7

15 13 0
                                        


    Tiga puluh menit setelah melaksanakan shalat subuh, biasanya aku akan kembali merebahkan tubuhku sambil membaca buku. Tapi, hari ini aku akan membuat sarapan untuk Ardi sebagai bentuk terima kasih karena sudah diterima diperusahaannya. – hanya sebagai alasan saja.

    "Tumben pagi-pagi udah didapur," ucap ibu yang memang sedang memasak.

    "Lagi latihan bu." Aku minum didalam kulkas.

    "Latihan apa?"

    "Ya, latihan masak lah bu!"

    "Makanya kalau ibu, lagi masak itu diliatin. Biar kamu bisa, kamu itu harus bisa masak! Kamu tahu tetangga kita yang baru nikah itu, Bu wati suka ngomongin menantunya yang tidak bisa masak itu. Memangnya kamu mau di omongin kaya gitu?"

    Aku memberengut kesal.

    "Ya, enggak lah. Bu. terus ibu percaya sama omongannya bu wati? Belum tentu kan menantunya itu tidak bisa masak. Mungkin dia belum pro kaya ibunya."

    "Ya, ibu. Hanya ngasih tahu kamu aja. Ibu nyuruh-nyuruh kamu itu bukannya tidak ada alasannya. Tapi demi kebaikan kamu juga. Ibu gak mau, anak ibu gak bisa masak. Dan gak mau di omongin kaya gitu."

    "Ya, itu mah. Mertuanya aja yang cerewet."

    "Cerewet atau enggak. Kamu harus bisa masak! Nanti suami kamu mau di kasih apa kalau kamu gak bisa masak?"

    Berdebat dengan ibu capek sendiri, ujung-ujungnya aku sendiri yang tidak bisa berkutik. Lagian apa yang ibu katakan benar. Aku menghela nafas lelah.

    "Memangnya kamu mau masak apa?" tanya ibu.

    "Gak tahu. Ibu lagi masak apa?"

    "Lagi bikin nasi goreng, sama ayam goreng." Ibu memang sedang mengaduk-aduk nasi.

    "Yaudah, deh. Aku mau nasi goreng aja sama ayam goreng."

    Aku langsung mengambil tempat makan. Senyumku terbit mengingat ini adalah misi untuk mendapatkan hati Ardi, sebenarnya aku ragu melakukan ini. Setelah kemarin Ardi menolak kopi buatan ku. Mungkin aku akan menyimpannya di atas meja.

***

    Seperti biasa aku membersihkan ruangan Ardi terlebih dahulu. Setelah semua sudah rapih, aku mengambil kotak makan yang telah aku siapkan. Aku menyimpannya diatas meja, dan aku juga menuliskan surat diatasnya. Sungguh aku malu jika harus memberikannya langsung, aku belum siap untuk ditolak secara langsung. – semoga dimakan.

    Aku sudah berkutat dengan komputer. Ada beberapa hal yang harus aku kerjakan dan itu harus selesai sebelum istirahat.

***

    Ardi memasuki ruangannya. Setelah mendekati meja,dan menyimpan tasnya. dahinya berlipat. Dia melihat sebuah tempat makan, dan sebuah note. 'Untuk Pak Ardi'. Ardi mengambil tempat makan itu, mengamati secara seksama. Kemudian membuka kotak makan itu, yang isinya nasi goreng dan ayam goreng. Kemudian menutupnya kembali.

    Siapa yang menyimpan bekal ini?

    Matanya tertuju pada pintu penghubung dengan ruang sekertarisnya. Ardi beranjak dari sana untuk menanyakan siapa yang menyimpan bekal ini. Dilihat Rere sedang fokus bekerja, tidak lupa dengan kacamatanya.

    Ardi berdehem pelan.

    Rere menoleh ke sumber suara. Dengan senyum yang lebar, Rere menyapa Ardi dengan ramah.

    "Ada apa, Pak?" Ardi masih di ambang pintu.

    "Siapa yang menyimpan bekal ini di meja saya?" ardi menunjukan kotak makan itu.

    "Ah, itu – pak..." aku menggaruk belakang kepala. "Mmm... itu dari saya, Pak. Sebagai tanda terima kasih, karena bapak sudah menerima saya sebagai sekertaris bapak."

    Ardi mengangkat sebelah alisnya.

    "Kalau mau memberikan tanda terima kasih, bukan kaya gini caranya!"

    Aku menundukan kepalaku. Ardi benar-benar menolak pemberianku, apalagi meilhat wajahnya yang datar.

    Aku menghembuskan nafas.

    Ardi berdiri di depanku dan menyimpan kotak makan itu di hadapanku.

    "Kamu traktir saya, apa yang saya mau." ucapnya pelan.

    Aku mendongakkan kepala ku. Aku melihat Ardi tersenyum menyeringai, membuat aku takut. Aku meneguk salivaku.

    Kemudian Ardi kembali ke ruangannya. Dan aku mencerna apa yang dikatakan Ardi barusan. Mentraktir apa yang dia mau?

    Aku menyandarkan tubuhku ke kursi. Bagaimana dia bisa sangat menyebalkan, sudah dikasih hati malah minta jantung. Aku baru tiga hari menjadi sekertarisnya, gajinya saja tidak tahu berapa. Bagaimana dia akan memenuhi permintaan Ardi? apa yang dia mau? Kalau sudah begini gaji pertamanya akan habis sama bos sendiri.

    Tapi tidak apa-apa itu berarti, dia akan pertama kalinya jalan berdua bersama Ardi. aku tidak sabar menunggu sampai hari itu tiba.






Kura-kura In Love

Kura-kura In Love 2Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang