Nadine dan Barabas

64 33 14
                                        

Nadine berjalan lesu di trotoar jalanan dia memilih tidak menaiki angkutan umum karena ingin sejenak menyendiri dan berpikir jernih, Nadine tidak berbohong jika perasaannya saat ini hancur, tapi apa boleh buat ini juga kesalahan nya sendiri.

Bukankah mencintai adalah seni menyakiti diri sendiri?

Nadine sesekali menarik napas panjang, dia selalu meyakinkan dirinya untuk bisa melupakan Ardi dari pikirannya namun ternyata nihil. Ardi masih tetap sama menempati hatinya tidak ada yang berubah meski Ardi sudah menyakiti Nadine.

Nadine merogoh ponselnya dan membuka laman instagram nya, dia mencari nama Ardi Pradipta di kolom pencarian.

Nadine melihat beberapa foto Ardi yang semakin membuat dadanya sesak, sebegitu menyakitkan kah mencintai Ardi? Pikir Nadine.

Karena tidak ingin berlarut dengan kesedihan nya Nadine menyimpan kembali ponselnya di dalam tas. Saat hendak menyebrang Nadine mendengar ada suara kegaduhan dari pertigaan yang sepi orang.

Nadine menghampiri jalanan tersebut dan di sana ada seorang laki-laki yang sepertinya sedang di todong pisau oleh preman.

Nadine berlari ke arah kejadian dan melupakan rasa sakit yang ada di kakinya, entahlah pikirannya selalu di penuhi dengan kejadian dirinya dulu jika melihat tindakan kriminal seperti ini.

"Gue nggak ada uang lagi," ujar laki-laki yang di todong pisau, laki-laki itu sudah lemas di tanah.

"Ah gaya lo, sini mana dompet lo," ujar salah satu preman yang ada mencoba merampas paksa dompet laki-laki itu.

"Woy!" sentak Nadine yang membuat dua orang preman tadi mengalihkan pandangannya kearah sumber suara.

"Nggak ada hujan nggak ada angin kita disamperin sama cewek cantik nih," ujar salah satu preman itu sambil tersenyum meremehkan.

"Kalian lepasin dia," tunjuk Nadine ke arah laki-laki yang sudah terduduk dengan memegangi perutnya, laki-laki tadi langsung mendongak menatap Nadine.

"Oh mau jadi pahlawan ternyata," ujar preman tadi yang diakhiri oleh tawanya.

"Ck! Lepasin sekarang itu anak, kalau kalian nggak mau babak belur," sinis Nadine yang membuat preman tadi tertawa kencang.

Nadine menatap sekeliling, jalanan yang sangat sepi orang mengapa laki-laki ini mau melewati jalanan seperti ini? Heran Nadine.

"Kita bakal lepasin orang ini asal kamu ikut kita," goda preman tadi yang membuat Nadine geram.

"Mah, maafkan Nadine," gumam Nadine, dengan sekali hentakan Nadine menendang salah satu preman itu.

Nadine begitu mahir bertarung bahkan pisau yang dipegang preman tadi sudah Nadine buang menggunakan kakinya. Pertarungan antara Nadine dan dua preman tidak bisa dihindari, lagian Nadine juga ingin sedikit meluapkan emosinya, hanya sedikit tidak banyak.

Nadine tidak bisa bertarung secara maksimal, karena tangan dan kakinya masih terluka, bahkan tangannya kini sudah mengeluarkan darah segar kembali.

"Nggak sia-sia gue ikut pelatihan taekwondo," ujar Nadine bangga karena sudah melumpuhkan dua preman ini.

"Pelajaran bagi kalian yang suka merendahkan perempuan," sinis Nadine didepan dua preman yang sudah terkapar di jalanan.

Nadine membantu laki-laki yang membawa koper itu untuk berdiri, Nadine juga memapah tubuh laki-laki itu yang lebih tinggi dirinya. Nadine merasa puas karena emosinya sedikit tersalurkan malam ini.

"Ma-makasih," ujar laki-laki itu dengan terbata-bata karena menahan sakit di bibirnya.

"Santai aja kali, lo nggak apa-apa kan?" tanya Nadine sambil meneliti keadaan laki-laki ini.

About Time (End) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang