31

925 60 101
                                        

"Tembak aku hyung!"

Tangan Jungkook dirasa dingin oleh Seokjin.

"Semua ini salahku! Tembak aku hyung!" Teriaknya frustasi.

Yoongi menatap frustasi, tak tahu harus bagaimana.

Seokjin masih bergeming, menatap Jungkook. Raut wajahnya masih menakutkan, tangannya bergetar memegang pelatuk pistol.

"Ya, semuanya salahmu." Ujar Seokjin dingin, ia menatap tajam mata bambi yang berair milik Jungkook.

Clak!

Seokjin melepas tangan Jungkook yang menggenggamnya, kemudian menodongkannya dengan tangannya sendiri. Bersiap menarik pelatuknya. Jungkook menutup matanya, takut. Yoongi menarik tangan Seokjin.

"Apa kau gila!?" Teriak Yoongi, ia menahan kuat tangan Seokjin, mencegahnya menarik pelatuk.

Seokjin mendelik menakutkan, tatapan dingin dilayangkannya pada Yoongi.

"Lepas!"

"Dia juga korban!"

"Bukan urusanmu!"

"Urusanku! Kalau berniat membunuhnya sekarang, kenapa harus menundanya kemarin!? Hah!?"

"Benar, aku menyesal karena membiarkannya."

Jungkook tak berani membuka matanya, airmatanya tak berhenti mengalir dari matanya. Dia pasrah sekarang, tak mengapa.

"SEOKJIN!"

DOR

Tubuh Jungkook luruh begitu saja, tepat setelah tembakan Seokjin. Yoongi ambruk, tangannya yang sempat memegang tangan Seokjin terlepas begitu saja, wajahnya yang putih pucat, makin memucat.

"K-kau...!"

Jelas sekali Yoongi kaget, tak percaya Seokjin melakukannya.





-

"Jungkook terbunuh," lapor Calrk pada Taehyung. Dia mengetahui dari penyadap yang dipasang Jungkook di bawah kursi penumpang Jet Seokjin.

Taehyung hanya diam, namun ia jelas terlihat syok dengan kabar yang didengarnya.

"Lupakan itu sejenak. Semua sudah siap?" Calrk mengangguk tegas, kemudian menyodorkan sebuah pistol pada Taehyung.

"Semoga ini berhasil"

-

Di tempat lain, di puncak sebuah gunung. Ada tiga orang, satu terikat dan dua lainnya menodongkan pistol ke kepala pria yang terikat. Mereka si kembar dan Karang, sniper yang menembak mati Jeongguk.

"Minumlah" Seiza menyodorkan sebuah pil. Karang yang enggan membuka mulut, kaget karena Seiza yang tidak sabaran menjepit kedua pipinya kasar, agar mulutnya terbuka. Kemudian memasukkan pil tadi, memaksa agar Karang menelan pil itu.

Dalam beberapa detik tubuhnya langsung lemas. Anehnya dia merasa seakan waktu berjalan lambat.

"Kau siap Siera?" Pisau adalah jawaban yang diberikan untuk Seiza.

"Bagusnya kita mulai dari mana?"

"Kamu kaki, aku tangan. How"

Seiza mengangguk, lantas mulai menguliti Karang hidup-hidup setelah menelanjangi Karang.

Sakit. Itu yang dirasakan Karang. Rasanya bahkan berkali-kali lipat. Ia menggerang, suaranya menggema di puncak gunung. Berharap ia mati saja.

Si kembar begitu cepat dalam pengerjaannya, mengejar waktu agar bisa bergabung dengan cepat bersama Seokjin. Namun bagi Karang, ia merasa kalau si kembar mengulitinya sangat lambat. Waktu terasa begitu lama baginya. Bukan tanpa alasan sebenarnya. Si kembar sengaja memberinya pil sebelum dikuliti. Pil itu bisa membuat yang meminumnya merasa waktu terasa lebih pelan, hingga Karang merasakan sakit berkali-kali lipat dari yang harusnya ia rasakan. Ditambah lagi pil itu dapat melumpuh sistem saraf dan ototnya, membuatnya jadi lemas.

Stratígima✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang