Pagi ini, tepat pukul 06.25, sinar matahari baru saja menembus tirai tipis kamar kontrakan kecil yang menjadi satu-satunya tempat pulang bagi seorang gadis bernama Shin Risa. Udara masih dingin, suasana sunyi, hanya terdengar suara jam dinding yang berdetak pelan, menemani rutinitas pagi yang selalu ia jalani seorang diri.
Risa berdiri di depan cermin kecil yang catnya mulai terkelupas, mengenakan seragam sekolah dengan rapi meski warnanya tak lagi secerah dulu. Rambut hitamnya yang panjang ia rapikan sederhana, lalu jemarinya meraih sebuah liptint murah yang sudah hampir habis. Ia memoleskannya tipis di bibir kecilnya, bukan untuk bergaya, melainkan agar wajahnya tak terlihat terlalu pucat ketika bertemu orang-orang di sekolah.
Risa adalah gadis yang cantik dengan caranya sendiri, meski hidupnya jauh dari kata mudah. Ia hidup sendirian sejak kedua orang tuanya meninggal dunia karena kecelakaan beberapa tahun lalu. Seluruh keluarganya tinggal jauh darinya, dan tak satu pun yang benar-benar bisa ia andalkan. Dahulu, ayah Risa adalah seorang pengusaha kaya, hidup mereka berkecukupan, bahkan berlebih. Namun semua itu runtuh dalam sekejap. Hutang-hutang yang ditinggalkan orang tuanya membuat seluruh aset dan perusahaan mereka disita, menyisakan Risa dengan kenyataan pahit yang harus ia hadapi sendiri.
Kini, Risa tinggal di kontrakan kecil dengan dinding yang mulai lembap dan atap yang sering bocor saat hujan. Meski begitu, ia tidak pernah mengeluh. Ia adalah gadis yang mandiri dan keras kepala dalam hal bertahan hidup. Di sela-sela sekolah, ia bekerja paruh waktu demi mencukupi kebutuhannya sendiri, meskipun tubuhnya sering kelelahan dan pikirannya tak pernah benar-benar beristirahat.
Suasana sekolah pagi itu masih lengang ketika Risa sudah duduk di bangkunya, sibuk menyelesaikan tugas yang belum sempat ia rampungkan kemarin. Namun ketenangan itu mendadak buyar ketika sebuah suara teriakan menggema dari luar kelas.
"Risaaaaaaa!"
Sontak seluruh murid di dalam kelas menoleh ke arah pintu dengan ekspresi beragam, dari heran sampai kesal. Risa sendiri langsung mendesah pelan, tanpa perlu menoleh ia sudah tahu siapa pemilik suara itu.
"Li, apaan sih! Masih pagi tau, gak usah teriak-teriak segala!" sahut Risa dengan nada kesal.
Seorang gadis dengan senyum lebar langsung berlari masuk ke kelas dan tanpa rasa bersalah memeluk Risa dari belakang dengan sangat erat. "Gue kangen banget sama lo tau gak?!" ujarnya penuh dramatis.
"Astaga, Lili... baru juga sehari libur sekolah. Udah ih, lepas. Gue lagi ngerjain tugas ini. Lo udah belum?" Risa berusaha melepaskan diri dari pelukan sahabatnya yang nyaris membuatnya kehabisan napas.
Gadis itu bernama Park Lisa Axiana, sahabat Risa sejak masa SMP. Semua orang memanggilnya Lisa, atau Lili. Lisa memang dikenal agak 'ajaib'-sedikit gila, terlalu ekspresif, tapi justru itulah yang membuatnya disukai banyak orang. Tingkahnya sering kelewat batas, namun kehadirannya selalu berhasil mencairkan suasana.
"Belom... liat dong, Ris. Lo kan baik." kata Lisa sambil mengedipkan mata, jelas berniat menyontek.
Mendengar itu, Risa refleks menyembunyikan bukunya. "Dih, enak aja."
"Yaelah, bentar doang. Mumpung masih pagi." Lisa tetap berusaha merebut buku itu.
Risa menahan tawa. "Panggil gue Risa cantik, Risa pintar, Risa baik, Risa ramah. Pake senyum yang niat."
Dengan wajah terpaksa dan senyum yang jelas dipaksakan, Lisa menuruti permintaan itu. "Iya... Risa cantik, Risa pintar, Risa baik, Risa ramah. Sekarang liat dong tugasnya."
Risa terkekeh kecil sebelum akhirnya menyerahkan bukunya. Ia memang tak tega melihat Lisa dimarahi Pak Yuta, guru yang terkenal galak itu.
"Makasih ya monyet! Lo sahabat terbaik gue!" teriak Lisa kegirangan sambil kembali ke bangkunya yang tepat berada di sebelah Risa.
Beberapa menit kemudian, bel sekolah berbunyi nyaring, disusul kedatangan Pak Yuta yang masuk kelas tepat waktu seperti biasa. Semua murid segera duduk rapi.
"Selamat pagi, anak-anak."
"Pagi, Pak."
"Tugas minggu lalu sudah selesai? Kalau sudah, kumpulkan ke ketua kelas."
Tanpa perlu dikomando, satu per satu murid menyerahkan buku mereka ke Risa. Ya, seperti dugaan kalian, Risa adalah ketua kelas 12-2.
"Eh, pelan-pelan dong. Pusing gue." gumamnya sambil menyusun buku-buku itu dengan rapi sebelum membawanya ke meja guru. "Ini tugasnya, Pak."
Waktu istirahat tiba, dan perut yang sejak pagi kosong mulai menuntut haknya. Risa dan Lisa kini duduk di kantin sekolah yang cukup ramai.
"Ris, mau pesen apa?" tanya Lisa.
"Mie ayam sama es teh aja."
"Siap."
Risa menunggu di bangku kantin sambil mengamati sekitar. Namun entah mengapa, dadanya terasa tidak nyaman. Ada perasaan aneh, seperti sedang diperhatikan dari kejauhan. Ia menoleh ke berbagai arah, tapi tak menemukan apa pun yang mencurigakan.
"Lo kenapa? Kok bengong?" tanya Lisa ketika kembali membawa makanan.
"Gue ngerasa kayak ada yang ngawasin gue."
Lisa ikut menoleh sejenak sebelum mengangkat bahu. "Ah, perasaan lo aja kali. Ini kan kantin, rame."
"Iya... mungkin."
Risa mencoba mengabaikan perasaan itu dan melanjutkan makan.
Menjelang sore, Risa merasa tubuhnya semakin tidak enak. Kepalanya pusing, pandangannya sedikit berkunang-kunang. Atas saran Soobin, wakil ketua kelas, Risa akhirnya dibawa ke UKS oleh Lisa. Setelah diberi roti dan teh hangat, ia berbaring, mencoba memejamkan mata meski pikirannya terus berputar.
Pelajaran akhirnya usai, dan Risa bersiap pulang.
"Kerumah gue aja yuk." ajak Lisa.
"Gak usah. Gue masih ada kerjaan."
"Jangan capek-capek."
Risa hanya tersenyum.
Di halte bus dekat sekolah, Risa duduk sendirian. Lima belas menit berlalu, namun bus tak kunjung datang. Ia sibuk memainkan ponselnya, mencoba mengalihkan rasa gelisah yang entah sejak kapan muncul.
Sampai akhirnya, seseorang berpakaian serba hitam berdiri tak jauh darinya. Awalnya Risa mencoba berpikir positif, mungkin hanya penumpang lain. Namun langkah orang itu semakin mendekat, membuat Risa ikut bergeser menjauh.
Dan sebelum sempat bereaksi-
"Aaaaa!"
Tangan kasar menutup mulut dan hidungnya. Risa meronta, berteriak, tapi suasana halte yang sepi membuat suaranya menghilang begitu saja. Dunia perlahan menggelap, dan kesadarannya pun hilang.
Ketika membuka mata, Risa merasakan seluruh tubuhnya pegal. Ia berada di sebuah kamar dengan nuansa gelap yang asing. Pintu terkunci dari luar. Jam dinding menunjukkan pukul 20.20.
Ketakutan mulai merayap di dadanya.
Tak lama kemudian, pintu terbuka. Seorang wanita paruh baya masuk membawa makanan dan pakaian.
"Selamat malam, Nona."
"Nona?" Risa berdiri gugup. "Siapa? Ini dimana?"
Wanita itu hanya tersenyum. "Panggil saya Bibi Jung."
Risa semakin bingung.
Setelah mandi dan berganti pakaian, Risa keluar dari kamar mandi-dan napasnya seketika tercekat. Di pinggir ranjang, duduk seorang pria dengan aura dingin, wajahnya tertunduk pada layar ponsel.
"S-siapa...?"
KAMU SEDANG MEMBACA
MAFIA || KTH [END]
FanfictionTAHAP REVISI ULANG ini juga cerita pertama ku, maklum ya kalo rada aneh . . Shin Risa seorang gadis cantik dan ceria yang masih duduk dibangku sekolah menengah atas tiba tiba saja di culik saat pulang sekolah oleh seorang namja yang sangat asing b...
![MAFIA || KTH [END]](https://img.wattpad.com/cover/272808425-64-k449579.jpg)