"S-siapa?" tanya Risa gugup karena pria itu terlihat sangat menyeramkan.
Tatapan pria itu terangkat perlahan dari layar handphonenya, matanya menatap Risa dengan sorot yang tajam dan dingin. Tatapan itu membuat Risa merasa seperti sedang ditelanjangi, dinilai, dan dikuasai tanpa perlu satu kata pun keluar dari mulut pria tersebut. Rasa takut yang sejak tadi ia tahan akhirnya memuncak. Tanpa berpikir panjang, Risa memutuskan untuk masuk ke kamar mandi lagi, langkahnya terburu-buru, tangannya gemetar saat menutup pintu.
Di kamar mandi Risa hanya diam di depan kaca kamar mandi. Ia menatap bayangan dirinya sendiri, wajah pucat dengan mata yang tampak lebih besar dari biasanya karena ketakutan. Keheningan di ruangan itu begitu menekan sampai suara kecil dari perutnya terdengar jelas, memanggil untuk di isi. Risa lapar, sangat lapar. Sejak siang tadi ia hanya makan saat istirahat di kantin sekolah, dan setelah itu semua kejadian buruk datang bertubi-tubi tanpa memberi waktu tubuhnya untuk beristirahat atau mencerna apa pun dengan tenang. Namun di saat yang sama, rasa lapar itu bercampur dengan ketakutan. Risa bertanya-tanya, bagaimana cara ia keluar dari sini?
"Keluar?" Suara yang terdengar sangat dingin di depan pintu kamar mandi.
Tubuh Risa langsung menegang. Suara itu terdengar dekat, terlalu dekat, seolah pria itu berdiri tepat di balik pintu, menunggu tanpa kesabaran.
"S-siapa?" Risa menatap pintu kamar mandi dengan kaki yang bergetar. Lututnya terasa lemas, telapak kakinya dingin menempel di lantai keramik.
"Keluar," ucapnya sangat dingin.
"Gak," bales Risa dengan suara gemetar, sekarang ia sangat takut. Pertanyaan siapa pria itu dan apa urusan dengan dirinya terus berkeliaran di kepala Risa tanpa henti, membuat pikirannya semakin kacau dan sulit bernapas dengan normal.
"Keluar."
Suara itu kembali terdengar, lebih tegas. Risa menelan ludah dengan susah payah. Dengan kaki yang masih gemetar, ia memberanikan diri melangkah ke arah pintu dan membuka pintu dengan sangat perlahan. Di sana terlihat seorang pria yang berdiri dengan wajah datar dan dinginnya, tatapannya langsung mengunci Risa di tempat.
"Makan."
Seseorang itu menarik tangan Risa dengan sangat kasar rasanya Risa hampir saja terjatuh. Tubuhnya tersentak ke depan, keseimbangannya hampir hilang karena tarikan mendadak itu.
"Gak, gak mau!" Risa menolak, padahal ia sekarang merasa sangat lapar. Risa berusaha menjauhi pria itu yang Risa bahkan tidak kenal. Tapi sialnya tidak bisa, pria itu memegang pergelangan tangan Risa dengar sangat erat, seolah tidak memberi pilihan lain selain menuruti perintahnya.
"Sa... sakit."
Suara telpon berbunyi, pria itu segera mengambil handphone dari saku celananya. Risa berharap, untuk sepersekian detik saja, pria itu akan melepaskannya. Namun harapan itu langsung hancur.
Setelah melihat handphonenya, ia mencengkram erat kedua bahu Risa, gila cengkraman yang sangat kuat, membuat Risa meringis sakit. "Makan! jika sampai tidak habis, akan lebih sakit dari ini.." setelah mengucapkan itu ia pergi begitu saja, meninggalkan Risa yang masih berdiri kaku di tempatnya.
Risa memegang kedua bahunya, rasanya sangat menyakitkan di cengkram seperti itu. Tangannya gemetar, napasnya terengah, dan air matanya mulai mengalir tanpa bisa ia tahan.
Tak lama Bibi Jung masuk ke kamar. "Nona," panggilnya.
"Bi, jangan panggil Nona, panggil Risa aja," pinta Risa, pasalnya sudah sangat lama ia tidak pernah mendengar dirinya dipanggil nona sejak kedua orang tuanya sudah tidak ada lagi. Ia tidak terbiasa lagi dengan panggilan itu. Rasanya aneh dan membuat Risa sedikit dejavu dengan masalah lalunya.
KAMU SEDANG MEMBACA
MAFIA || KTH [END]
FanfictionTAHAP REVISI ULANG ini juga cerita pertama ku, maklum ya kalo rada aneh . . Shin Risa seorang gadis cantik dan ceria yang masih duduk dibangku sekolah menengah atas tiba tiba saja di culik saat pulang sekolah oleh seorang namja yang sangat asing b...
![MAFIA || KTH [END]](https://img.wattpad.com/cover/272808425-64-k449579.jpg)