Dibalik dinginnya sikap Ardi

63 39 2
                                        

Malam sudah menunjukkan pukul 10 malam, tapi seorang Ardi Pradipta masih setia di tempatnya. Dia memperhatikan batu nisan yang bertuliskan nama 'Aqeela Nadhar', sudah beberapa tahun tapi Ardi belum bisa melepaskan bayang-bayang tentangnya.

Aqeela Nadhar, gadis riang dengan tampang biasa saja namun bisa membuat semua orang tertarik kepadanya, gadis dengan lesung pipit nya yang manis, serta gadis yang pernah terukir namanya di hati Ardi.

Tapi kini gadis itu pergi dari hidupnya, pergi untuk selamanya. Ardi tidak pernah berpikir untuk kehilangan Aqeela begitu cepat, rasanya baru saja dia melihatnya kemarin dan keesokan harinya dia harus kehilangan sosok Aqeela.

Ardi membuka surat pemberian Aqeela untuk yang terakhir kalinya, surat tentang isi hati seorang Aqeela, dia merindukan gadisnya, dia merindukan senyumnya, tapi kini semuanya hanya tersisa kenangan.

Ardi memejamkan matanya dan dengan begitu bayangan Aqeela berputar di otaknya.

Ardi menggenggam tangan Aqeela yang berbaring lemah di brangkar, Ardi menggenggamnya begitu hangat dia tidak ingin melepasnya karena dia begitu menyayangi Aqeela.

"Ar-di," ujar Aqeela pelan dengan napas tersengal-sengal.

"Qeela sayang Ardi, cinta sama Ardi, Qeela ha-rap Ardi juga merasakan yang sama. Qeela mohon cintai Qeela sel-lamanya,"  ujar Aqeela dengan terbata-bata, Ardi mengangguk serta menguatkan genggaman tangannya.

"Iya, gue bakal terus cinta sama lo, jadi gue mohon lo bertahan ya Qeel," ujar Ardi dengan terus menggenggam tangan Aqeela yang terasa dingin.

"Qeela ud-ah nggak kuat, Qeela pergi ya, Ardi harus ingat perkataan Qeela," ujar Aqeela lirih yang membuat Ardi menggeleng tegas sebagai penolakan.

"Nggak Qeel, lo kuat, bertahan ya buat gue dan orang tua lo, gue mohon sama lo," ujar Ardi memohon agar Qeela tidak meninggalkannya sendirian begitu saja.

"Mah, Pah, maaf aku belum bisa jadi apa yang kalian mau, te-terima kasih telah menjaga Qeela, Qeela sayang kalian,"  Aqeela menatap sendu orang tuanya yang sudah terisak di sana, Ardi semakin dibuat takut dengan segala racauan yang Aqeela keluarkan.

"Qeela nggak ku-at lagi," Aqeela semakin merasakan sesak di dadanya dan hal itu membuat Ardi meneteskan air matanya.

"Qeela jangan pergi, Mamah sama Papah masih butuh Qeela," kedua orang tua Aqeela memohon kepadanya dengan air mata yang sudah berderai.

"Qeela nggak ku-at," Ardi semakin terisak di tempatnya sambil menggenggam tangan Aqeela.

"Mah, Pah, Ardi, Qeela pergi," setelah itu tangan Aqeela melemas dan kedua matanya tertutup rapat untuk selamanya.

"Qeela bangun gue mohon," ujar Ardi memohon kepada Aqeela yang sudah tenang di alam sana, Ibu Aqeela semakin terisak di pelukan suaminya.

Ardi menekan tombol dekat brangkar agar segera datang bantuan untuk Aqeela. Tangan Ardi terus mengguncang bahu Aqeela untuk bangun lagi.

About Time (End) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang