"Aku kuat karena aku adalah Perth." - Perth Tanapon.
Mengandung unsur yaoi bxb gay dan sejenisnya. Tidak suka silahkan menyingkir ^^
Remake dari karya ka @NANAnunaninunu
Mark tidak sadar dirinya bertingkah aneh sejak tadi. Dengan gelagat aneh, celingukan seakan tengah mencari sesuatu, lalu berkali-kali mengecek ponselnya dengan raut gelisah, hingga membuat Win yang melihatnya jadi jengah sendiri.
"Lo ngapa sih dari tadi gak bisa diem!" tegur Win jengah. Nadanya menyiratkan kekesalan.
"Gue belum ketemu Perth dari pagi, chat sama telpon gue juga nggak dijawab dari kemaren," jawab Mark lesu. Win bahkan bisa melihat dari air muka Mark yang biasa datar kini tampak gelisah dan risau.
Win mengernyit heran, "Emang kenapa?" pasalnya, Mark tidak pernah seperti ini, uring-uringan hanya karena tidak mendapat kabar. Apalagi dari orang yang belum lama dikenalnya.
"Dia salah paham,"
Dan Win semakin memasang wajah bingung. "Salah paham? Apaan? Siapa yang salah paham?" yang dasarnya Win itu sedikit lemot pun kurang menangkap maksud Mark.
Mark beralih menatap sahabatnya setelah tadi hanya menjawab tanpa menatapnya. "Kemaren Perth denger percakapan gue sama Pam, dan sekarang dia salah paham." Mark menjelaskan.
"Salah paham sama lo dan Pam? Tunggu.. kenapa juga lo menafsirkan kalo Perth itu salah paham, kan lo sama Perth gada hubungan apa-apa.." Win memandang Mark dengan wajah terheran-heran, hingga sesaat kemudian otaknya seakan menangkap satu makna terpendam dari kalimat Mark tadi.
"Tunggu, tunggu... Salah paham.. jangan bilang lo suka sama Perth makanya lo uring-uringan nganggep dia salah paham dan marah sama lo?" tanya Win panjang lebar.
Mark menatap datar, wajahnya kini berubah tak bisa Win artikan. Lantas pemuda tampan itu membuang mukanya sambil mendengus pelan.
"What?! Jangan bilang gue bener? Mark? Serius?" Win semakin heboh saat tebakan nya terancam benar.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Berisik!" Mark mendengus kesal lalu kembali mengecek ponselnya yang masih kosong tak ada notifikasi apapun, terlebih dari Perth, pemuda yang seharian kemarin membuatnya risau.
"Wuahhh! Gila sih, lo beneran naksir sama Perth? Baru juga kenal beberapa lama. Hebat bener si Perth bisa bikin Mark Siwat baper dalam waktu singkat." cerocos Win tak percaya.
Sementara Mark lagi-lagi melirik tajam atas cerocosan Win yang bereaksi berlebihan menurutnya. "Lo berisik banget herman, kaya cewek."
"Gue serius, Mark."
Mark yang diam tidak menyangkal atau mengelak pun membuat Win semakin yakin bahwa Mark memang mengakuinya.
"Bukannya lo masih pacaran sama Pam, kan?" cetus Win kemudian yang langsung mendapat delikan galak dari Mark.
"Sebenernya lo sahabat gue apa bukan sih, kaya gitu aja masih nggak ngerti. Gue sama Pam udah nggak ada apa-apa." terang Mark sedikit kesal. Semua orang beranggapan dirinya masih memiliki hubungan dengan gadis berisik itu sedangkan Mark tidak merasa.
"Yaa itu si Pam masih ngaku-ngaku." balas Win.
"Ya namanya juga juga ngaku-ngaku, ngapain percaya." Mark sudah jengah, ia mendengus kasar dan mengabaikan Win.
Keduanya terdiam, Mark yang masih setia dengan tingkat anehnya, matanya bergulir menyapu setiap sudut pandang di sekolahnya untuk mencari sosok Perth. Hingga tiba-tiba dari arah koridor yang menuju atap sekolah Mark mendapati Perth tengah berjalan bersama Bright, beriringan.
Wajahnya mengeryit sempurna melihat pemandangan langka tersebut, perasaan nya tiba-tiba tidak enak. Dengan langkah kasar Mark menghampiri Perth dan Bright.
"Perth!"
Perth terdiam, menggigit bibirnya gugup karena kini ia tertangkap oleh orang yang seharusnya ia jauhi.
"Kenapa lo jauhin gue? Kenapa semua spam chat gue gak lo baca?" tanya Mark menuntut. Perth masih membelakangi nya tanpa mau menoleh menatap nya.
"Aku.. cuma mau sadar diri." balas Perth pelan.
"Nggak gitu, Perth. Kemaren itu salah-"
"Nggak perlu dijelasin Mark, kita gak ada apa-apa jadi santai aja." setelah mengucapkan itu Perth memaksa pergi dengan melepas genggaman tangan Mark lalu meninggalkan pemuda itu yang tercenung.
Menatap kepergian Perth tanpa bisa menahannya, Mark meremas tangannya kuat. Perth benar-benar telah salah paham padanya.
"Galau?" suara lembut sedikit berat itu menyahut, Win sudah berdiri disampingnya sambil menatapnya iba. Tangannya menepuk pundak sang sahabat untuk memberikan Semangat, "Sabar aja, dia masih butuh waktu buat mikirin kesalahpahaman yang Lo sebut tadi." ujar Win menguatkan sahabat nya yang sedang galau.
Mark mendesah lelah, "Gue bingung, kenapa dia bisa sama Phi Bright, ya." gumamnya bingung.
Mengabaikan Win, Mark berlalu meninggalkan Win yang sekarang terbengong dengan wajah kesal. "Memang iblis, di kasih semangat malah nyuekin gak nganggep." lalu ikut menyusul Mark.
Sabar ya Win🤣
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.