Nata melihat Kirana dan teman temannya dipintu masuk kantin dengan segera melambaikan tangannya ke arah Kirana mengkode agar kesana.
"Itu kunyuk gaada rasa bersalahnya ye, geprek sajalah" Intan yang melihatnya menggebu-gebu
"Itu cewek gelendotan terus heran gue nempok ya tau mana yang seger" Sasya mengomel melihat kehadiran Nata dan cewek tersebut
"Mau balik atau tetep makan disini?" Tanya Laras mengetahui situasi saat ini.
Yang paling waras ya bund
"Gapapa kesana aja nanggung" kata Kirana berjalan ke arah meja pojok yang ditempati oleh Nata dkk
"Yaudah kita bertiga pesen makan dulu" ucap Tika pergi memesan makanan bersama 2 orang lainnya
"Bidadari abang sini duduk samping abang aja yuk" Rafa yang sudah mengeluarkan jurus seribu rayuannya.
Kirana pun melihat tidak ada kursi kosong mengiyakan ajakan rafa.
"Eh ngapain Lo deketin Kirana kek gitu heh" Nata memprotes Rafa yang terlihat senang melihat Kirana mau duduk disampingnya.
Davin yang melihat itu tersenyum miring.
"Satu aja Nat"
"Kirana kenalin ini Desy sahabat kecil aku yang diceritain sama mama yang mau pindah kesini" ucap Nata
"Oh kenalin Kirana" ucap Kirana mengulurkan tangannya ke depan Desy
"Hm gue Desy" ucapnya sambil tetap memainkan handphonenya.
"Des yang bener jangan gitu ga sopan" peringat Nata
"Kamu gimana sih, kamu udah kenal aku dari kecil kamu tau kan aku gasuka sama orang asing aku gabisa" ucapnya melihat ke arah Kirana.
"Maaf ya kir juga tadi pagi tiba-tiba batal, mama gak bilang kalo Desy bakal pindahnya hari ini jadi gue berangkat bareng dia karena gatau jalannya" ucap Nata dengan rasa bersalahnya.
"Parah lo bro buat cewek nunggu. Neng kalo nunggu yang gak pasti kayak gitu hubungin Abang aja ya" ucap Aldo dengan genitnya.
"Gaada yang mau sama kadal buaya darat kek lo" Sasya yang datang dengan pesanannya memotong ucapan Aldo.
"Napa jangan-jangan Lo suka lagi sama gue?" Tanya Aldo
"Amit-amit ya gue suka sejenis kayak Lo" ucap Sasya mengetuk tangannya ke arah meja.
"Heh itu tangan gabisa gak glendotan? Ini sekolah kalo mau kek gitu nih kesono jadi butterfly night" ucap Intan melihat tingkah Desy.
"Ih iri ya bilang aja" ucap Desy ketus
"Harga diri gue mahal sorry ya" ucap Intan dengan penekanan
"Tapi kelakuannnya kayak gatau malu deh" kata Desy membuat amarah Intan memuncak
"Udah kir ayo makan disitu ada meja kosong buat makan" tawar Laras mengajak Kirana.
"Oke disitu aja" Kirana pun pergi meninggalkan meja Nata dkk
"Kamu ngapain sih panggil dia kesini? Buat apa coba?" Omel Desy
"Gue merasa bersalah lah gajadi berangkat bareng dia" ucap Nata dengan santainya.
🌰🌰🌰
"Cewek kayak gitu dipasar lagi murah-murahnya sekarang" ucap Intan melirik meja Nata
"Ngapain Lo cari cewek begituan di pasar kalo disekolah aja udah ada" tanya Sasya mode lemotnya
"Perjumpaan bego, cabe Lo tau cabe?" Jawab Intan frustasi dengan temannya polos sama begonya beda tipis.
"Kir gausah ladenin nenek lampir itu kalo mau Nata gas aja kita dukung" ucap Sasya menasehati Kirana
"No! Jangan-jangan gabole suka sama modelan cowok gitu gak perhatian sama perasaan cewek" Ujar Intan
"Gausah" ucap Kirana terbata-bata
"Gue gak yakin sama tampangnya baik-baik gitu aja pasti kelakuan dipertanyakan" ucap Laras yang sebelumnya tidak tertarik dengan obrolan
"Iya ciri-ciri penindas ini bau-baunya" Sasya menambahi omongan Laras
"Dia murid baru kok bisa kenal Nata sih? Nata juga diem doang digituin" tanya Intan
"Nah itu apa Nata udah biasa digituin tapi gak mungkin lah Nata kan tampangnya polos" ucap Sasya
"Mereka temenan dari kecil" ucap Kirana
"Whattt?!" Teriak Sasya dan Intan bersamaan
"Wah makin gak beres ini gaada temenan cewek cowok yang 100% murni pasti ada salah satu" ucap Sasya
"Lo tau darimana kayak begituan?" Tanya Intan
"Gue nonton film ada yang kayak gitu" ucap Sasya dengan bangganya.
🌰🌰🌰
Kringgg...
"No matter what they say, no matter what they do. Tetaplah jam pulang paling ditunggu".
"Gue sama sasya mau balik bye everybody" ucap Intan melambangkan tangannya.
"Bye bye" imbuh Sasya dengan gerakan dibuat-buat
"Ih najis" ucap Kirana melihat kelakuanku keduanya.
"Takut gue kelamaan bergaul sama mereka bisa tertular" ucap Laras bergelidik ngeri
"Untung sampai sekarang belum tertular, nanti gaada yang waras selain gue" Kirana tertawa mengucapkan itu.
"Heh dasar ya Lo, Gue balik kir udah dijemput mau ikut?" Tawar Laras
"Gausah palingan gue juga udah dijeput papa" tolak Kirana dengan halus
"Okedeh duluan ya bye" teriak Laras berlari menuju jemputannya.
Kirana pun berjalan ke arah depan sekolah biasanya papanya akan menunggu di dekat halte.
"Awas aja papa belum jemput ya beli chatime pokoknya yang banyak titik gapake koma" ucap Kirana mengomel dengan dirinya sendiri.
"Kir udah mau balik? Mau ikutan gak gue juga bawa mobil hari ini?" Tanya Nata. Menunjukan mobil yang terparkir.
"Gak usah ngerepotin udah dijemput papa palingan" tolak Kirana
"Beneran nih? Kan belum pasti juga ikutan aja" Tawar Nata sekali lagi
"Ck cepetan panas tau" ucap Desy dengan mengipaskan tangannya ke wajahnya
"Sabar, yaudah gue duluan kir" Nata pun pergi ke arah mobilnya. Menyisakan Kirana dengan Desy.
Desy mengamati penampilan Kirana dari atas hingga bawah dan tersenyum meremehkan.
"Dari penampilan lo , lo masih dibawah gue. Apa sih diliat Nata dari Lo sampai mau diajak sekolah bareng? Sebelumnya dia gak pernah care sama cewek selain gue" ucap Desy sinis
"Berarti gue spesial dong?"
Hello welcome back
Bagian kmren sepi banget
Makasi buat yang udah support buat next
Jangan lupa like + comentnya
Oh ya ad yang tanya mungkin Laras bukannya Tika?
Nama panjangnya Tika Larasati ada di bagian awal cuek aja ya
Annyeong 🐻
KAMU SEDANG MEMBACA
Ketua Osis
Teen Fiction"Lo gak usah deket deket gue lagi!" "Kenapa Nat?" Kirana menangis segukan. " Lo gak bisa gini!" "Pergi lo gue capek, pergi!" Teriak Nata. Seseorang yang entah mengapa membuat ku sering memikirkan tentangnya, yang telah mengganggu pikiranku. Aku ser...
