Suasana kian mencekam dengan kehadiran tetua Rajendra tersebut. Wanita hamil bernama Indira yang tadi sempat menahan Anna kini tampak dipegangi dikedua sisinya. Anna melihat sisi wajah perempuan tersebut membengkak dan terdapat darah mengalir disudut bibirnya.
Indira menatap Anna dengan raut permohonan sementara bibirnya bergetar mengucapkan kata tolong dengan amat lirih.
"Apa kabar Tante Maharani, saya tidak menyangka bisa bertemu Tante disini" Anna menyapa dengan nada tenang, sementara dua orang pengawalnya sudah berhasil dilumpuhkan
"Saya lebih terkejut dari kamu tentunya. Dan oh, kabar saya baik. Semakin baik kalau kamu menyerahkan keponakan saya itu secara baik-baik" Maharani melirik pengawal Anna yang kini memapah Pangeran.
Anna bergerak tenang menghalangi pandangan Maharani terhadap Pangeran. Terdengar kekehan pelan dari bibir merah Maharani melihat sikap berani Anna.
"Maksud Tante Pangeran? Saya bahkan tidak tahu kalau tunangan saya ini adalah keponakan Tante"
"Ini adalah urusan keluarga Rajendra, jadi biarkan tetap begitu!" Maharani mendesis galak
"Pangeran adalah tunangan saya dan saya berhak untuk ikut campur jika ada yang berniat buruk kepadanya"
"Jaga batasanmu Nona Archer"
Anna mengabaikan nada peringatan yang diberikan Maharani. Tatapannya menyorot Indira yang tampak menyedihkan. "Bukankah disini Tante yang sudah melewati batasan? Penggelapan, pencucian uang perusahaan, kamuflase kecelakaan Mahesa Rajendra, serta percobaan pembunuhan terhadap pewaris Rajendra Grup, keponakan Tante sendiri. Apa itu cukup untuk mengingatkan Tante akan dosa-dosa Tante?"
Maharani mengangkat pistolnya kembali membidik Anna tepat dikepalanya. Tangannya tanpa gentar menekan pelatuk.
"Tembak saya dan saya jamin, Archer Grup lebih dari mampu untuk menghancurkan Rajendra beserta hidup Tante sekaligus" Anna tanpa ragu menyuarakan ancamannya
Bukan tanpa perencanaan, karena saat ini satu tim penuh sedang dalam perjalanan ke lokasi.
"Bajingan keparat!"
Anna menyeringai. "Lepaskan wanita itu Tante, apa Tante tidak takut pion Tante diluar sana akan mengamuk kalau tahu istrinya diperlakukan seperti itu?"
"Diam kamu!"
"Aku hanya mengingatkan"
Maharani menahan getar ditubuhnya. Dipermainkan dan diremehkan oleh anak kecil seperti Anna jelas merupakan penghinaan terhadapnya.
"Lepaskan kami maka saya ak-"
Dor...
"Tante!" Anna menjerit ketika moncong pistol berpindah sasaran. Timah panas ditembakan dan alih-alih menyasarnya, peluru tersebut menyasar seseorang dibelakang Anna.
Anna mengalihkan pertahanan dan langsung menghambur memeriksa Pangeran yang terjungkal kebelakang. Pengawal Anna memang langsung pasang badan, tetapi tetap kalah cepat karena tidak menyangka dengan tembakan tiba-tiba tersebut.
Anna meraih tubuh Pangeran dalam dekapan, berusaha melindungi kekasihnya tersebut meski tahu tak berarti banyak.
"Hnggh...." bibir pucat Pangeran merintih sementara dadanya naik turun cepat tidak beraturan.
"Bertahan Pangeran.... bertahan!" Anna hampir histeris merobek bagian gaunnya dan menekankannya pada lengan Pangeran yang terserempet tembakan Maharani.
Deru napas Pangeran semakin tidak beraturan. Anna tidak tahu bagaimana harus bertindak selain mendekap erat-erat, mencoba menenangkan.
"Saya memang tidak bisa menembakmu, tapi jangan pikir saya tidak bisa melubangi kepala kekasihmu itu!" Maharani tersenyum sinting, tangannya yang memegang pistol gemetaran tetapi sorotnya sama sekali tidak menyesal.
KAMU SEDANG MEMBACA
Memories [END]
Chick-Litwhen you lost your memories and trapped in the obsesion
![Memories [END]](https://img.wattpad.com/cover/270268889-64-k659265.jpg)