SEBELUM BACA JANGAN LUPA VOTE DAN KOMEN YA TEMEN-TEMEN. GRATIS KOK.
OH IYA MENURUT KALIAN SAMPAI SINI CERITANYA KAYA GIMANA?
Aku menghembuskan nafas secara perlahan. Kemudian tersenyum, akhir-akhir ini suasana hati aku sedang baik. Soal hubungan Aku dan Ardi juga membaik, namun aku belum bisa memastikan bahwa perasaan masih belum baik. Masih ada jarak, tembok yang secara tidak sadar aku bangun. Aku masih takut, untuk membuka lembaran baru dan belum siap untu sakit hati.
Jatuh cinta. Jatuh dan cinta atau cinta kemudian jatuh? Yang pasti aku sempat meyakini bahwa jatuh cinta selalu sakit hati. atau memang karena aku terlalu takut membuka diri? Entahlah.
Saat ini aku hanya ingin fokus dengan karirku. Aku ingin memajukan usaha catering ibu, aku berencana untuk membuka rumah makan. Aku ingin mewujudkan semua keinginan ibuku. Dan untuk mimpiku sendiri, akhir-akhir ini aku mulai terjun lagi ke dunia fotografer. Setelah beberapa tahun yang lalu setelah lulus kuliah, aku berhenti belajar tentang fotografi tapi sekarang aku ingin mendalaminya lagi. Mungkin menjadi seorang food grafer, akan asik.
Kring Kring
Aku mengangkat telepon.
Seakan sudah tahu aku menjawab dengan santai. "Iya ada apa?"
"Ke ruangan segera!" Perintah Ardi.
Aku menutup telepon dan beranjak untuk menemui Ardi diruangannya.
Ternyata di sana sudah ada ayahnya Ardi. "Permisi, Pak Brata." Aku tersenyum dan sedikit menundukkan kepala.
Terlihat Pak Brata membalas senyumanku. "Kemarilah, saya ada tugas untuk kamu."
Pak Brata. Ayah Ardi yang sangat disegani, sikapnya yang berwibawa, berkarisma, dan dingin. Itulah yang aku tahu. Beberapa kali aku sudah bertemu dengan beliau, dan aku masih canggung ketika dihadapannya.
Aku melirik Ardi yang masih berkutat dengan segala berkasnya. "Ini, kamu baca, pelajari." Pak Brata menyodorkan sebuah berkas ke hadapanku. Aku menerimanya.
"Baik, Pak." Aku kembali pamit keruanganku.
Aku pelajari berkas yang diberikan Pak Brata. Ini adalah tugas yang menurutku sangat penting, maksudnya bukan pekerjaan lain tidak penting. Tetapi pekerjaan ini langsung yang menyuruh Bos yang punya perusahaan ini.
Ternyata sudah jam istirahat. Aku merenggangkan sendi-sendi yang kaku ini. kali ini aku melangkahkan kaki menuju mushola terlebih dahulu baru kalau sudah mencari makanan.
Tak di sangka aku bertemu dengan Pak Brata yang baru saja keluar dari mushola. Beliau menghampiriku yang masih memakai sepatu.
"Mau makan siang?" tanyanya.
"Ah, iya pak." Jawabku sudah selesai memakai sepatu.
"Mau bareng?"
"Gak usah pak, makasih."
"Gapapa. Nanti saya traktir, ayo keburu masuk lagi."
"Iya pak." Aku tersenyum canggung. Dan aku mengikuti Pak Brata dibelakangnya.
Ini pertama kalinya aku makan siang bersama beliau. Aku sedikit takut, aku takut tidak sopan atau makanku yang nanti malah membuat beliau ilfil. Apalagi ini orang tua Ardi, calon mertua. Ups, hahaha.
Aku dan Pak Brata memasuki sebuah restoran yang tidak jauh dari kantor. Aku duduk dihadapannya. Beliau langsung memesan makanannya.
"Kamu mau pesan apa?" tanyanya.
Ternyata Pak Brata tidak sedingin dilihat dan tidak semenakutkan apa yang aku pikirkan, dia baik dan juga cukup ramah.
"Nasi timbel aja sama jus jeruk." Ucapku pada pelayan.
Pak Brata sibuk dengan ponselnya. Dan tak lama kemudian Ardi datang, dan duduk di sebelah ayahnya.
"Lho... kirain sendiri,"
"Iya tadi gak sengaja ketemu Rere di mushola, yaudah di ajak makan siang bareng aja."
Ardi hanya mengangguk.
Aku melirik kearah Ardi sebentar, lalu pesanan kami datang.
Sambil makan Pak Brata tidak hentinya mengajak berbicara, aku terkekeh dengan sikapnya. Lagi-lagi aku menemukan fakta baru. Kalau Pak Brata lebih cerewet, daripada Ardi. aku jadi ingat dengan Ayah ku. Aku merindukan saat-saat seperti ini. makan bersama, ngobrol bareng.
"Kalau boleh tahu ayah kamu kerja dimana?" tanya Pak Brata dengan menatapku penasaran.
Aku menghentikan makanku sejenak. Baru aku kepikiran tentang ayahku. "Ayah sudah meninggal sejak aku kecil."
"Ah, maaf." Aku melihat Pak Brata dan Ardi yang sempat terkejut. Beberapa menit lengang, aku, Ardi dan juga Pak Brata menghabiskan makan.
"Kamu udah punya pasangan?" tanya Pak Brata.
"Hm... belum pak,"
"Bagus dong. Tuh, Ardi juga masih jomblo,"
Ardi yang disebut namanya terbatuk, karena terkejut dengan ucapan Ayahnya yang sangat terus terang. Ardi menatapku, kemudian aku menundukan kepalaku. Aku tidak tahu bagaimana wajahku saat ini. sungguh malu.
"Sudah waktunya kembali ke kantor, kalau begitu Ayah pamit ya Ar. Ayah langsung pulang saja, soal projek itu nanti d rumah saja bahasnya." Pak Brata melihat jam tangannya dan segera beranjak dari tempat duduknya.
"Re, pamit ya." Pak Brata kemudian tersenyum
"Iya pak." Aku membalas senyumnya.
Aku menatap kepergian Pak Brata hingga beliau memasuki mobilnya. Aku menghela nafas. Kemudian aku melihat jam yang ada ditanganku. Lalu aku melihat Ardi, sedikit canggung.
"Kalau begitu saya juga harus kembali ke kantor." Aku menundukan kepala.
"Hm... tunggu re!" aku kembali menatap Ardi bertanya.
"Maaf soal tadi," Ardi mengusap tengkuknya.
"Iya gapapa pak, saya mengerti." Aku beranjak dari dudukku dan meninggalkan Ardi.
Aku tersenyum lebar. Aku tidak mengerti apa yang aku rasakan, aku senang apa yang dikatakan Pak Brata. Itu artinya secara tidak langsung jika aku berpacaran dengan aku sudah diterima oeleh keluarganya. Aku terkekeh pelan setelah memikirkan tentang Ardi.Gila.
Vote jangan lupa.
Kura-kura In Love
KAMU SEDANG MEMBACA
Kura-kura In Love 2
عاطفيّةJANGAN LUPA VOTE DAN SHARE YA TEMEN TEMEN SUPAYA AKU TAMBAH SEMANGAT LAGI UNTUK NULIS. Masih melanjutkan cerita kura-kura in love yang pertama. namun disini yang berbeda sudut pandangnya, ada beberapa tokoh baru dan di KKIL 2 ini lebih spesifik menc...
