai keluarga.. aku pikir, "Ah.. mereka akhirnya menerima keberadaanku." Tapi, semua hanyalah kebohongan.
Ponsel Jae Kyung tiba-tiba berdering. Jae Kyung melihat nama peneleponnya.
Jae Kyung berpikir sejenak, sampai akhirnya ia mengangkat teleponnya. "Wae?" tanyanya. "Chingu ya! Kenapa kau pergi begitu saja? Walaupun ahjushi menyuruhmu untuk bekerja, bukan berarti kau benar-benar harus menurutinya kan?" protes Im Hee.
"Karena aku takut, Im Hee-ya. Aku takut, jika aku tidak menuruti kata-kata appa, dia akan semakin membenciku," jawab Jae Kyung. Im Hee terdiam lama, sampai akhirnya ia berkata, "Pesta ini tidak menyenangkan tanpamu. Appa dan ahjushi mengobrolkan hal yang membuatku pusing. Kau tahu, saham dan kawan-kawannya," ucap Im Hee mencoba bergurau.
"Im Hee-ya! Ke sini lah!" Jae Kyung mendengar suara presdir Choi. "Ne, appa. Tunggu sebentar!" Im Hee menjawabnya. "Mianhae Jae Kyung-ah. Sepertinya appa akan mengenalkanku pada teman-temannya," sesal Im Hee. "Ya, kwenchanna.." ucap Jae Kyung.
"Emh.. Im Hee-ya.." panggil Jae Kyung.
"Emh?"
"Apa kau pikir, aku bisa mempunyai keluarga?" tanya Jae Kyung. Apakah aku bisa mempunyai keluarga yang harmonis, seperti keluargamu? Mata Jae Kyung menerawang jauh.
"Jae Kyung-ah! Apa yang kau bicarakan? Kau sudah jadi bagian dari keluargaku. Bagaimana bisa kau berpikir bahwa kau tidak punya keluarga?" tanya Im Hee. Jae Kyung memaksakan diri untuk tersenyum. "Ah iya, kau benar," ucapnya. Jae Kyung mendengar Im Hee menghela nafasnya.
"Komawo, Im Hee-ya."
"Mwoga?"
"Karena telah mejadi keluargaku. Aku.. hanya punya kau saja," ucap Jae Kyung. "Dongsaeng-ah.. jangan terlalu memikirkan hal yang aneh-aneh! Hal apapun yang sedang kau hadapi, ingatlah.. unnie akan selalu ada untukmu," kata Im Hee. Air mata Jae Kyung menetes perlahan. Ia menghapus air matanya itu. "Ne.." jawabnya. Jae Kyung menutup ponselnya.
--
"Kyuhyun-ah, aku ingin bicara denganmu!" ucap Sungmin dengan wajah serius. Kyuhyun yang bermain game di kamarnya, tidak mendengarkan Sungmin. "Kyuhyun!" bentak Sungmin. Kyuhyun melepas headphonenya. "Ah, hyung! Wae yo?" protes Kyuhyun. "Kau yang kenapa! Kenapa kau hancurkan pesta kita? Bagaimana bisa kau perlakukan Jim Kang seperti itu?" tanya Sungmin. Ia tidak habis pikir dengan Kyuhyun. Padahal dia sudah mempersiapkan semuanya.
"Hyung, jangan salah paham! Aku hanya bercanda dengannya," jawab Kyuhyun dengan santainya. "Mwo? Bercanda? Hei, kau pikir itu lucu? Apa kau tidak lihat bagaimana sedihnya Jim Kang setelah kau melakukan hal itu?" tanya Sungmin. Kyuhyun tidak tahan lagi, ia berdiri dan keluar dari kamar. Sungmin mengikutinya. "Hei! Mau ke mana kau?" tanya Sungmin kesal.
Kyuhyun dan Sungmin berpas-pasan dengan Jae Kyung ketika ia hendak masuk ke dalam kamarnya. "Hei, apa kau baik-baik saja?" tanya Kyuhyun pada Jae Kyung. "Hei Kyuhyun! Apa yang kau lakukan?" Sungmin tidak habis pikir dengan jalan pikiran Kyuhyun. "Sungmin hyung tidak terima aku memperlakukanmu seperti itu. Bagaimana tanggapanmu?" tanya Kyuhyun tanpa memperdulikan Sungmin. Jae Kyung menatap Kyuhyun. Ia menutup matanya sebentar lalu beralih menatap Sungmin. "Mianhae hyung, hari ini aku sangat lelah. Boleh aku tidur sekarang?"
"Apa? Oh.. ya baiklah.." jawab Sungmin sedikit bingung. Tanpa berkata apa-apa lagi, Jae Kyung langsung masuk ke dalam kamarnya. "Hei! Aku bertanya padamu!" jerit Kyuhyun. Sungmin menatap Kyuhyun. Kyuhyun menatapnya. "Mwo?" tantang Kyuhyun. "Kau ini benar-benar.." Sungmin memegangi lehernya. "Ah.. molla!" ucapnya kesal.
--
Keesokan paginya, Jae Kyung sengaja tidak bangun pagi-pagi. Hari itu dia sedang malas berlatih. Hatinya sedang tidak bersahabat. Dia belum siap bertemu dengan ayahnya di perusahaan. "Hei Jim Kang, apa kau akan bolos berlatih?" tanya Leeteuk yang masuk dalam kamarnya. Jae Kyung menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut. "Aku akan menyusul nanti," ucapnya.
"Araso! Awas kalau kau sampai tidak datang! Besok gantian, kami yang akan bolos," ancam Leeteuk. "Emh.." jawab Jae Kyung. Leeteuk keluar dari kamar. Beberapa lama kemudian, Jae Kyung dapat mendengar suara mobil. Mereka pasti sudah berangkat. Jae Kyung tidak merubah posisi tidurnya. Dia masih ingin melanjutkannya. Ini satu-satunya cara agar aku bisa melupakan semuanya.
--
Entah sudah berapa lama Jae Kyung tertidur, ia tiba-tiba bangun karena suata dering ponselnya. Ia segera mengangkatnya. "Yeoboseyo?" sapa Jae Kyung. "Aku dengar kau tidak datang latihan hari ini." Suara ayahnya itu membuat Jae Kyung langsung terbangun. "Ne, maafkan aku, Aboji," sesal Jae Kyung. "Aku harap hal seperti ini tidak kau ulangi lagi! Kau seharusnya menjadi contoh buat mereka," nasehat Presdir. "Ne, aku mengerti," jawab Jae Kyung. "Tapi Appa.." Jae Kyung menghalangi Presdir menutup teleponnya. "Tidak bisakah aku berhenti sekarang?" "Tidak bisa! Kau harus tetap berada di sana. Tidak sekarang." "Kenapa? Kenapa tidak bisa? Mereka semua tidak menerimaku." "Itu adalah tugasmu. Kau harus membuat dirimu diterima di sana," jelas ayahnya tidak peduli.
"Ne, aku tahu, tapi bisakah kau pertimbangkan lagi?" Jae Kyung berusaha membujuk ayahnya itu, namun dia tahu, jika ayahnya sudah membulatkan tekad, semuanya tidak dapat ditarik kembali. "Mungkin kau lupa akan hal ini, tapi appa.. aku ini yeoja! Bagaimana aku bisa tinggal bersama mereka?" "Bagiku kau adalah namja! Namja tetap namja! Kau sudah berjanji akan menyelesaikan tugasmu dengan baik kan? Karena itu, cepat selesaikan dan jangan berdebat denganku lagi!" Presdir menutup teleponnya.
Jae Kyung mendengus kesal. Dia melemparkan ponselnya ke atas tempat tidur. "Aish.. Selalu saja begini!" omel Jae Kyung kesal. Aku ini yeoja, appa. Kau tidak bisa menyuruhku menjadi namja. Kenapa kau lakukan ini padaku? Jae Kyung memandang pantulan wajahnya di cermin. Yang terlihat adalah wajahnya yang tidak terawat dan kasar.
"Kau adalah boneka, boneka namjanya," ucapnya pada pantulan dirinya sendiri. Jae Kyung mengepalkan tangan kirinya. Dia marah dengan kenyataan itu. "Aku..benci boneka!" Jae Kyung melayangkan tinjunya ke kaca, berkali-kali. Air mata Jae Kyung mengalir deras. Kenapa? Padahal aku sudah melukai tanganku sendiri.. tapi kenapa rasa sakit yang kurasakan ini tidak sebanding dengan rasa sakit yang ada di sini? Jae Kyung menyentuh dadanya. Di sini rasanya.. sakit..sekali..
Di sisi lain, di balik pintu, Kyuhyun mengintip kamar Jae Kyung. Ia mendengar semua percakapan Jae Kyung dengan ayahnya. Semua.. Termasuk kenyataan bahwa Jae Kyung adalah yeoja...
-------o0o-------
KAMU SEDANG MEMBACA
A Doll
FanfictionJae Kyung adalah seorang gadis berumur 19 tahun, namun entah mengapa ayahnya malah menyuruhnya hidup sebagai laki-laki. Jae Kyung menjalani hidupnya sebagai laki-laki, layaknya boneka milik ayahnya. Ayah Jae Kyung, presdir SM Entertainment, kemudian...
