Naya mengeluarkan ponselnya saat ia berhenti disamping Jennie, seperti biasa cewek itu juga pasti sedang menunggu ojek online. Baguslah, jadi Naya ada teman ngobrol sambil nunggu ojek online pesananya.
Naya menyikut lengan Jennie, membuat cewek disebelahnya itu menolehkan kepalanya. "Eh Naya, nungguin Jidan?"
Naya menggeleng, "Enggak, gue lagi nungguin ojek online. Sama kaya lo."
"Tumben, biasanya dijemput sama Jidan."
"Lagi ada urusan sama kantornya, biasalah Jen, oiya, lo juga lagi nunggu ojek online kan?"
"Aduh sorry banget Nay, tapi gue lagi nggak nunggu ojek online."
Naya menautkan alisnya bingung, oh udah ganti mungkin sekarang pakenya buroq online biar lebih cepet. "Nunggu apa dong? Jodoh?"
"Ya ada deh."
Paham akan arah obrolan Jennie kemana, Naya langsung mengembangkan senyumnya. "Tau nih gue! Dijemput cowok lo ya! Cie ada yang baru nih. ekhem."
"Apaan sih, emang gue ngomong dijemput cowok gue."
Larut dalam obrolan santai itu membuat Jennie hampir saja tidak sadar kalau Tama sudah sampai, mobil jeep berwarna hitam itu berhenti tidak jauh dari tempat Jennie dan Naya berdiri.
"Eh Nay, temen gue udah sampe. Mau bareng nggak?" Ajak Jennie sekedar basa-basi aja sebenernya, gak ngarep banget buat Naya mengiyakan ajakanya. Soalnya selepas ini mau quality time sama Tama.
"Terus gue jadi obat nyamuk lo sama cowok lo gitu? Sorry to say Jennie, tapi aku enggak deh."
Jennie terkekeh kecil, "Bukan cowok gue, Naya."
"Ya whatever lah Jen, ojek online gue juga bentar lagi sampe kok. Udah sana buruan udah ditungguin juga." Naya yang gemas pada jennie langsung mendorong Jennie supaya buru-buru menghampiri 'cowoknya' itu.
Jennie duduk disebelah Tama yang sedari tadi selalu memperhatikan Jennie dari mulai lari lari kecil menghampiri mobilnya, membuka pintu mobilnya, kemudian menyapanya, memakai seat belt, lalu terakhir Jennie yang tersenyum lagi ke Tama.
"Asik banget kayaknya tadi."
"Asik apa?" tanya Jennie, melihat Tama yang sedang memutar kemudinya membuat pesona Tama tidak bisa dibantah, perfect.
"Ngobrol sama temen lo, by the way, dia yang pernah main ke kost bukan sih?" Jennie mengangguk.
"Oiya! Pertama kita mau kemana nih?" tanya Jennie sambil membuka layar ponselnya, melihat isi daftar di notesnya. "Ke apotek dulu."
"Jen, itu bisa belakangan."
"Enggak, gue mau ke apotek harus jadi yang pertama. Kalo udah beli obat sama salepnya kan enak, jadi nggak kelupaan. Kalo jalan jalan dulu, nanti yang ada lupa ke apotek karna capek."
Taeyong tersenyum kecil, "Tapi kita sama-sama baru pulang kerja loh, belum pulang ke kostan sama sekali."
"Yaudah nggak apa-apa, itung itung lepas penat."
Hampir saja Tama lupa, "Gue beliin kopi tadi buat lo, sempet mampir dulu. Bisa tolong ambilin nggak? Ada di belakang, gue susah lagi nyetir."
"Thank you boy!" ucap Jennie membuat Tama lagi lagi tersenyum, kalo bisa dihitung hari ini Tama udah berapa kali ya dibuat senyum sama Jennie.
"Thank you boy aja?"
Jennie memiringkan badanya sedikit, memberi kemudahan baginya untuk melihat Tama. "Emang apa lagi?"
KAMU SEDANG MEMBACA
𝐃𝐮𝐚 𝐩𝐮𝐥𝐮𝐡 𝐞𝐦𝐩𝐚𝐭 𝐣𝐚𝐦 𝐭𝐮𝐣𝐮𝐡 𝐡𝐚𝐫𝐢
Fiksi Penggemar𝐉𝐞𝐧𝐲𝐨𝐧𝐠, 𝐝𝐚𝐫𝐤𝐬𝐞𝐭𝐫𝐞𝐬𝐬𝐞𝐮, 𝐣𝐮𝐧𝐢 𝟐𝟎𝟐𝟏
