Titik terang masalah Tariana

31 15 6
                                        

Bima mendapat pesan dari Malbi yang memang bertugas memimpin penyerangan basecamp Ferrox kalau taktik mereka sudah bisa membuat Ibra mengalihkan perhatiannya. Bima menatap pintu ruang rawat Bunga yang kemudian membuat Bima tersenyum, ternyata bibit kelicikan dari ibunya menurun sempurna kepada dirinya.

Bima melihat ada beberapa yang berjaga di sana meninggalkan pintu ruangan dimana tempat menjadi ruangan Bunga adik Ibra. Tariana yang melihat itu hanya bersembunyi dibalik tubuh tegap Bima.

"Bima gue takut," ujar Tariana sambil meremas tangan Bima yang berada di genggamannya.

"Lo tenang aja ya, keadaan terkendali," ujar Bima lembut agar mengurangi rasa takut Tariana.

Bima menarik tangan Tariana untuk menuju ruang rawat Bunga yang berada tidak jauh dari sana. Bima memutar kenop pintu, dengan begitu bau obat langsung menyeruak memasuki indera penciuman mereka berdua.

Tariana tertegun untuk beberapa saat ketika melihat tubuh Bunga yang terkulai lemas di brankar rumah sakit, dengan langkah pelan Tariana mulai mendekat ke arah Bunga.

Bibirnya bergetar menahan tangis begitupun juga dengan tangannya yang ikut bergetar, Bima yang melihat itu langsung membantu menopang tubuh Tariana dia takut jika tubuhnya langsung ambruk.

Semakin mendekati Bunga semakin terisak lah Tariana di tempatnya, Bima langsung mengusap pelan bahu Tariana. Bima menarik kursi yang ada di sana untuk Tariana.

"Bunga, lo apa kabar?" tanya Tariana sambil terisak ditempatnya ketika melihat Bunga setelah 2 tahun lamanya.

"Gue kangen sama lo," tangan Tariana menggenggam tangan Bunga yang bebas dari infus.

"Maaf gue baru datang sekarang, gue nggak bermaksud untuk nggak datang jenguk lo, tapi gue lagi dalam kondisi nggak baik-baik aja," Bima mengusap lembut bahu Tariana ketika mendengar cerita perempuannya itu.

"Tapi lo nggak usah khawatir gue ada di sini sekarang, sesuai janji kita dulu kalau kita nggak akan terpisahkan," lanjut Tariana sambil menyeka kasar air matanya.

"Lo sadar dong, gue kangen banget sama lo," mohon Tariana sambil terus mengusap pelipis Bunga.

Bima yang melihat itu hanya terdiam saja dia tidak tahu harus berbuat apa selain memberikan kekuatan kepada Tariana.

------

Gatara memarkirkan motornya sembarang tempat, kakinya sedikit berlari untuk menuju gedung tua tidak terpakai itu. Dengan napas tersenggal-senggal kini Gatara sudah sampai didepan gedung tua itu.

Brak!
Gatara menendang pintu didepannya begitu sudah sampai di sana, dengan terus berlari kakinya sudah sampai di beberapa ruangan yang dia sendiri tidak tahu keberadaan Riyana dimana. Karena ruangan di sana memiliki tiga ruangan.

"Riyana lo dimana?" teriak Gatara sekuat tenaga agar Riyana dapat mendengar suaranya.

Teriakan Gatara menggema di seluruh ruangan, Riyana yang awalnya sadar tidak sadar kini matanya sudah terbuka lebar, dia mengenali suara itu, suara yang sangat familiar di telinganya, suara yang selalu Riyana harapkan kedatangannya.

"Dia datang," ujar Baim ke-ketiga temannya yang kini sudah bersiap di tempatnya.

Baim di sana langsung mengambil tongkat bisbol yang memang sengaja dia persiapkan untuk melawan musuhnya dan salah satu dari mereka juga membawa tongkat besi.

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
About Time (End) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang