Senyumku tidak pernah pudar sejak tadi malam. Ralat, sejak kemarin setelah di izinkan oleh Tara. Aku selalu membayangkan bagaimana rasanya bekerja menjadi sekretaris Ardi. Aku harusnya mengetahui fakta bahwa Ardi menginginkan yang menjadi sekretarisnya adalah laki-laki bukan perempuan. dan lihat sekarang Aku sudah memakai pakaian rapi lengkap dengan sepatu flatshoes dan tas yang aku sampirkan dibahuku. Aku sudah berdiri di depan gedung yang menjulang tinggi.
Dengan langkah mantap Aku memasuki gedung itu. Langkahku menjadi pusat perhatian orang-orang yang bekerja disana. Mungkin karena Aku terlihat mencolok dengan pakaianku.
Aku tidak memusingkan itu, Aku terus berjalan.
Aku tidak tahu ada berapa lantai. Tetapi gedung ini lebih tinggi dari kantornya Tara. desain interiornya juga sangat rapi dan minimalis. Ada dua guci besar disisi kanan dan kiri pintu yang otomatis. Masuk kedalam gedung disana ada meja kayu panjang, tempat resepsionis. Persis di depan sana ada sebuah lift, dan sebelah kiri dan kanan terdapat ruangan-ruangan untuk bekerja.
Didekat pintu masuk ada satpam yang berjaga. Aku menundukan kepala sambil tersenyum ramah.
"Permisi. Mbak." Aku menatap dua orang perempuan yang sedang sibuk, lebih tepatnya satu orang.
Aku menyeringai.
Perempuan itu sepertinya lebih tua darinya. Tampilannya sungguh tidak normal maksudnya tidak normal yaitu baju yang super ketat sampai belahan dadanya terlihat, rambut yang dibiarkan digerai dan dandanan yang super menor. Lihat bibirnya seperti sudah memakan mangsa. Memangnya ini tempat untuk pamer badan.
Dan perempuan yang dari tadi sibuk dengan komputernya menoleh. Dia terlihat tidak terpaut jauh umurnya denganku. Dia tersenyum ramah. Dia hanya diam, dia takut dengan perempuan yang ada disebelahnya, senioritas.Perempuan itu menatap Rere dari ujung kaki sampai ujung rambut. Lalu tersenyum smirk.
"Maaf mbak disini tidak ada lowongan."
"Tahu apa mbak? Saya kesini memang ada lowongan kerja!" Tatapanku tidak kalah tajam.
Wanita yang bersebelahan wanita seksi itu tersenyum ramah. "Maaf sebelumnya mbak, memang ada lowongan kerja. Tapi, dibuka untuk laki-laki."
Rere tak lagi menatap wanita seksi itu. Kini beralih menatap wanita yang sangat ramah menurutnya.
"Begitu ya?! Apa ada lowongan lain?" aku mendadak buntu. Ide yang Aku susun tadi malam buyar semua gara-gara perempuan sialan itu.
Perempuan ramah itu kembali bekerja. Di arah pintu masuk, terdengar suara sepatu yang bersentuhan dengan lantai yang mengkilap, wanita seksi itu buru-buru merapikan tatanan rambutnya, lebih tepatnya seperti ingin terlihat cantik oleh 'dia'.
Aku lantas menoleh ke arah belakang, dan betapa terkejut disana Ardi dengan pakaian khas kantor yang terlihat gagah, melangkah namun dia berhenti sejenak, berbicara kepada seseorang tidak tahu siapa. Tanpa sengaja bola mata itu bertemu, menyorotkan kekagetan. buru-buru Aku memutuskan kontak mata.
"Kayanya tidak ada, mbak." ucap wanita ramah itu.
Aku menganggukan kepala. "Makasih mbak. Saya cari ditempat lain."
Aku segera pergi dari sana. Aku belum siap untuk bertemu Ardi, apalagi tatapan tadi. Tetapi bagaimana dengan misinya?
Mengapa ketika bertemu dengan Ardi pikiranku selalu buyar? Ide dan keberaniaan itu kemana?
Aku merutuki diri yang sangat terlihat salah tingkah. Kini Aku sedang berada ditaman sekitar kantor. Aku terus menggerutu kesal dan sesekali mencak-cak. Menendang apa yang ada dihadapanku.
KAMU SEDANG MEMBACA
Kura-kura In Love 2
RomansJANGAN LUPA VOTE DAN SHARE YA TEMEN TEMEN SUPAYA AKU TAMBAH SEMANGAT LAGI UNTUK NULIS. Masih melanjutkan cerita kura-kura in love yang pertama. namun disini yang berbeda sudut pandangnya, ada beberapa tokoh baru dan di KKIL 2 ini lebih spesifik menc...
