Gatara sudah berada di parkiran, kini dirinya hanya cukup menunggu Riyana yang sedang berada di toilet sekolah untuk pergi ke cafe bersama. Selama menunggu Riyana yang masih di toilet Gatara memainkan ponselnya sejenak hanya sekedar buka tutup aplikasi di ponsel nya.
Gatara yang sibuk dengan ponselnya pun dikejutkan dengan kedatangan Sindy yang entah sejak kapan sudah berada disampingnya dengan terus memamerkan senyum yang menurut orang lain manis tapi tidak untuk Gatara.
"Ta anterin gue pulang dong," rengek Sindy sambil bergelayut manja ditangan Gatara, Gatara yang risih pun menepis kasar tangan Sindy.
Gatara sedikit menggeser tubuhnya untuk menjaga jarak dengan Sindy, "Gue nggak bisa!" tolak Gatara yang membuat Sindy menghembuskan napas kasar.
"Apa salahnya sih Ta, lo coba dulu jalanin hubungan sama gue, bisa kan?" mohon Sindy dengan sikap Gatara yang sangat dingin kepadanya.
"Gue nggak bisa Sindy, lo punya telinga nggak sih!" sinis Gatara ketika mendengar rengekan Sindy yang membuatnya kesal.
"Apa gara-gara si penyakitan itu lo jauhin semua cewek yang mau dekat sama lo? Gitu?" sinis Sindy yang membuat emosi Gatara mulai tidak terkendali,demi apapun Gatara akan selalu emosi jika itu menyangkut Riyana.
"Gue peringati sekali lagi! Stop ngomong yang lo sendiri bahkan nggak tahu! Lo selalu mencari masalah dengan Riyana supaya gue bakal melirik lo gitu? Cih mimpi! Asal lo tahu, gue malah semakin muak liat lo!" ketus Gatara yang membuat Sindy mengepalkan tangannya kuat-kuat.
"Hati gue udah ada orang lain jadi stop perjuangin gue dan lo harus tahu satu hal. Tanya sama diri lo sendiri, itu cinta atau obsesi," ujar Gatara sambil mendorong bahu Sindy pelan dengan senyum meremehkan.
Riyana yang baru saja sampai diparkiran menatap bingung kedua orang yang kini sedang saling menatap, apa mereka ribut lagi? Pikir Riyana. Gatara yang baru saja melihat Riyana baru datang langsung menyambutnya dengan senyuman berbeda dengan dirinya yang berhadapan dengan Sindy.
"Ada apa?" tanya Riyana sambil melirik Sindy sekilas yang menampilkan wajah masamnya.
"Nggak ada apa-apa, ayo naik nanti telat ke cafe nya," ujar Gatara yang diangguki oleh Riyana.
Sindy menatap Riyana nyalang, sungguh dia membenci sosok Riyana yang ada di hadapannya ini. Sindy yang kesal pun menarik paksa tangan Riyana yang akan naik ke atas motor. Riyana sedikit terkejut ketika dirinya ditarik paksa oleh Sindy.
Plak!
Sindy menampar keras pipi Riyana di hadapan Gatara, kini Riyana merasa pipinya perih dan memanas, bahkan kini sudah tercetak jelas gurat merah di pipinya. Gatara yang melihat itu spontan turun dari motornya dan memeriksa keadaan Riyana.
Kini rahang Gatara sudah mengeras menandakan amarahnya semakin memuncak ketika melihat mata berkaca-kaca milik Riyana.
"Sindy!" bentak Gatara yang membuat Sindy terlonjak kaget mendengarnya.
Gatara mencekal tangan Sindy ketika dia akan pergi melarikan diri, Gatara meremas kuat pergelangan tangan Sindy yang membuat Sindy meringis perih serta panas.
"Sa..sakit," ringis Sindy sambil memukul-mukul tangan Gatara.
"Gue pernah bilang sama lo! Stop gangguin Riyana lagi! Gue pernah lukai tangan Rania karena menjambak rambut Riyana yang nggak bersalah! Sekarang tangan lo berani-beraninya nampar Riyana, apa perlu gue juga lakuin hal yang sama?!" Sindy menggeleng cepat ketika mendengar penuturan penuh penekanan dari Gatara.
Sindy tahu betul kejadian satu tahun yang lalu yang mana kakak kelasnya bernama Rania menjambak rambut Riyana yang tidak bersalah, bahkan Sindy tahu jelas apa yang dilakukan Gatara kepada Rania. Gatara berubah menjadi monster yang sangat menyeramkan.
KAMU SEDANG MEMBACA
About Time (End)
Fiksyen RemajaSUDAH DIREVISI! JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK VOTE DAN FOLLOW AKUN INI. SEKIAN TERIMA JAEMIN! Biar waktu yang menyembuhkan, biar waktu yang menjawab semuanya, dan biar waktu yang menjadikan nya kuat. Kisah tentang orang-orang yang berjuang demi me...
