Spekulasi Barabas mengenai Ardi

34 16 15
                                        

Setelah sampai kelas Nadine langsung menghempaskan bokongnya ke kursi, Nadine meringis ketika dia terlalu kuat menghempaskan bokongnya itu.

Saat ini kelas masih belum ramai murid mengingat jam masih menunjukkan pukul 06:00, murid rajin kan Nadine?

Ketika Nadine sedang bertopang dagu menghadap ke depan melihat whiteboard entah sejak kapan kini pemandangannya berubah menjadi wajah Barabas dengan cengiran khas nya, Nadine mengernyit bingung kenapa Barabas tidak masuk ke kelasnya dan malah sekarang ada di hadapannya?

"Mau apa lo?" tanya Nadine dengan nada sinis ketika melihat Barabas yang masih setia duduk di depannya.

"Gue penasaran aja sih sama hubungan lo dan Ardi," ujar Barabas dan hal itu membuat Nadine mendengus kesal.

Bisa-bisanya Barabas ingin mengetahui luka Nadine yang begitu membekas ini. Luka yang sampai saat ini masih menganga tanpa bisa disembuhkan.

"Kepo lo kayak dora!" cibir Nadine yang kemudian menelungkup kan wajahnya di lipatan tangan sambil menghadap dinding. Jujur menurut Nadine pemandangan dinding jauh lebih baik daripada wajah Barabas.

"Menurut gue, Ardi cemburu sama kedekatan kita," ujar Barabas sambil mencoba meneliti kembali kejadian-kejadian kecemburuan Ardi.

"Pertama ketika gue ada dikelas lo dan tanya soal perban luka lo, kedua ketika gue berada di kantin tempo hari, dan ketiga barusan di parkiran," ujar Barabas sambil menghitung beberapa kejadian menggunakan jarinya.

Nadine yang mendengar itu langsung menegakkan kepalanya, apa benar ucapan Barabas barusan? Seorang Ardi cemburu kepada Barabas?

Nadine mengangkat dagu sedikit lebih tinggi ketika wajahnya sudah berhadapan dengan Barabas. Barabas yang tahu itu hanya terkekeh pelan, sudah jelas kepo tapi masih bersikap bodo amat ya begini.

"Tahu apa lo?" sinis Nadine yang terus meninggikan dagunya.

"Gue juga cowok kali Nad, asal lo tahu tindakan gue di kantin itu cuman ingin memastikan sesuatu dan ternyata dugaan gue benar," Nadine menatap Barabas dengan tampang bingungnya.

"Sebenarnya gue udah punya pacar di Bandung, gue kemarin ngelakuin itu cuman pengen tahu reaksi Ardi dan ternyata sesuai dengan harapan gue," ujar Barabas sambil menganggukkan kepalanya.

"Lo udah punya pacar?" tanya Nadine sedikit meninggikan suaranya.

"Udah lah yakali muka cakep kayak gue kagak laku," sombong Barabas dan mendapat pukulan di tangannya oleh Nadine.

"Ardi suka sama lo, jadi saran gue lebih baik lo dengerin apa yang mau Ardi bicarain sama lo," setelah mengatakan itu Barabas pergi melenggang begitu saja meninggalkan Nadine yang masih diam mematung di tempatnya.

"Ardi suka gue?" gumam Nadine sambil menunjuk dirinya sendiri.

Namun sedetik kemudian Nadine menggelengkan kepalanya, entah Nadine harus senang atau tidak setelah mendengar perkataan Barabas barusan, itu kan hanya pandangan Barabas saja mengenai perilaku Ardi akhir-akhir ini. Tidak benar adanya jika Ardi yang tidak mengatakannya.

"Nggak! Gue nggak boleh berharap lagi," ujar Nadine meyakinkan dirinya untuk bisa lebih kokoh dari sebelumnya.

------

Bel sudah berbunyi menandakan jika jam pelajaran sudah berakhir, surga kedua bagi para murid yang sudah lelah belajar seharian. Semua murid di kelas Gatara bersorak senang, mereka semua terbebas dari beban yang sedari tadi menimpa mereka.

"Oke anak-anak sampai disini dulu pertemuan kita dan sampai jumpa lagi, oh iya untuk Gatara jangan lupa temui saya di kantor setelah ini," ujar Bu Bekti yang diangguki oleh Gatara.

About Time (End) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang