Gatara tidak baik-baik saja

35 18 11
                                        

Dengan tergesa-gesa Gatara memasuki rumah sakit yang tidak jauh dari sana, pikirannya sedang kacau saat ini, bahkan Gatara tidak berminat menjawab panggilan dari Ardi yang mungkin saja sedang menunggu kedatangannya di rumah.

Beberapa tenaga medis sudah bersiap membawa Riyana untuk memasuki ruang UGD, ketika Gatara ingin masuk dia ditahan oleh salah satu suster di sana.

"Mas nya tunggu disini,"

"Saya mohon lakukan yang terbaik," mohon Gatara kepada suster tadi.

Setelah pintu ruang UGD tertutup perasaan khawatir menyelimuti dirinya saat ini, Gatara bersandar di dinding sambil mengacak rambutnya frustasi, kini tubuhnya sudah luruh kebawah sambil bersandar ke dinding, Gatara melipat tangannya di atas kaki kemudian menelungkupkan wajah nya dilipatan tangannya dengan begitu dia bisa menangis sejadi-jadinya.

Gatara sesekali memukuli kepalanya karena dia selalu gagal menjadi pelindung Riyana, apalagi yang melakukannya kali ini adalah Papahnya sendiri.

"Maafin gue Yan, gue gagal jagain lo lagi," lirih Gatara yang terus menyalahkan dirinya sendiri.

Gatara menghapus kasar air matanya yang kemudian dia merogoh ponselnya dan mulai mengetikkan sebuah pesan kepada Abraham dan yang lainnya, dia ingin meminta mereka menjaga Riyana terlebih dahulu untuk saat ini.

Selang beberapa menit dokter yang menangani Riyana keluar, mengetahui itu dengan napas naik turun Gatara langsung berdiri dan bertanya akan kondisi Riyana.

"Untung kamu bawa dia dengan cepat, kalau tidak saya tidak tahu apa yang terjadi. Sepertinya asma dia kambuh dan hal itu yang membuatnya hilang kesadaran, kamu tenang saja sekarang dia baik-baik aja kok," ujar Dokter yang menangani Riyana, sebelum pergi dokter menepuk bahu Gatara beberapa kali.

Gatara menghela napas lega, setidaknya keadaan Riyana saat ini baik-baik saja.

Gatara menghampiri Riyana yang sudah terkulai lemas di brankar dengan bantuan oksigen dan infus yang sudah tertancap ditangan kirinya.

Gatara mengusap kasar wajahnya ketika melihat keadaan Riyana saat ini, tangannya terulur untuk mengusap wajah Riyana yang pucat dengan bergetar. Kemudian Gatara duduk di kursi yang tersedia dan menggenggam tangan Riyana guna memberitahu bahwa dirinya tidak sendirian.

"Sekali lagi maafin gue Yan," lirih Gatara meminta maaf untuk kesekian kalinya.

Sering kali juga Riyana keluar masuk rumah sakit karena penyakitnya yang selalu kambuh dan beberapa hari juga dia harus diopname di rumah sakit.

"Ta gimana keadaan Riyana?" tanya Ambara khawatir yang baru saja datang disusul yang lainnya.

"Sejauh ini dia baik-baik aja," jawab Gatara pelan dengan pandangan yang masih tertuju pada Riyana.

"Kenapa bisa gini Ta?" tanya Nadine dengan meninggikan suaranya, Barabas langsung menahan tubuh Nadine ketika dia ingin maju menghampiri Gatara.

"Lo sebenarnya bisa nggak sih jagain Riyana hah?" lanjut Nadine yang membuat Gatara semakin menyalahkan dirinya atas kejadian ini.

"Maafin gue," lirih Gatara.

"Nad udah, lo jangan salahkan Gata. Lo tenang ya kita bicarakan baik-baik," lerai Abraham ketika melihat Nadine yang mulai tersulut emosi.

"Gue minta kalian jagain Riyana dulu," ujar Gatara seraya berdiri dari kursinya dan melenggang pergi meninggalkan teman-temannya.

"Lo mau kemana?" tanya Ardi yang sedari tadi hanya menunggu di luar.

"Ada urusan sebentar, gue pinjem motor lo Di," ujar Gatara sambil menangkap lemparan kunci motor dari Ardi.

Gatara mengendarai motornya dengan kecepatan di atas rata-rata, tidak terlalu banyak pengguna jalan karena mengingat jam sudah menunjukkan pukul satu dini hari.

About Time (End) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang