More than friend

33 16 12
                                        

Jam sudah menunjukkan pukul 05:00 pagi hari, Riyana terbangun ketika tenggorokan nya begitu sangat kering dia butuh air minum secepatnya. Sedikit kesakitan di bagian pinggang, Riyana yang akan beranjak pun mengurungkan niatnya ketika dia mendapati Gatara yang tertidur di lipatan tangannya sebagai bantalan, Riyana yang melihat itu mengulas senyum.

Tangan Riyana terulur untuk mengusap lembut rambut Gatara, ternyata sangat sulit di posisi Gatara yang harus menghadapi Papahnya sendiri, orang yang berpengaruh dalam hidupnya.

Riyana tidak pernah mendengar keluh kesah Gatara mengenai tindakan papahnya itu, yang selalu Riyana dengar hanya kata 'nggak apa-apa, gue udah biasa kok' ketika Riyana beberapa kali mendapati wajah Gatara yang memar-memar oleh Nugraha.

Gatara yang mudah terusik dengan apapun itu mencoba mengerjapkan matanya untuk menetralisir cahaya yang masuk ke retinanya, Riyana yang melihat itu sontak gelagapan karena dia ke dapati sedang memperhatikan Gatara dari dekat.

"Lo udah bangun?" tanya Gatara ketika melihat Riyana yang terduduk dengan pandangan ke depan.

"U-udah kok," gugup Riyana yang terus memperhatikan ke depan.

"Nggak biasanya, lo butuh apa biar gue bantu?" tanya Gatara sambil mengucek matanya yang masih enggan terbuka. Pasalnya Gatara baru tertidur pukul 04:00 pagi hari setelah membersihkan tangan, kaki dan wajah Riyana dengan air hangat.

"Gue haus," ujar Riyana yang membuat Gatara tersenyum menanggapinya.

Gatara mengambilkan secangkir air yang berada di nakas dan memberikannya kepada Riyana,"nih minum," ujar Gatara yang diterima langsung oleh Riyana.

"Yan," ujar Gatara ketika Riyana sudah menyelesaikan minumnya yang hanya di jawab deheman kecil dari Riyana.

"Gue atas nama Papah minta maaf soal kejadian malam tadi," ujar Gatara sambil menunduk, Riyana yang awalnya masih menatap lurus ke depan kemudian mengalihkan pandangannya menuju Gatara.

"Iya gue maafin, lagian gue juga nggak apa-apa kok," ujar Riyana sambil tersenyum hangat untuk sekedar mengusir kekhawatiran yang ada pada Gatara.

"Gue udah kasih tahu bokap lo dan kayaknya bokap lo marah deh Yan," ujar Gatara sambil mendongak menatap lawan bicaranya.

"Marah sama siapa?" tanya Riyana yang membuat Gatara menghembuskan napas panjang.

"Sama gue Yan karena nggak becus jagain lo..lagi," lirih Gatara ketika mengatakan kata 'lagi' yang membuatnya bersalah.

"Bokap gue nggak akan marah kok sama lo, lagian ini juga salah gue yang mau lindungi lo. Sejauh ini selalu lo yang lindungi gue dalam bahaya makanya kali ini biarkan gue lindungi lo, gue nggak mau bokap lo nyakitin lo lagi," jelas Riyana yang membuat Gatara terdiam sejenak.

"Lo tahu gue kemarin ketakutan, pas lo bilang 'bunuh Gata aja Pah', disaat itu pikiran gue langsung melayang kemana-mana dan akhirnya gue milih buat lindungi lo," lanjutnya lagi yang membuat Gatara semakin menatap lekat manik mata Riyana.

"Lo berharga Ta buat gue, jadi jangan sekali-kali lo ngomong kayak gitu lagi," mendengar penuturan Riyana membuat Gatara menarik Riyana dalam pelukan nya, Riyana tidak menolaknya bahkan kini tangannya sudah mengusap punggung Gatara pelan.

About Time (End) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang