Jennie menghentakan kakinya kesal, cowok yang sedang bersama dengan cewek lain itu malah melengos pergi sambil menggenggam tangan cewek lain saat tahu bahwa dirinya akan menghampirinya.
Memijat pelipisnya, ia sedikit merasa frustasi setelah kemarin dengan nekatnya ia malah confess ke Tama. Lihat, sekarang cowok itu bersikap seolah-olah mereka seperti orang asing, berusaha menghindar setiap Jennie menghampirinya. Apa yang salah dengan title cewek confess duluan ke cowok.
Penyesalan memang selalu datang terlambat, sekarang ia baru menyesalinya. Seharusnya Jennie tidak perlu repot-repot menyiapkan dirinya untuk confess pada Tama kalau tahu endingnya akan seperti ini.
Cowok itu bahkan tidak menanyainya seperti biasa, sekedar menyapanya saja tidak, Jennie benar-benar pusing sekarang.
Sementara itu, cewek yang di genggam tanganya oleh Tama mengernyit bingung. Apa yang sebenernya terjadi, kenapa Tama tiba-tiba sekali menggenggam tanganya.
"Wait! Lo kenapa deh?! Aneh banget tiba-tiba begini." Cewek tersebut menghentikan langkahnya, tidak lupa genggaman tanganya yang ia lepas.
Tama menghela nafasnya sambil menyugar rambutnya ke belakang, "Ada Jennie."
"Ya kenapa kalo ada Jennie, biasanya juga nggak kenapa-kenapa kalo ada dia."
Bukanya menjawab pertanyaan yang dilontarkan, Tama malah mengalihkanya dengan mengajaknya membeli minuman. "Lo haus nggak? Mau gue beliin minum?"
"Jadi cowok tuh nggak usah pake nawarin segala bisa? Langsung beliin harusnya."
Tama menjentikan jarinya di depan wajah cewek tersebut. "Gue tau kenapa lo masih sendiri sampe sekarang."
"Nggak usah sok jadi bijak dadakan gitu deh lo, nyadar diri dulu ya, lo juga masih sendiri sampe sekarang."
_____
Jennie menutup gerbang kostnya, sepertinya ia yang terakhir pulang ke kost, karna lampu teras kost sudah gelap. Saat akan berbalik badan ia dikagetkan dengan Tama yang sudah berdiri didepanya.
"Abis darimana kok jam segini baru pulang?" tanya Tama.
"Dari rumah temen." jawab Jennie tanpa melihat Tama, ia merasa harga dirinya jatuh ketika tahu tadi sore Tama dengan terang terangan menghindari dirinya dan malah pergi dengan menggenggam tangan cewek lain.
"Kalo lagi diajak ngomong tuh liat ke orangnya jangan liatin tembok." Tama sedikit terkekeh.
Jennie masih diam tidak menjawab, lihat kan bahkan sekarang Tama dengan sok pedenya terkekeh di depan Jennie, seolah-olah kejadian tadi sore tidak pernah terjadi.
Jennie menatap Tama nyalang, terdapat rasa kekesalan dimatanya dan Tama sadar akan hal itu. Dengan cepat Tama mencium pipi kanan Jennie.
Yang dicium pipinya jelas membulatkan matanya, ia kaget dengan apa yang baru saja Tama lakukan pada dirinya. Sekarang siapa yang bertindak melewati batas kalau bukan Taeyong.
"Sorry, pasti tadi lo marah banget sama gue."
Jennie masih belum mau menjawab apapun dari Tama, pikiranya masih melayang entah kemana. Bagaimana kalau cctv kostnya ternyata sudah diperbaiki, atau jeleknya lagi ibu kostnya langsung yang memergoki mereka berdua.
"Kalo lo merasa risih sama gue, apalagi setelah kemarin gue confess ke lo, lo boleh ngejauhin gue. Toh gue nggak berharap buat dibales, seenggaknya gue udah lega karna udah confess ke lo, udah itu aja."
Tama mengusap puncak kepala Jennie, "2 tahun gue kenal lo di kost ini, gue nggak nyesel."
Jennie mengernyit mendengar penuturan Tama barusan. "Maksudnya?"
