Something

811 148 47
                                        

"Gue timpuk pala lo Tam pake sendak— eh sendal maksud gue."

"Ngomong aja belum bener, udah banyak gaya mau nimpuk kepala gue pake sendal."

Masih pagi aja Ten sama Tama udah ribut sepanjang perjalanan mau beli nasi uduk, aduh mana Tama cuma pake celana pendek bilabong sama kaos polos hitam. Ten? Kaos kutang kebanggaanya, tapi kali ini beda warna, hari ini lagi sesi warna hitam dulu.

Tama memasukan tanganya kedalam saku celananya, gak tau deh motifnya apa pagi pagi udah tebar pesona aja, padahal yang lewat juga kebanyakan anak kecil.

"Asik nggak?"

Tama menoleh. "Asik? Asik apaan?"

"Ye elo, asik nggak sekarang udah free sexy and single." Ten merangkul Tama, membuat yang dirangkul menepisnya. "Don't touch me!"

Sebuah toyoran kepala Tama dapatkan dari Ten, cowok itu kalo noyor bukan maen tenaganya. "Gaya lo pake don't touch me segala, kelakuan lo aja mepet sana sini."

"Kapan gue mepet sana sini?! Ngarang cerita lo."

"Maksud gue mepet sana sini tuh sama Jennie."

Tama membulatkan matanya kaget, kenapa Ten bisa tahu soal itu, sebelum Ten sadar, Tama menetralkan lagi ekspresi kagetnya.

"Nggak."

"Nggak salah lagi."

"Emang nggak, goblok."

"Ih kasar banget mulutnya, nanti aku aduin Jennie ah, biar kamu tau rasa diomelin sama Jennie."

Tama melirik sinis Ten, aneh banget, kenapa Ten jadi tahu soal dia sama Jennie. Siapa yang ngasih tau? Apa Jennie yang cerita ke Ten? Tapi bukanya Jennie gak deket banget sama Ten, deket sama Lisa mah iya, apa cerita ke Lisa terus Lisa ember ke Ten?

Tama menabrakan bahunya ke bahu Ten, membuat cowok itu sedikit terhuyung ke depan. "Ih mainya labrak labrakan, males ah."

"TEN! Yang ada kepala lo yang gue timpuk
pake sendal."

Lihat, sekarang Ten malah ketawa ngakak, "Tapi beneran kan, lo sama Jennie ada something?"

"Nggak, dibilang nggak ya nggak."

"Alah udah lah, ngaku aja."

"Guru BK lo interogasi gue!"

"Udah buru ngaku, bentar lagi kita sampe di tukang nasi uduknya nih."

"Jaka sembung bawa golok, nggak nyambung goblok."

"Ini Jennie tau nggak sih, kalo Tama tuh congornya liar banget."

Tama gak ladenin Ten, dia lebih milih buat diemin aja. Paham banget modelan kaya Ten semakin di ladenin semakin on fire itu anak bawaanya.

"Gue liat liat, lo setelah putus dari Anya juga jadi lebih happy gitu, badan lo juga gemukan. Apalagi ditambah lagi deket sama Jennie ya, tjiakh, petrus jakandor lah Tam." Seolah belum puas ngeledekin Tama, bibir Ten masih terus ngoceh sampai ia capek sendiri kayaknya.

Tama ngedumel aja dalam hati kenapa dari tadi gak sampai sampai di tukang nasi uduknya, ditambah mulutnya Ten licin banget ngocehnya.

"Lisa naksir sama lo." Sebenernya Tama asal nyeletuk aja, supaya isi otak Ten itu setidaknya teralihkan buat bahas hal lain.

"MASA!!!!!"

"Iya."

"Siapa?"

"Yang nanya."

𝐃𝐮𝐚 𝐩𝐮𝐥𝐮𝐡 𝐞𝐦𝐩𝐚𝐭 𝐣𝐚𝐦 𝐭𝐮𝐣𝐮𝐡 𝐡𝐚𝐫𝐢Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang